BPBD Bali Reaktivasi Sirine Tsunami yang Tak Berfungsi

Denpasar, IDN Times - Sebagai daerah wisata, Bali menghadapi risiko multi-bencana (multi-hazard), baik dari bencana alam seperti tsunami, bencana non-alam, hingga permasalahan sosial. Berbagai persoalan ini memerlukan penyelesaian yang tepat. Sehingga dibutuhkan strategi kebijakan kolaboratif yang inovatif untuk mitigasi guna mewujudkan ketenteraman, ketertiban, kenyamanan, dan keamanan bagi masyarakat serta wisatawan.
Satu di antaranya Inovasi Bali Tsunami Early Warning System (BTEWS) serta Sertifikasi Kesiapsiagaan Bencana yang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali. Inovasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali ini merupakan langkah reaktivasi alat lama yang sudah tidak berfungsi dan harganya pun lebih terjangkau.
1. BTEWS menjadi inovasi unggulan BPBD Bali

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, mengatakan BPBD Bali memiliki dua inovasi unggulan, yaitu BTEWS dan Sertifikasi Kesiapsiagaan Bencana. Dua inovasi BPBD tersebut berkaitan dengan upaya Pemprov Bali dalam melibatkan unsur pentahelix untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana.
Menurutnya, hal ini penting karena sebagai daerah tujuan wisata, Bali dituntut mampu memberikan rasa aman bagi warga lokal dan wisatawan.
2. Ada 12 titik BTEWS yang terpasang di Bali

BTEWS saat ini telah terpasang di 12 titik, yang sebelumnya hanya 9 titik rawan tsunami. Alat ini juga telah dilengkapi sirine InaTEWS yang dibangun oleh BMKG dan dihibahkan kepada Pemprov Bali. Namun, karena teknologi yang digunakan telah diskontinyu, sirine-sirine tersebut mulai kehilangan fungsinya.
"Bisa dibayangkan, akan sangat berbahaya jika Bali tidak memiliki sirine tsunami," ujarnya.
Hal ini menjadi tantangan bagi BPBD Bali untuk berinovasi sehingga terciptalah BTEWS, sirine peringatan dini tsunami yang lebih murah namun tetap andal.
"Dari segi harga dan biaya perawatan, ini jauh lebih murah daripada alat sebelumnya," terangnya.
3. Inovasi BTEWS memiliki harga yang lebih murah

Bantuan BMKG harganya mencapai Rp1,3 miliar dengan biaya perawatan sebesar Rp100 juta. Sedangkan BTEWS hasil inovasi harganya Rp50 juta dengan biaya perawatan hanya Rp8 juta. Selain lebih terjangkau, alat ini juga unggul karena menggunakan kombinasi radio digital dan GSM.
"Kombinasi ini kami gunakan karena dalam situasi bencana besar, sinyal GSM sering terganggu, sehingga dapat di-backup oleh radio digital. Teknologi ini belum ada di luar Bali," terangnya.



















