Tiga Lokasi di Bali Jadi Percontohan Pendidikan SDM Kesehatan

- Konferensi AAAH ke-14 di Bali menampilkan RSUP Prof IGNG Ngoerah, Poltekkes Denpasar, dan Puskesmas Kuta II sebagai lokasi pembelajaran pendidikan serta pelayanan tenaga kesehatan Indonesia.
- Indonesia akan memanfaatkan hasil konferensi untuk menyusun blueprint pengelolaan SDM kesehatan 2026–2035, memperkuat pemerataan tenaga kesehatan, serta mengembangkan kemitraan pendidikan, pelatihan, dan kompetensi profesional.
- Negara Asia Pasifik menghadapi kekurangan dan ketimpangan tenaga kesehatan; Indonesia memprioritaskan daerah tanpa tenaga medis di kawasan Timur, bukan Jawa dan Bali.
Badung, IDN Times - Konferensi Asia Pacific Action Alliance on Human Resources for Health (AAAH) ke-14 di Bali menjadi kesempatan Indonesia untuk menunjukkan kontribusinya dalam upaya memperkuat SDM kesehatan di kawasan Asia Pasifik.
Direktur Penyediaan SDM Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ika Trisia, menyebut tiga lokasi di Bali yang menjadi rujukan kunjungan para delegasi di antaranya Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof IGNG Ngoerah Denpasar, Politeknik Kesehatan (Poltekes) Denpasar, dan Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) Kuta II.
"Ini memberikan banyak gambaran kepada para delegasi untuk melihat secara langsung bagaimana tenaga kesehatan kita dididik. Bagaimana pelayanan kesehatan diberikan kepada masyarakat di Indonesia," terangnya.
Ke depan Indonesia akan memanfaatkan hasil konferensi AAAH ini untuk mendukung penyusunan blueprint pengelolaan SDM Kesehatan 2026-2035, memperkuat pemerataan tenaga kesehatan serta mengembangkan kemitraan strategis di bidang pendidikan, pelatihan, dan juga pengembangan kompetensi profesional.
Selain itu, Indonesia membutuhkan SDM kesehatan yang mampu merespon perubahan kebutuhan kesehatan, memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu serta berkontribusi dalam mewujudkan masyarakat yang lebih sehat.
"Kami meyakini bahwa masa depan pengembangan SDM kesehatan sangat bergantung pada kemampuan kita untuk berkolaborasi. Indonesia tetap berkomitmen untuk membangun SDM kesehatan yang kompeten, profesional, adaptif, dan juga tangguh," ucapnya.
Chair AAAH 2024-2026, Anna Kurniati, mengatakan negara-negara Asia Pasifik sedang menghadapi permasalahan SDM kesehatan yang semakin kompleks. Mereka tidak hanya menghadapi masalah terkait penuaan penduduk, peningkatan beban penyakit tidak menular, dan kedaruratan kesehatan sebagai akibat dari perubahan iklim.
Pada saat bersamaan juga mengalami masalah kekurangan SDM kesehatan, ketimpangan distribusi, dan akses pelayanan kesehatan terbatas.
"Kami menyadari bahwa mengatasi tantangan SDM kesehatan ini tidak ada satu negara pun yang bisa menyelesaikan secara mandiri. Oleh karena itu AAAH hadir sebagai platform untuk memperkuat kolaborasi lintas regional. Kemudian pembelajaran antar negara, dan juga untuk bersama-sama melakukan aksi dalam mengatasi berbagai tantangan SDM kesehatan," jelasnya.
Melalui kegiatan ini, negara-negara bisa saling berbagi praktik baik dalam mengembangkan inisiatif yang sangat relevan dengan kebutuhan di tingkat nasional hingga regional. Selain itu, juga menciptakan satu inisiatif yang tangguh dan juga berkelanjutan.
Di Indonesia sendiri, wilayah Jawa dan Bali tidak menjadi prioritas pemerataan SDM kesehatan. Kementerian Kesehatan menyatakan memprioritaskan daerah-daerah yang nol tenaga medis maupun tenaga kesehatan di Indonesia bagian Timur.




















