10 Bahasa Bali yang Berkaitan dengan Puasa dan Idulfitri

Idulfitri merupakan hari penting dan selalu ditunggu-tunggu oleh umat Muslim. Berbagai momen kebahagiaan akan hadir saat perayaan Idulfitri.
Terkait Idulfitri, ada beberapa kosakata-kosakata yang sering digunakan. Apa saja? Berikut Bahasa Bali yang berkaitan dengan puasa dan Idulfitri.
1. Tipat

Ketupat termasu kuliner yang selalu hadir dalam perayaan Idulfitri. Ketupat ini menjadi teman untuk opor, kare, gulai, hingga sate. Ketupat Bahasa Balinya adalah tipat. Contoh dalam kalimatnya: Agus melali ke umahne Rahmat ngalih tipat opor. Artinya: Agus main ke rumahnya Rahmat mencari ketupat opor.
2. Upawasa

Umat muslim menjalankan ibadah puasa selama Ramadan. Puasa menjadi simbol umat Muslim untuk menahan dan mengendalikan hawa nafsu fisik maupun emosional. Puasa dalam Bahasa Bali disebut upawasa. Upawasa berasal dari Bahasa Sanskerta. Biasanya kosakata ini digunakan umat Hindu yang menjalankan puasa dalam waktu-waktu tertentu.
3. Seduk dan bedak

Umat muslim harus menahan rasa lapar dan haus saat puasa. Hal ini dilakukan sebulan penuh selama Ramadan. Lapar dalam Bahasa Bali disebut seduk, sedangkan haus disebut bedak. Contoh kalimatnya: Pipit kuat ye naenang seduk jak bedak. Artinya: Pipit kuat menahan lapar dan haus.
4. Nyama selam

Umat Hindu dan Muslim hidup berbaur penuh toleransi di Bali. Sebagian umat muslim telah menetap sejak zaman nenek moyangnya di Bali. Umat Hindu di Bali sering menyebut mereka dengan nama nyama selam atau saudara Islam (Muslim).
5. Masimakrama

Idulfitri menjadi ajang silaturahmi dengan mengunjungi kerabat dekat maupun keluarga. Silaturahmi ini dilakukan untuk melekatkan rasa persaudaraan. Dalam Bahasa Bali, silaturahmi disebut dengan masimakrama. Contoh dalam kalimat: Wayan ajak panakne masimakrama ke umahne Pak Haji dugas Idulfitrine. Artinya: Wayan dan anaknya melakukan silaturahmi ke rumah Pak Haji pada saat Idulfitri.
6. Jaja

Beraneka jajanan atau kue akan selalu hadir saat Idulfitri. Jajanan ini disuguhkan untuk keluarga maupun tamu yang datang bersilaturahmi. Kue atau jajanan dalam Bahasa Balinya disebut dengan jaja. Contoh dalam kalimat: mai ke umahne Fitri, ajaka ngalih jaja. Artinya: ayo ke rumahnya Fitri, cari jajan atau kue.
7. Dana punia

Umat Muslim yang mampu wajib membayar zakat (zakat fitrah) selama Ramadan hingga sebelum Idulfitri. Zakat ini dilakukan secara tulus ikhlas dan besarannya menyesuaikan kemampuan masing-masing. Dalam Bahasa Bali, khususnya Hindu, juga mengenal isitlah seperti zakat, yaitu dana punia. Contoh dalam kalimat: Pan Gede medana punia di Pura Besakih. Artinya: Pak Gede menyumbang di Pura Besakih.
8. Mulih kampung

Mudik menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu perantauan saat Idulfitri. Idulfitri menjadi saat yang tepat pulang ke kampung untuk bersilaturahmi dengan keluarga. Mudik dalam Bahasa Bali adalah mulih kampung. Contoh dalam kalimat adalah umahne Ahmad celepin maling dugas ye mudik. Artinya, rumahnya Ahmad dimasuki pencuri saat dia pulang kampung.
9. Dharma wacana

Setiap Salat Ied pasti selalu diisi dengan khotbah. Hal ini untuk memberikan pencerahan kepada umat yang datang. Khotbah dalam Bahasa Bali dikenal dengan istilah dharma wacana. Dharma wacana biasanya dilakukan di pura, suatu kegiatan adat, hingga upacara agama di Bali.
10. Melali

Idulfitri biasanya diisi dengan liburan bersama keluarga. Liburan atau jalan-jalan dalam Bahasa Bali disebut dengan melali. Contoh dalam kalimatnya: Bu Warwah melali ke Jogja ajak kurenanne dugas Idulfitri. Artinya: Bu Warwah jalan-jalan ke Jogja dengan suaminya.
Kosakata di atas sering ditemui dalam percakapan. Tapi tidak semuanya kosakata tersebut bisa digunakan saat Idulfitri walaupun artinya sama. Yaitu dharma wacana, dana punia, dan upawasa.
















