Denpasar, IDN Times - Penentuan desil menuai berbagai komentar. Pasalnya, warga merasa di desil yang tak sesuai dengan kondisi perekonomian mereka. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, menjelaskan bahwa konsep desil kesejahteraan berbeda dengan angka kemiskinan absolut yang selama ini dikenal warga.
Agus menjelaskan, kenaikan harga suatu barang atau jasa tidak berdampak sama rata ke seluruh penduduk, tergantung pola konsumsinya. Sebagai contoh, kenaikan tarif transportasi pesawat cenderung tidak banyak berpengaruh pada penduduk Desil 1 karena kelompok ini jarang menggunakan moda transportasi tersebut.
Berbeda halnya jika kenaikan terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang hampir dikonsumsi oleh seluruh lapisan warga sehingga dampaknya lebih merata.
