Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Soft Life, Mengapa Hidup Tenang Tetap Perlu Perjuangan?

Kota Denpasar
5 min read
Soft Life, Mengapa Hidup Tenang Tetap Perlu Perjuangan?
Ilustrasi Happy Hiking (pexels.com/@ninauhlikova)
  • Soft life menekankan hidup lebih tenang tanpa tekanan berlebihan, tetapi bukan berarti bebas masalah atau selalu menghindari ketidaknyamanan.
  • Tantangan seperti belajar, membangun karier, memperbaiki hubungan, dan mengatur keuangan tetap diperlukan; kuncinya memilih perjuangan yang sesuai kebutuhan serta tujuan hidup.
  • Ketenangan juga membutuhkan keberanian menghadapi konflik, perubahan, dan tanggung jawab sehari-hari, sambil tidak menjadikan kelelahan sebagai ukuran keberhasilan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Konsep soft life semakin populer karena menawarkan cara hidup yang lebih tenang, tidak terburu-buru, dan jauh dari tekanan yang berlebihan. Banyak orang mulai mempertanyakan kebiasaan bekerja terlalu keras, mengorbankan waktu pribadi, atau terus memaksakan diri demi memenuhi ekspektasi orang lain. Keinginan untuk menjalani hidup yang lebih nyaman pun menjadi sesuatu yang cukup masuk akal.

Namun, ada satu hal yang terkadang disalahpahami dari konsep ini. Soft life bukan berarti seseorang harus selalu merasa nyaman atau terbebas dari segala masalah. Kehidupan yang lebih tenang tetap memiliki tantangan, tanggung jawab, bahkan situasi yang mengharuskan seseorang melakukan hal-hal sulit. Justru, memahami perbedaan antara menjaga ketenangan dan menghindari kesulitan menjadi bagian penting dalam menjalani soft life.

  1. 1. Tidak semua kesulitan merupakan sesuatu yang buruk

    ilustrasi happy di bawah tekanan (pexels.com/Yan Krukau)
    ilustrasi happy di bawah tekanan (pexels.com/Yan Krukau)

    Ketika mulai menerapkan gaya hidup soft life, seseorang mungkin berusaha mengurangi berbagai hal yang membuatnya stres. Misalnya, menghindari konflik, mengurangi pekerjaan yang melelahkan, atau membatasi interaksi dengan orang-orang yang dianggap membawa energi negatif. Pilihan tersebut tentu tidak selalu salah. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua situasi yang terasa tidak nyaman akan membawa dampak buruk bagi kehidupan.

    Ada kesulitan yang justru diperlukan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Belajar keterampilan baru, membangun karier, memperbaiki hubungan, atau mengatur keuangan sering kali membutuhkan usaha yang tidak sedikit. Jika semua tantangan dihindari hanya karena terasa melelahkan, seseorang bisa kehilangan kesempatan untuk berkembang. Padahal, kehidupan yang lebih baik terkadang memang harus diperjuangkan melalui proses yang tidak selalu menyenangkan.

  2. 2. Soft life lebih tentang memilih perjuangan yang layak dijalani

    ilustrasi perempuan sedang presentasi (pexels.com/Christina Morillo)
    ilustrasi perempuan sedang presentasi (pexels.com/Christina Morillo)

    Satu hal menarik dari konsep soft life adalah kebebasan untuk menentukan apa yang benar-benar penting dalam kehidupan. Seseorang tidak harus mengikuti standar kesuksesan orang lain atau merasa wajib melakukan semua hal hanya karena lingkungan menganggapnya sebagai sesuatu yang membanggakan. Meski demikian, bukan berarti tidak ada lagi hal yang perlu diperjuangkan. Perbedaannya terletak pada kemampuan memilih kesulitan mana yang memang layak dihadapi.

    Sebagai contoh, seseorang mungkin memilih meninggalkan pekerjaan dengan lingkungan yang tidak sehat. Namun, keputusan tersebut bisa membuatnya harus belajar keterampilan baru, mencari peluang lain, atau menyesuaikan pengeluaran selama beberapa waktu. Prosesnya mungkin tidak mudah, tetapi kesulitan tersebut memiliki tujuan yang jelas.

    Ia tidak lagi menghabiskan tenaga untuk mempertahankan keadaan yang merugikan, melainkan menggunakannya untuk membangun kehidupan yang lebih sesuai dengan kebutuhannya.

  3. 3. Menghindari konflik terus-menerus belum tentu membuat hidup tenang

    ilustrasi laki-laki sedang bermain game (freepik.com/freepik)
    ilustrasi laki-laki sedang bermain game (freepik.com/freepik)

    Banyak orang mengaitkan soft life dengan kehidupan yang bebas drama. Karena itu, menjaga jarak dari konflik sering dianggap sebagai satu cara untuk mempertahankan ketenangan. Sayangnya, tidak semua konflik bisa diselesaikan dengan menghindar. Dalam hubungan keluarga, pertemanan, maupun pekerjaan, ada kalanya seseorang perlu menyampaikan keberatan atau membicarakan masalah secara langsung.

    Percakapan semacam ini mungkin terasa canggung. Bahkan, ada risiko orang lain tidak menyukai apa yang disampaikan. Namun, terus memilih diam juga tidak selalu membuat keadaan menjadi lebih baik.

    Masalah yang dibiarkan justru bisa menumpuk dan mengganggu ketenangan dalam jangka panjang. Seseorang mungkin terlihat tidak memiliki konflik dengan siapa pun, tetapi sebenarnya menyimpan banyak perasaan yang belum terselesaikan. Menjalani soft life seharusnya tidak membuat seseorang takut menghadapi percakapan sulit. Terkadang, ketenangan justru baru bisa diperoleh setelah berani menyelesaikan sesuatu yang selama ini dihindari.

  4. 4. Kenyamanan yang berlebihan juga bisa membuat seseorang sulit berkembang

    ilustrasi menonton film lewat laptop (pexels.com/Vlada Karpovich)
    ilustrasi menonton film lewat laptop (pexels.com/Vlada Karpovich)

    Menjalani hidup nyaman tentu jadi keinginan banyak orang. Rasanya menyenangkan saat memiliki rutinitas yang lebih santai dan tidak terlalu banyak tuntutan. Namun, kenyamanan juga bisa menjadi alasan seseorang berhenti mencoba hal baru. Bukan karena sudah merasa cukup, melainkan karena takut menghadapi kemungkinan gagal atau kecewa.

    Misalnya, seseorang sebenarnya ingin memulai usaha kecil, tetapi terus menunda karena tidak ingin menghadapi risiko. Ada pula yang enggan mencoba pekerjaan baru meskipun merasa tidak berkembang di tempat lama. Memilih bertahan tentu bukan selalu keputusan yang buruk.

    Hanya saja, penting untuk membedakan antara menikmati kehidupan yang sudah dimiliki dan menggunakan kenyamanan sebagai alasan untuk menghindari perubahan. Soft life tidak harus membuat hidup berjalan tanpa tantangan. Seseorang tetap bisa memiliki ambisi, mengejar kesempatan baru, dan bekerja keras tanpa harus menjadikan kelelahan sebagai ukuran keberhasilan.

  5. 5. Kehidupan yang tenang tetap membutuhkan tanggung jawab

    ilustrasi perempuan merasa bahagia (pexels.com/Anna Shvets)
    ilustrasi perempuan merasa bahagia (pexels.com/Anna Shvets)

    Ada bagian dari kehidupan yang memang tidak bisa dibuat selalu menyenangkan. Membayar tagihan, mengurus rumah, menjaga kesehatan, hingga memenuhi tanggung jawab keluarga tetap membutuhkan waktu dan tenaga. Hal-hal tersebut mungkin tidak sesuai dengan gambaran soft life yang sering terlihat di media sosial. Konten tentang menikmati kopi di pagi hari, melakukan perawatan diri, atau menghabiskan waktu di tempat yang indah memang terlihat menarik. Namun, kehidupan sehari-hari tentu jauh lebih kompleks daripada potongan momen yang ditampilkan.

    Bahkan, untuk memiliki waktu istirahat yang cukup, seseorang sering kali perlu mengatur banyak hal terlebih dahulu. Keuangan perlu direncanakan, pekerjaan harus diselesaikan, dan beberapa kebutuhan pribadi tetap harus diprioritaskan. Artinya, kehidupan yang terasa ringan bukan selalu kehidupan tanpa beban. Bisa jadi, seseorang justru sudah belajar mengelola tanggung jawabnya sehingga tidak semua hal terasa begitu memberatkan.

    Pada akhirnya, soft life bukan tentang menciptakan kehidupan yang sempurna dan bebas kesulitan. Konsep ini lebih dekat dengan keberanian untuk berhenti mempersulit hal-hal yang sebenarnya bisa dijalani dengan lebih sederhana.

    Kita tetap boleh memiliki ambisi, menghadapi konflik, dan berjuang untuk sesuatu yang penting. Sebab, hidup yang tenang bukan berarti tidak pernah menghadapi kesulitan, melainkan tidak lagi merasa harus menderita untuk membuktikan bahwa hidup kita berharga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More