Akademisi Soroti Sedimentasi dan Penurunan Kualitas Air Danau di Bali

- Prof. Ni Luh Kartini menyoroti penurunan kualitas air di lima danau Bali yang kini berada di kelas 3 menuju 4, menunjukkan kondisi tidak layak konsumsi akibat sedimentasi.
- Sedimentasi dipicu aktivitas pertanian nonorganik, penggunaan pestisida, limbah rumah tangga dan pariwisata; Kartini menilai pengerukan dan penerapan pertanian organik penting untuk pemulihan ekosistem danau.
- Kadar oksigen air menurun memperburuk ekosistem, sementara ikan red devil mendominasi hingga 60 persen perairan dan mengancam kelangsungan hidup ikan lokal di danau-danau Bali.
Denpasar, IDN Times - Akademisi Pertanian Organik dan Tanah, Prof. Ni Luh Kartini, menyoroti efek sedimentasi terhadap kualitas air danau di Bali. Kartini meriset pertanian organik berkaitan dengan kualitas air danau.
Temuan awal di lapangan dengan parameter baku mutu mengenai perairan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, rata-rata danau di Bali berada di kelas 3 menuju kelas 4. Kelas tersebut tidak layak untuk konsumsi sehari-hari aktivitas manusia.
“Kalau kita analisa dari beberapa parameternya itu dari kelas 3 menuju kelas 4 kalau dibiarkan,” ujar Kartini kepada IDN Times, Rabu, 13 Maret 2026, di Denpasar.
Kartini menyebutkan ada lima danau di Bali, yakni Danau Yeh Malet, Bulian, Tamblingan, Beratan, dan Batur. Rata-rata danau tersebut mengalami pendangkalan yang berimplikasi terhadap kualitas air danau. Berikut pembahasan selengkapnya.
1. Pengerukan danau sebagai langkah reaktif sedimentasi

Kondisi danau dengan sedimentasi, kata Kartini, membutuhkan respons cepat atau langkah reaktif dengan pengerukan. Misalnya, pada Danau Yeh Malet yang telah dikeruk material sedimennya.
Kartini menyoroti danau lainnya yang membutuhkan pengerukan, misalnya Danau Buyan mengalami pendangkalan. Ia menjelaskan kedalaman Danau Buyan dulu mencapai 140 meter, sekarang sekitar 80-an meter.
“Demikian juga di Batur dari 120 meter sekarang sudah 64-80 meter. Sudah itu ada keramba juga,” imbuhnya.
Ia menambahkan, Danau Tamblingan punya kualitas air sedikit lebih baik dibandingkan dengan danau lainnya di Bali. Sebab, keempat danau lainnya berada di area pertanian dan usaha pariwisata yang membuat penurunan kualitas air kian cepat.
Meskipun demikian, bukan berarti Danau Tamblingan sepenuhnya tak terpapar. Kedekatannya dengan Danau Bulian yang merupakan area pertanian memberikan paparan juga bagi kualitas air Danau Tamblingan.
2. Penggunaan pestisida, keramba, dan limbah jadi masalah
Sedimentasi, kata Kartini, adalah dampak dari serangkaian aktivitas di sekitar danau. Mulai dari pertanian hingga pariwisata.
“Nah, ini karena penggunaan pestisida dan lainnya, pupuk terus juga limbah dari sekitarnya sudah itu ada pertanian sehingga ada erosi, itu ternyata sangat berpengaruh terhadap kualitas danau,” papar Kartini.
Penggunaan pestisida hingga pupuk nonorganik berpengaruh terhadap kesuburan air. Berbeda dengan tanah, air tidak boleh dalam kondisi subur. Kartini mengungkapkan, kesuburan air berdampak pada berkurangnya kadar oksigen dalam air. Ini terjadi di Danau Batur dengan air berwarna kehijauan.
Jika terus dibiarkan, penurunan kualitas air danau di Bali menjadi tak terhindarkan. Selain pertanian nonorganik, aktivitas pariwisata dan rumah tangga di sekitar danau juga memengaruhi kualitas airnya. Aktivitas tersebut menghasilkan limbah; jika tidak terkelola, maka akan berdampak terhadap kualitas air danau.
“Limbah dari kamar mandi, sampah, dan lain-lainnya itu ya harus dikelola dengan baik. Jadi, misalnya limbah hotel, limbah dapur ya tidak keluar. Kalau keluar semua sudah mengecil, itu akibatnya sedimentasi,” papar Kartini.
Menurutnya, untuk mengembalikan ekosistem danau, pengerukan dan pengelolaan limbah saja tidak cukup. Memulai pertanian organik dengan pupuk alami bisa menjadi opsi.
3. Kadar oksigen air danau menurun, ikan red devil ancaman ikan lokal

Sementara itu, semua tipe danau di Bali berupa danau cekungan terkungkung akibat letusan gunung purba. Tipe danau itu tidak memiliki saluran air menuju lautan, sehingga tidak boleh ada material yang masuk dan merusak ekosistem danau.
“Jadi tidak punya inlet dan outlet, jadi keramba itu sebenarnya gak boleh, gak boleh ada bahan apa pun masuk ke danau itu karena semua terkungkung,” kata Kartini.
Selain sedimentasi dan penurunan kualitas air, spesies ikan lokal di danau juga terancam. Kartini mengklaim spesies ikan red devil telah menguasai 60 persen danau di Bali. Ikan red devil terkenal suka memangsa ikan lainnya. Sifatnya ini membuat ikan lokal terancam punah.
Ikan red devil punya kemampuan daya tahan hidup lebih tinggi dan bertahan di air dengan kadar oksigen sedikit.
“Ikan red devil ini mampu hidup di daerah yang sedikit sekali oksigennya. Sementara ikan lokal kita butuh banyak oksigen. Ini harus mendapatkan perhatian semua. Akibat sedimentasi, sekarang mata air menurun,” ujar Kartini.


















