Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BINUS Bawa Suara Indonesia di Tengah Tantangan Pendidikan Global

Kab. Badung
5 min read
BINUS Bawa Suara Indonesia di Tengah Tantangan Pendidikan Global
QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 di Nusa Dua (dok.pribadi/Natalia Indah)
  • BINUS University menjadi tuan rumah QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026, yang mempertemukan lebih dari 1.500 pemimpin pendidikan untuk membahas masa depan pendidikan tinggi dan perspektif Indonesia.
  • Forum membahas pemanfaatan AI, kurikulum relevan, pembelajaran praktik, serta inovasi berpusat pada manusia; BINUS juga mengembangkan kolaborasi Multi-Helix lintas sektor.
  • QS menilai Asia Pasifik berpotensi menjawab tantangan global melalui kolaborasi universitas, penguatan riset dan pengajaran, serta persiapan mahasiswa menghadapi perubahan teknologi dan dunia kerja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Badung, IDN Times - QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 merupakan forum pendidikan tinggi internasional yang diselenggarakan oleh QS Quacquarelli Symonds, dan tahun ini memasuki penyelenggaraan yang ke 22. BINUS University dipilih menjadi tuan rumah acara ini, mempertemukan lebih dari 1.500 pimpinan universitas, akademisi, pembuat kebijakan, serta pakar pendidikan dari berbagai negara.

Dengan tema utama Advancing Education for Purpose and Impact, kegiatan ini akan membahas tren, tantangan, serta masa depan pendidikan tinggi, termasuk reputasi akademik, pemeringkatan global, kinerja institusi, dan kolaborasi internasional.

Stephen Wahyudi Santoso BS MSIST, President of BINUS Higher Education & Professional Services, mengatakan penyelenggaraan forum ini menjadi momentum penting bagi BINUS University yang bertepatan dengan anniversary ke 45 dalam memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia.

Selain memperkuat jejaring internasional, kesempatan ini juga membuka ruang bagi Indonesia untuk berbagi perspektif serta berkolaborasi dengan komunitas pendidikan tinggi di kawasan Asia Pasifik dalam merespons berbagai tantangan yang terus berkembang.

“Kepercayaan menjadi tuan rumah merupakan kesempatan penting bagi BINUS University untuk membawa perspektif Indonesia ke dalam diskusi mengenai masa depan pendidikan tinggi di kawasan Asia pasifik. Saat ini, pendidikan tinggi menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan teknologi hingga tuntutan untuk mempersiapkan lulusan dengan kompetensi yang relevan. Melalui forum ini, kami berharap dapat mendorong pertukaran pengetahuan, memperkuat kolaborasi lintas negara, serta bersama-sama mengeksplorasi solusi bagi tantangan pendidikan tinggi saat ini dan ke depan,” terangnya di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Selasa (3/11/2026).

  1. 1. AI hingga kurikulum masa depan jadi topik pembahasan

    pembukaan QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 (dok.pribadi/Natalia Indah)
    pembukaan QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 (dok.pribadi/Natalia Indah)

    Berbagai topik strategis dibahas dalam QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026, mulai dari pemanfaatan AI dalam pendidikan, pengembangan kurikulum yang relevan untuk pekerjaan masa depan, hingga inovasi yang menempatkan manusia sebagai pusat perkembangan untuk masa depan.

    Rektor BINUS University, Dr Nelly SKom MM, mengatakan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, mendorong perguruan tinggi untuk terus mengevaluasi pendekatan pembelajarannya agar tetap relevan dengan kebutuhan industri.

    “Di BINUS, kami melihat AI sebagai satu alat yang dapat mendukung proses belajar serta kreativitas mahasiswa. Karena itu, yang penting bukan hanya memperkenalkan teknologi ini, tetapi juga membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk menggunakannya secara kritis, kreatif, dan bertanggung jawab. Perubahan teknologi dan otomatisasi juga turut memengaruhi kebutuhan tenaga kerja, sehingga perguruan tinggi dituntut untuk terus menyesuaikan pendekatan pendidikan dengan perkembangan industri,” jelasnya.

    Dia menambahkan, selain melalui pengembangan kurikulum, BINUS mendorong pembelajaran berbasis praktik dan pendekatan multidisipliner agar mahasiswa dapat menghubungkan pengetahuan akademik dengan penerapannya di dunia profesional. Upaya ini pun turut diperkuat melalui ekosistem Multi-Helix, wadah kolaborasi inovasi berbasis riset yang diluncurkan oleh BINUS University melalui Research and Technology Transfer (RTT).

    Melalui ekosistem ini, BINUS University berupaya mendorong kolaborasi lintas sektor antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, komunitas, serta pemangku kepentingan lainnya untuk membuka ruang bagi pengembangan kompetensi, pertukaran pengetahuan, serta penciptaan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat maupun dunia kerja.

  2. 2. BINUS perkuat kolaborasi dan integrasi AI untuk mengembangkan talenta masa depan

    Dr. Nelly, S.Kom., M.M., Rektor BINUS University kedua dari kiri saat memberikan penjelasan (dok.pribadi/Natalia Indah)
    Dr. Nelly, S.Kom., M.M., Rektor BINUS University kedua dari kiri saat memberikan penjelasan (dok.pribadi/Natalia Indah)

    Nelly menjelaskan, kolaborasi antaruniversitas juga menjadi salah satu langkah penting untuk saling bertukar pengetahuan, mengembangkan riset, dan mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing di tingkat global. Melalui QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026, BINUS University melihat peluang untuk memperkuat kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi di Indonesia maupun kawasan Asia Pasifik.

    “Forum ini menjadi ruang bagi institusi pendidikan untuk berdiskusi dan berbagi perspektif mengenai pengembangan talenta, khususnya di Indonesia dan ASEAN yang memiliki potensi generasi muda cukup besar,” ujarnya.

    Di samping itu, BINUS University juga terus mengintegrasikan teknologi AI ke dalam ekosistem pembelajaran. Salah satu langkahnya adalah dengan menghadirkan mata kuliah fundamental AI bagi seluruh mahasiswa sehingga dapat memahami konsep serta cara kerja teknologi tersebut maupun memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas sesuai bidang keilmuan masing-masing.

    “Upaya ini juga turut didukung oleh kerjasama BINUS dengan lebih dari 2.200 mitra industri. Kolaborasi tersebut memungkinkan BINUS untuk memahami kebutuhan industri, mengikuti perkembangan teknologi, serta mengantisipasi perubahan kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja,” terangnya.

  3. 3. QS soroti potensi pendidikan tinggi Asia Pasifik dan pentingnya kolaborasi global

    beberapa pameran perguruan tinggi dalam acara QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 (dok.pribadi/Natalia Indah)
    beberapa pameran perguruan tinggi dalam acara QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 (dok.pribadi/Natalia Indah)

    Pendidikan tinggi di kawasan Asia pasifik memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam menjawab berbagai tantangan global. Jessica Turner, Chief Executive Officer QS Quacquarelli Symonds mengatakan, dengan perkembangan teknologi yang semakin cepat, perguruan tinggi perlu memperkuat perannya dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja serta masa depan yang terus berkembang.

    “Universitas saat ini menghadapi tantangan untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan yang relevan di tengah perubahan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI) yang turut mengubah cara manusia belajar dan bekerja. Di sisi lain, perguruan tinggi juga perlu terus membuktikan kontribusinya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi serta membantu menyelesaikan berbagai persoalan sosial,” jelasnya.

    Menurutnya, Indonesia sebagai negara dengan potensi generasi muda yang besar, keberagaman budaya, serta kekayaan keanekaragaman hayati dapat menjadi modal penting dalam mendorong inovasi dan kontribusi generasi muda terhadap berbagai isu global, termasuk perubahan iklim. Melalui forum tersebut, dapat membuka peluang pertukaran pengetahuan, berbagi praktik terbaik, serta membangun kemitraan yang saling menguntungkan antara universitas di berbagai negara.

    “Melalui kolaborasi yang lebih erat, perguruan tinggi di kawasan Asia pasifik diharapkan dapat memperkuat kualitas riset dan pengajaran sekaligus mempersiapkan mahasiswa menghadapi masa depan yang semakin dinamis,” lanjutnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More