BPS Bali Jelaskan Desil Berbeda dengan Kemiskinan Absolut

- Kepala BPS Bali menegaskan desil kesejahteraan berbeda dari kemiskinan absolut; dampak kenaikan harga juga bervariasi menurut pola konsumsi tiap kelompok penduduk.
- Sensus ekonomi tidak otomatis menentukan desil warga, tetapi diperlukan untuk memetakan kesejahteraan dan mendukung kebijakan; BPS mengimbau responden mengisi data secara jujur.
- Data kesejahteraan diperbarui tiap tiga bulan dan bersifat dinamis; desil selalu memiliki kelompok terendah karena membagi penduduk menjadi 10 kelompok berdasarkan 41 indikator.
Denpasar, IDN Times - Penentuan desil menuai berbagai komentar. Pasalnya, warga merasa di desil yang tak sesuai dengan kondisi perekonomian mereka. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, menjelaskan bahwa konsep desil kesejahteraan berbeda dengan angka kemiskinan absolut yang selama ini dikenal warga.
Agus menjelaskan, kenaikan harga suatu barang atau jasa tidak berdampak sama rata ke seluruh penduduk, tergantung pola konsumsinya. Sebagai contoh, kenaikan tarif transportasi pesawat cenderung tidak banyak berpengaruh pada penduduk Desil 1 karena kelompok ini jarang menggunakan moda transportasi tersebut.
Berbeda halnya jika kenaikan terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang hampir dikonsumsi oleh seluruh lapisan warga sehingga dampaknya lebih merata.
1. Sensus ekonomi tidak selalu berkaitan dengan desil

Sejumlah petugas survei dari kalangan bapak-bapak dan Gen Z juga berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi di Kota Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto) Ia juga menegaskan, ketakutan warga terhadap kegiatan sensus tidak selalu berkaitan langsung dengan penentuan desil. Kata Agus, sensus ekonomi memiliki tujuan berbeda dan tidak otomatis menempatkan seseorang pada kelompok desil tertentu.
Meskipun demikian, ia menekankan pemerintah tetap memerlukan proses pendataan warga. Tujuannya agar mendapatkan data yang akurat sebagai dasar pengambilan kebijakan.
“Data sensus ekonomi ini menjadi sarana untuk memetakan tingkat kesejahteraan masyarakat,” ujar Agus di Kantor BPS Provinsi Bali, Selasa (1/9/2026).
Ia mengimbau warga untuk mengisi data secara jujur, karena keakuratan hasil sensus sangat bergantung pada kejujuran responden dalam memberikan informasi.
2. Data desil diperbarui setiap tiga bulan

ilustrasi ekonomi (IDN Times) Agus memaparkan bahwa data kesejahteraan atau datasen merupakan data tunggal yang bersumber dari berbagai macam data dan diperbarui setiap tiga bulan sekali.
Menurutnya. sifat data yang terus diperbarui ini menjadikan data desil sangat dinamis, sejalan dengan kondisi kesejahteraan keuangan masyarakat yang mampu berubah dengan cepat.
3. Beda dengan kemiskinan absolut

Ilustrasi kemiskinan. (IDN Times) Terkait berbagai informasi soal desil, Agus berkata bahwa desil tidak sama dengan angka kemiskinan absolut. Sehingga sangat memungkinkan bagi warga terlepas dari angka kemiskinan absolut. Namun, kondisi ini tidak berlaku pada desil.
“Desil 1 itu selamanya pasti ada, karena dibagi menjadi 10 kelompok,” jelas Agus.
Ia menjelaskan, desil bersifat relatif. Sehingga akan selalu ada kelompok penduduk yang berada pada posisi desil terendah. Hal ini terlepas dari membaik atau memburuknya kondisi perekonomian secara keseluruhan.
Terdapat 41 indikator penentuan desil seseorang, satu di antaranya kepemilikan aset. Ia juga menegaskan penentuan indikator desil ini melibatkan berbagai instansi pemerintahan.












![[QUIZ] Dari Kebaya Favorit, Ini Genre Musik yang Diam-Diam Kamu Sukai](https://image.idntimes.com/post/20220604/capture-2022-06-04-204858-b0187659f188751dfd1835c346dbee93.jpg)





