Comscore Tracker

5 Risiko Pacaran di Usia Sekolah, Fokus Belajar Dulu Ya!

Sebaiknya hindari ya

Jatuh cinta memang menyenangkan. Apalagi jika terjadi saat masa-masa sekolah. Kamu akan terus memikirkan dia dan jantung terasa berdetak kencang saat melihat dia tersenyum. Bukan main bahagianya ketika dia mengirimkan pesan dan isinya ternyata mengajak kamu untuk menjadi pacarnya. 

Apabila kamu sudah cukup dewasa, pacaran sah-sah saja ya untuk dilakukan. Proses pacaran bisa kamu jalani sebelum menjalani komitmen melangkah ke jenjang yang lebih serius. Apakah berpacaran saat masih menjadi remaja tanggung dan bersekolah cukup berisiko? Apa saja dampak negatifnya? Sebenarnya ada banyak konsekuensi negatif yang bisa muncul ketika seseorang berpacaran di usia dini. Nah berikut risiko pacaran di usia sekolah:

Baca Juga: 5 Cara Menemukan Pasangan yang Pas, Dia Selalu Ada saat Suka dan Duka 

1. Kamu jadi dewasa sebelum waktunya

5 Risiko Pacaran di Usia Sekolah, Fokus Belajar Dulu Ya!ilustrasi remaja yang pacaran (pexels.com/vjapratama)

Anak usia 14 sampai 17 tahun seharusnya bisa menikmati masa remaja mereka dengan mengeksplor sesuatu yang menarik atau bermain dengan teman sesuai usia mereka. Namun bila para remaja ini mulai berpacaran, mereka cenderung akan bertingkah layaknya orang dewasa.

Selain itu, mereka seolah-olah memahami arti dari komitmen. Berjanji satu sama lain untuk selalu bersama, di mana itu merupakan sesuatu yang mungkin belum bisa mereka pahami sepenuhnya. Berada dalam situasi itu dapat merampas kebahagiaan masa muda mereka.

2. Menurunnya performa akademik 

5 Risiko Pacaran di Usia Sekolah, Fokus Belajar Dulu Ya!ilustrasi remaja yang malas belajar (pexels.com/George Milton)

Remaja cenderung kesulitan untuk mengatur waktu mereka. Terlebih ketika berada dalam suatu hubungan. Ada kemungkinan mereka akan menghabiskan waktu dan emosi mereka untuk pacarnya.

Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar, malah mereka gunakan untuk mengirim pesan teks, telepon, atau video call. Belum lagi rasa sedih ketika bertengkar dengan sang pacar. Hal tersebut bisa mengganggu konsentrasi belajar dan berakibat pada menurunnya nilai di sekolah.

3. Cenderung berbohong kepada orangtua

5 Risiko Pacaran di Usia Sekolah, Fokus Belajar Dulu Ya!ilustrasi orangtua dan anak (pexel.com/Mikhail Nilov)

Meski sudah dilarang orangtua, tak jarang ada juga remaja yang nekat untuk berpacaran. Karena takut dimarahi, mereka pun akhirnya backstreet atau merahasiakan hubungan. Bahkan segala cara pun dilakukan agar orangtua tidak tahu, termasuk dengan berbohong.

Padahal di usia ini, mereka masih membutuhkan saran dari orangtua. Keputusan yang remaja buat sendiri ketika berpacaran, berpotensi membuat mereka menyesal di kemudian hari.

4. Kehilangan teman sepermainan

5 Risiko Pacaran di Usia Sekolah, Fokus Belajar Dulu Ya!ilustrasi remaja yang sendirian (pexels.com/Engin Akyurt)

Ketika seseorang sudah menjalin sebuah hubungan, biasanya perlahan akan mulai kehilangan teman. Terlebih untuk menjaga perasaan pasangan, kamu jadi harus membatasi diri berteman dengan lawan jenis.

Tapi bagi remaja, ini bukanlah fase yang mudah. Ketika mereka terlalu sering menghabiskan waktu dengan pacarnya, maka teman-temannya yang lain akan sungkan untuk menghubunginya. Dampak terburuknya adalah ketika putus, mereka baru akan merasakan bahwa teman-temannya telah meninggalkan mereka.

5. Menikah di usia muda

5 Risiko Pacaran di Usia Sekolah, Fokus Belajar Dulu Ya!ilustrasi menikah (pexel.com/Daria Obymaha)

Seseorang yang mulai berpacaran pada usia belia punya peluang untuk menikah muda. Saat mereka mencapai usia remaja akhir atau awal dua puluhan, mereka mungkin sudah bosan berkencan dan memilih untuk segera menikah. Belum lagi persoalan nikah muda karena hamil di luar nikah akibat melakukan hubungan yang tidak sehat. 

Menikah di usia sekolah bukanlah pilihan yang tepat karena mereka belum siap secara fisik, mental, dan finansial. Apabila ini terjadi, sangat berpotensi menjadi faktor pemicu konflik dan bahkan pada perceraian. 

Itulah beberapa risiko pacaran di usia sekolah. Orangtua sebaiknya ikut mengawasi dan mengarahkan anak agar tidak terjerumus pada hal-hal buruk yang bisa berpengaruh terhadap masa depannya.

Alfadhylla Rosalina Wibisono Photo Community Writer Alfadhylla Rosalina Wibisono

An ESFP - but sometimes like to be quiet

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Ni Ketut Sudiani

Berita Terkini Lainnya