Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Daftar Rahinan Hindu Desember 2025, Ada Pegatwakan

Sarana upacara atau banten. (unsplash.com/Artem Beliaikin)
Sarana upacara atau banten. (unsplash.com/Artem Beliaikin)

Desember merupakan bulan terakhir setiap tahun. Desember 2025 ini terdapat beberapa rahinan penting bagi umat Hindu di Bali. Satu di antaranya dalah rahinan Pegatwakan yang menjadi penutup rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan. Berikut adalah daftar lengkap Rahinan Hindu Desember 2025.

1. Purnama

Ilustrasi orang berdoa/sembahyang di pura. (unsplash.com/Polina Kuzovkova)
Ilustrasi orang berdoa/sembahyang di pura. (unsplash.com/Polina Kuzovkova)

Purnama menjadi rahinan penting umat Hindu pertama pada Desember 2025. Menurut Lontar Sundarigama, Rahinan Purnama merupakan harinya Dewa Chandra beryoga, diyakini sebagai hari yang baik untuk membersihkan diri secara lahir dan batin dengan melukat atau ritual mandi suci.

Umat Hindu menghaturkan beberapa sarana upacara atau banten seperti sodan, canang, daksina atau pejati, hingga segehan. Purnama pada Desember 2025 ini merupakan Purnama sasih kanem atau bulan keenam dalam kalender Bali. Purnama tahun ini jatuh pada Kamis (4/12/2025), Wraspati Kliwon, wuku Langkir.

2. Kajeng Kliwon

Sarana upacara segehan. (dok. pribadi/Ari Budiadnyana)
Sarana upacara segehan. (dok. pribadi/Ari Budiadnyana)

Kajeng Kliwon merupakan rahinan yang menjadi pertemuan Triwara (Pasah, Beteng, dan Kajeng) Kajeng dan Pancawara (Paing, Pon, Wage, Kliwon, dan Umanis) Kliwon. Rahinan ini dipercaya keramat bagi umat Hindu. Pada saat Kajeng Kliwon, umat Hindu menghaturkan tipat dampulan, canang, serta segehan yang bertujuan untuk memohon keselamatan dan perlindungan dari kekuatan negatif.

Rahinan ini dilaksanakan setiap 15 hari sekali. Jadi, biasanya ada dua kali Kajeng Kliwon setiap bulan. Pada Desember 2025, Kajeng Kliwon pertama jatuh pada Minggu (14/12/2025), Redite Kliwon, wuku Pujut. Sedangkan, Kajeng Kliwon kedua jatuh pada Senin (29/12/2025), Soma Kliwon, wuku Krulut.

3. Tilem

Ilustrasi anak yang sedang sembahyang. (unsplash.com/ Polina Kuzovkova)
Ilustrasi anak yang sedang sembahyang. (unsplash.com/ Polina Kuzovkova)

Menurut Lontar Sundarigama, Rahinan Tilem merupakan harinya Dewa Surya beryoga, dan sering juga disebut dengan istilah bulan mati. Saat Tilem, umat Hindu menghaturkan sarana upacara yang lebih sederhana yaitu canang dan segehan.

Semua sarana tersebut dihaturkan untuk memohon keselamatan dan kerahayuan bagi seluruh umat manusia. Pada Desember 2025, Rahinan Tilem jatuh pada Jumat (19/12/2025), Sukra Kliwon, wuku Pujut. Tilem ini merupakan Tilem Kanem atau bulan keenam dalam Kalender Bali.

4. Buda Kliwon Pegatwakan

Prosesi membakar hiasan penjor. (instagram.com/yudhine)
Prosesi membakar hiasan penjor. (instagram.com/yudhine)

Pegatwakan sering juga disebut dengan istilah lain yaitu Buda Kliwon Pegatuwakan. Pegatwakan berasal dari kata pegat yang berarti pelepasan atau putus. Sedangkan, wakan memiliki makna sabda. Sehingga Pegatwakan dapat dimaknai sebagai melepas tapa selama 35 hari setelah Hari Raya Galungan.

Rahinan Pegatwakan menjadi menjadi simbol berakhirnya rangkaian perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Rahinan ini jatuhnya tepat pada 35 hari setelah Hari Raya Galungan. Tepatnya setiap Rabu, Buda Kliwon, wuku Pahang. Selesainya rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan ditandai dengan mencabut penjor saat Rahinan Pegatwakan. Umat Hindu menghaturkan sarana upacara seperti canang, banten soda, dan segehan.

Rahinan ini juga sebagai tanda bahwa umat Hindu di Bali sudah bisa untuk melaksanakan upacara yadnya seperti Manusia Yadnya dan Pitra Yadnya. Seperti diketahui, dari Hari Raya Galungan hingga Pegatwakan tidak diperkenankan melaksanakan upacara tersebut. Pegatwakan pada Desember 2025 jatuh pada Rabu (24/12/2025).

Adanya rahinan setiap bulannya sebagai pengingat umat Hindu agar selalu ingat dan berterima kasih kepada kekuatan Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi dan para leluhur. Sebaiknya, dalam melaksanakan rahinan, umat Hindu melakukan persembahan secara tulus dan ikhlas sesuai kemampuan, serta adat istiadat desa setempat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest Life Bali

See More

4 Lagu WET Project yang Bercerita Tentang Ayah, Band Asal Denpasar

29 Nov 2025, 12:14 WIBLife