“Kami peduli, tapi kami tidak percaya.”
[OPINI] Krisis Kepercayaan Publik dan Masa Depan Demokrasi Indonesia
![[OPINI] Krisis Kepercayaan Publik dan Masa Depan Demokrasi Indonesia](https://image.idntimes.com/post/20240622/edwin-andrade-4v1dc-eocwg-unsplash-1-6863b62c2bfc9a4c0bdfe6caacd76b0e-69d807e48394b00a0b6fd2ee33358cf8.jpg)
- Gelombang demonstrasi generasi muda di berbagai kota menyoroti isu ekonomi, transparansi kebijakan, dan krisis kepercayaan terhadap sistem demokrasi yang dianggap gagal melindungi kesejahteraan rakyat.
- Penangkapan aktivis muda pascademonstrasi memicu kekhawatiran atas kebebasan berekspresi, sementara survei menunjukkan penurunan tajam kepercayaan publik terhadap pemerintah dibanding lima tahun sebelumnya.
- Partisipasi aktif generasi muda melalui aksi sosial dan kritik publik mencerminkan semangat demokrasi partisipatif, sekaligus menjadi pengingat bahwa demokrasi harus responsif terhadap suara rakyat.
Belakangan ini, jalanan kota-kota besar di Indonesia kembali ramai. Bukan karena sebuah pertunjukan festival, melainkan aksi generasi muda yang menuntut perhatian publik terhadap isu ekonomi, pendidikan, dan kebijakan pemerintah. Pesan mereka sederhana namun tetap tegas:
Fenomena ini menunjukkan adanya krisis kepercayaan publik terhadap sistem demokrasi yang selama ini dijanjikan mampu melindungi hak dan kesejahteraan rakyat.
Gelombang aksi demonstrasi
Pada Agustus-September 2025, ribuan mahasiswa, pelajar, buruh, dan warga turun ke jalan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Mereka menuntut perhatian terhadap isu ekonomi dan demokrasi, termasuk kenaikan upah minimum, reformasi perpajakan, dan transparansi kebijakan pemerintah.
Sebagian besar aksi berlangsung damai. Namun, beberapa bentrokan terjadi akibat respons aparat yang dianggap berlebihan. Gelombang protes ini menunjukkan tingginya partisipasi generasi muda dalam menyuarakan aspirasi.
Penangkapan aktivis muda dan kebebasan berekspresi
Pascademonstrasi, beberapa aktivis muda ditangkap terkait partisipasi mereka, termasuk mahasiswa dan pengorganisir komunitas. Penangkapan ini menimbulkan kekhawatiran mengenai kebebasan berpendapat dan ruang demokrasi.
Kasus ini menegasan bahwa mesi aksi generasi muda merupakan bagian penting dari demokrasi yang sehat, respons negar terhadap ekspresi kritis dapat memengaruhi kepercayaan publik dan kesehatan demokrasi.
Kepercayaan publik yang memudar
Survei Lembaga Indonesia (LSI) menunjukkan bahwa sekitar 35 persen warga percaya penh terhadap kebijakan pemerintah dalam satu tahun terakhir. Angka ini turun drastis dibanding lima tahun lalu yang mencapai 50-55 persen.
Sementara itu, pastisipasi generasi muda meningkat. Sekitar 60 persen responden usia 18-30 tahun merasa perlu turun tangan langsung melalui aksi atau kampanye publik. Data ini menunjukkan hubungan antara menurunnya kepercayaan publik dan meningkatnya aksi sosial.
Aksi anak muda sebagai cermin demokrasi
Fenomena ini relevan dengan Teori Demokrasi Partisipatif oleh Carole Pateman yang menekankan bahwa demokrasi sejati tidak hanya soal pemilu, tetapi juga partisipasi aktif warga dalam pengambilan keputusan dan pengawasan pemerintah.
Aksi generasi muda yang turun ke jalan adalah contoh nyata dari prinsip ini. Mereka menuntut transparansi, mengawasi kebijakan publik, dan memastikan suara rakyat terdengar. Demonstrasi bukan sekadar protes, tetapi bagian dari proses demokrasi yang hidup dan partisipatif. Namun, aksi yang tidak terarah atau dimanfaatkan kepentingan politik tertentu memunculkan polarisasi dan menimbulkan disinformasi.
Suara generasi muda
Generasi muda kini menjadi kelompok yang paling vokal dalam menyuarakan kritik terhadap kebijakan publik. Mereka hadir lewat demonstrasi, diskusi terbuka, media sosial, hingga gerakan komunitas. Isu yang diangkat pun beragam, mulai dari biaya hidup, pendidikan, ketimpangan ekonomi, hingga kualitas demokrasi itu sendiri. Fenomena ini menunjukkan bahwa kaum muda tidak apatis.
Namun, meningkatnya partisipasi ini beriringan dengan menurunnya kepercayaan terhadap institusi demokrasi. Banyak anak muda merasa suara mereka tidak benar-benar memengaruhi keputusan politik. Aspirasi disampaikan, tetapi kebijakan tetap berjalan tanpa dialog yang berarti. Dalam situasi seperti ini, kritik menjadi bentuk ekspresi paling jujur dari kegelisahan generasi muda.
Demokrasi tidak cukup dijalankan melalui pemilu lima tahunan, demokrasi menuntut keterlibatan aktif warga dalam proses pengambilan keputusan dan pengawasan kekuasaan. Aksi, kritik, dan partisipasi generasi muda ustru menjadi indikator bahwa demokrasi masih bekerja.
Dalam perspektif Teori Demokrasi Partisipatif, demokrasi tidak cukup dijalankan melalui pemilu lima tahunan. Demokrasi menuntut keterlibatan aktif warga dalam proses pengambilan keputusan dan pengawasan kekuasaan. Aksi, kritik, dan partisipasi generasi muda justru menjadi indikator bahwa demokrasi masih bekerja—meski tidak ideal.
Peran generasi muda ke depan
Generasi muda berperan sebagai pengawas pemerintah saat ini sekaligus penjaga nilai-nilai demokrasi di masa depan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan:
Terus kritis dan partisipatif – Mengawasi kebijakan publik dan mengekspresikan aspirasi secara konstruktif melalui demonstrasi damai, diskusi publik, maupun kampanye sosial berbasis data.
Memperkuat literasi demokrasi – Memahami hak dan kewajiban warga negara agar partisipasi tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik tertentu.
Menjadi jembatan antargenerasi – Menyuarakan kebutuhan warga yang sering tidak terdengar dan mendorong kebijakan lebih transparan.
Mengembangkan inovasi untuk partisipasi – Memanfaatkan teknologi dan media digital untuk memantau kebijakan, memfasilitasi debat publik, dan menciptakan solusi sosial.
Dengan langkah-langkah ini, generasi muda tidak hanya menuntut perubahan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi dalam membangun demokrasi yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan.
Implikasi bagi demokrasi
Fenomena ini memberi pelajaran penting:
- Pemerintah harus lebih transparan dan responsif, karena kepercayaan publik tidak bisa dipaksakan.
- Media harus menyajikan informasi akurat, agar aksi tidak dimanfaatkan untuk agenda tertentu.
- Generasi muda perlu diarahkan agar energi protes bersifat produktif, bukan destruktif.
Secara lebih luas, aksi generasi muda adalah alarm: demokrasi Indonesia sedang diuji. Jika kepercayaan publik terus menurun, partisipasi aktif kaum muda bisa menjadi penyelamat atau pemicu ketegangan baru.
Refleksi
Aksi generasi muda dan krisis kepercayaan publik menunjukkan satu hal: demokrasi bukan milik pemerintah, tapi milik semua warga. Kaum muda hari ini mengingatkan bahwa demokrasi akan bertahan jika mampu mendengar suara rakyat.
Mereka turun ke jalan bukan untuk membuat kerusuhan, tetapi untuk menunjukkan bahwa demokrasi sejati adalah partisipatif, kritis, dan responsif. Jika sistem gagal menampung aspirasi mereka, siapa lagi yang bisa menjaganya?


![[QUIZ] Uji Pengetahuanmu Tentang Tumpek Landep](https://image.idntimes.com/post/20220406/tumpeklandep1-c7c8a956c08d5240d23a9803c984bd4e-ff673c524528ecaca01bb11466faf4f1.jpg)














