Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Makna Ngembak Geni, Rangkaian Perayaan Nyepi

Tradisi Siat Yeh di Jimbaran saat Ngembak Geni. (Warisanbudaya.kemdikbud.go.id)
Tradisi Siat Yeh di Jimbaran saat Ngembak Geni. (Warisanbudaya.kemdikbud.go.id)

Hari Raya Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Saka bagi umat Hindu. Prosesi perayaan Hari Nyepi tidak terjadi pada hari H saja. Ada banyak rangkaian kegiatan yang dilaksanakan sebelum dan sesudahnya.

Satu rangkaian Nyepi adalah Hari Ngembak Geni. Seperti apa makna Hari Ngembak Geni, serta tradisi-tradisi apa saja yang ada saat sehari setelah Hari Nyepi ini?

1. Makna Ngembak Geni

Ilustrasi Nyepi. (unsplash.com/Roberto Rendon)
Ilustrasi Nyepi. (unsplash.com/Roberto Rendon)

Ngembak Geni dirayakan sehari setelah Hari Raya Nyepi sebagai penutup rangkaian perayaan Tahun Bara Saka tersebut. Hari Ngembak Geni merupakan pinanggal kaping kalih Sasih Kadasa (hari kedua bulan kesepuluh dalam kalender Bali).

Ngembak sendiri memiliki makna bebas dan geni bermakna api. Sehingga Ngembak Geni dapat diartikan sebagai hari untuk mulai kembali menyalakan api atau bebas berkativitas seperti sedia kala. Saat Ngembak Geni ini, umat Hindu melakukan silaturahmi dengan kerabat maupun keluarga.

Selain itu, terdapat berbagai tradisi yang menarik untuk disaksikan pada Hari Ngembak Geni. Apa Saja? Langsung lanjut baca ya guys!

2. Tradisi Omed-Omedan

Tradisi Omed-omedan di Sesetan. (YouTube.com/ Ngurah Surya Kusuma)
Tradisi Omed-omedan di Sesetan. (YouTube.com/ Ngurah Surya Kusuma)

Tradisi yang paling populer saat Ngembak Geni adalah Omed-omedan atau orang awam sering menyebutnya dengan tradisi saling berpelukan dan berciuman. Tradisi ini dilaksanakan di Banjar Kaja, Kelurahan Sesetan, Kota Denpasar yang dimulai pada siang hingga sore hari.

Tradisi ini bermula dari Kerajaan Puri Oka yang terletak di Denpasar Selatan. Saat itu diceritakan Raja Puri Oka sedang sakit. Kemudian mendengar ada suara gaduh yang ditimbulkan, karena beberapa pemuda bermain saling tarik-menarik dan saling rangkul.

Raja marah dan keluar dari Puri Oka. Namun secara ajaib, raja justru sembuh dari penyakitnya saat melihat permainan itu. Raja kemudian memerintahkan untuk menyelenggarakan permainan tersebut sehari setelah Hari Nyepi.

Tradisi ini sempat dihentikan pelaksanaannya oleh warga Banjar Kaja. Namun warga melihat ada dua ekor babi yang saling berkelahi di pelataran pura. Warga dan para tetua mengganggap hal tersebut sebagai pertanda buruk. Kemudian mereka kembali melanjutkan tradisi ini.

3. Tradisi Nyakan Diwang

Tradisi Nyakan Diwang. (YouTube.com/Agus Sanjaya)
Tradisi Nyakan Diwang. (YouTube.com/Agus Sanjaya)

Tradisi unik ini berasal dari Bali Utara tepatnya di Desa Dencarik, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Makna Nyakan Diwang adalah memasak di depan rumah.

Saat suara kulkul desa bersuara sebagai pertanda berakhirnya Hari Raya Nyepi, tradisi ini mulai dilaksanakan. Seluruh warga akan mulai memasak di pinggir jalan atau depan rumahnya. Alat yang digunakan untuk memasak adalah tungku sementara (bukan permanen) yang terbuat dari batu bata atau batako, dengan kayu bakar sebagai sumber apinya.

Setelah selesai memasak, warga saling berbagi masakan kepada warga sekitarnya. Tradisi yang sudah ada sejak zaman leluhur Desa Dencarik ini bertujuan untuk menjaga silaturahmi dan rasa kekeluargaan, antara warga di desa tersebut.

4. Mabuug-buugan Desa Kedonganan

Tradisi Mabuug-buugan di Desa Kedonganan. (Kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Tradisi Mabuug-buugan di Desa Kedonganan. (Kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Tradisi Mabuug-buugan yang dilaksanakan di Desa Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, adalah tradisi mandi lumpur (buug) di area hutan bakau desa setempat. Tradisi ini terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada tahun 2019.

Sebelum melakukan prosesi Mabuug-buugan, warga desa terlebih dahulu melakukan persembahyangan di Pura Bale Agung desa setempat, kemudian berkumpul di balai desa. Dari balai desa, mereka berjalan kaki menuju ke hutan mangrove yang telah ditentukan.

Setelah di lokasi hutan mangrove, masing-masing warga akan melumuri dirinya dengan lumpur sebagai simbol pembersihan diri untuk menyambut tahun yang baru baru (Tahun Baru Saka). Setelah mandi lumpur, mereka menuju ke Pantai Kedonganan untuk membersihkan tubuh dari lumpur tersebut.

Tradisi ini, selain untuk membersihkan diri, juga bertujuan untuk memohon anugerah kepada Tuhan Yang Maha Esa agar warga selalu diberkahi di tahun yang baru ini.

5. Tradisi Siat Yeh Jimbaran

Tradisi Siat Yeh di Jimbaran saat Ngembak Geni. (Warisanbudaya.kemdikbud.go.id)
Tradisi Siat Yeh di Jimbaran saat Ngembak Geni. (Warisanbudaya.kemdikbud.go.id)

Tradisi selanjutnya ada tradisi di dari daerah Kuta Selatan, Kabupaten Badung, tepatnya di Desa Jimbaran. Tradisi ini dinamakan Tradisi Siat Yeh (perang air).

Tradisi ini sebagai simbol bertemunya dua buah sumber mata air yang ada di Jimbaran. Yaitu di timur disebut Pantai Suwung (air rawa), dan barat disebut Pantai Segara. Warga diharuskan menjaga kedua sumber mata air ini agar selalu mendapatkan kemakmuran. Selain itu, makna perang atau siat di sini memiliki makna, bahwa setiap hari harinya manusia berperang dengan dirinya sendiri, antara keinginan yang baik dan buruk.

Selama pelaksanaan itu dilakukan, warga di desa ini akan terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok untuk memohon air dari Pantai Suwung, dan kelompok lainnya di Pantai Segara. Mereka kemudian mengarak air suci ini ke lokasi Siat Yeh di Catus Pata (perempatan) desa, kemudian melakukan kegiatan saling menyiram air dengan kelompok lainnya menggunakan air suci tersebut.

Tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur ini wajib dijaga kelestariannya agar tidak punah. Tradisi-tradisi ini juga seharusnya sudah bisa dikemas sebagai kalender pariwisata di Bali, sehingga mampu menarik minat wisatawan untuk berlibur ke Bali.

Share
Topics
Editorial Team
Ari Budiadnyana
EditorAri Budiadnyana
Follow Us

Latest Life Bali

See More

Hari Baik Menurut Hindu Bali 14 Desember 2025, Tidak Baik Belanja

14 Des 2025, 10:19 WIBLife