MUI dan NU di Bali Kompak Imbau Jaga Toleransi Nyepi dan Idul Fitri

- MUI dan NU Bali sepakat melalui FKUB menyerukan toleransi menjelang perayaan Nyepi dan Idul Fitri 2026 agar keharmonisan antarumat tetap terjaga.
- Ketua MUI Bali mengimbau umat muslim menghormati pelaksanaan Nyepi dengan membatasi bunyi-bunyian, pencahayaan, serta beribadah di rumah bila masjid jauh.
- PWNU Bali menegaskan ibadah tarawih dan takbiran di rumah tidak mengurangi pahala, sambil menunggu hasil sidang isbat untuk memastikan jadwal Idul Fitri.
Denpasar, IDN Times - Menjelang hari Suci Nyepi dan rangkaian Idul Fitri 2026 di Bali, perwakilan majelis agama melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali bersepakat seruan jaga toleransi. Kesepakatan ini ditegaskan dalam momen rapat tertutup Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali dengan seluruh majelis agama dalam FKUB.
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali, KH Mahrusun Hadyono ditemui setelah rapat Rabu (11/3/2026) di Jayasabha, Rumah Jabatan Gubernur Bali menyampaikan sejumlah hal. Terutama imbauan kepada umat muslim di Bali agar menghormati pelaksanaan Nyepi.
“Jadi kita mengimbau kepada umat muslim supaya tetap menghormati pelaksanaan dari hari raya Nyepi ini,” ujar Mahrusun.
Mahrusun mengingatkan agar pelaksanaan takbiran maupun tarawih yang misalnya berbarengan dengan Nyepi agar tidak menggunakan bunyi-bunyian apapun, berjalan kaki, dan pencahayaan terbatas di musala. Jika jarak masjid jauh dari rumah, Mahrusun mengimbau agar umat muslim di Bali beribadah di rumah masing-masing.
Imbauan ini sebagai antisipasi jika malam takbiran bersamaan dengan Nyepi. Mahrusun menegaskan imbauan dan seruan bersama ini hanya rencana, kepastiannya tetap menunggu sidang isbat yang akan diumumkan pemerintah pusat.
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Bali, Abdul Azis menegaskan pihaknya menanti sidang isbat yang akan dilaksanakan pada 19 Maret 2026 mendatang. Sebagai antisipasi jika Nyepi dan malam takbiran berdekatan, Azis mengimbau agar warga NU dan umat Islam umumnya agar saling menghormati.
“Kami tentunya mengajak kepada warga NU, umat Islam di Bali ini salat tarawih bisa dilaksanakan di rumah masing-masing. Tidak harus datang ke masjid kecuali memang yang kediamannya sangat dekat dengan masjid,” tuturnya.
Ia menegaskan, ibadah di rumah tidak akan mengurangi pahala. Adanya kekhusyukan dan menghormati tidak mengurangi makna takbiran maupun tarawih.
“Lalu kita melaksanakan takbiran maupun salat tarawih di rumah berjemaah dengan keluarganya, saya kira tidak mengurangi rasa kekhusyukan” ujar Azis.
Momen rapat bersama sejak pukul 15.00 WITA, kata Azis sebagai sarana mensosialisasikan seruan bersama kepada masing-masing pemimpin umat beragama. Tujuannya agar masing-masing pemimpin menyampaikan pesan damai dan toleransi
“Mengarahkan kepada hal yang positif sehingga menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sehingga keharmonisan tetap terjaga di dalam perayaan Hari Nyepi maupun perayaan Hari Raya Idul Fitri,” imbuhnya.


















