Denpasar, IDN Times - Akademisi Pertanian Organik dan Tanah, Prof Ni Luh Kartini, menyoroti efek sedimentasi terhadap kualitas air danau di Bali. Kartini meriset pertanian organik berkaitan dengan kualitas air danau.
Temuan awal di lapangan dengan parameter baku mutu mengenai perairan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, rata-rata danau di Bali berada di kelas 3 menuju kelas 4.
Pasal 8 Ayat 1 menyebutkan klasifikasi mutu air ditetapkan menjadi empat di antaranya:
Kelas satu, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang memper-syaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut
Kelas dua, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut
Kelas tiga, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut
Kelas empat, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
“Kalau kita analisa dari beberapa parameternya itu dari kelas 3 menuju kelas 4 kalau dibiarkan,” ujar Kartini kepada IDN Times, Rabu, 13 Maret 2026, di Denpasar.
Kartini menyebutkan ada lima danau di Bali, yakni Danau Yeh Malet, Bulian, Tamblingan, Beratan, dan Batur. Rata-rata danau tersebut mengalami pendangkalan yang berimplikasi terhadap kualitas air danau. Berikut pembahasan selengkapnya.
