Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

3 Alasan Sembahyang Hari Raya Kuningan Sebelum Pukul 12 Siang

Ilustrasi sembahyang (pexels.com/Agung Pandit Wiguna)
Ilustrasi sembahyang (pexels.com/Agung Pandit Wiguna)
Intinya sih...
  • Hari raya Kuningan identik dengan nasi kuning dan gantungan sesajen
  • Persiapan hari raya Kuningan dimulai 10 hari sebelumnya
  • Sembahyang sebelum pukul 12 siang hanyalah saran, bukan keharusan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Selamat hari raya Kuningan bagi umat Hindu Bali ya. Hari raya ini tepat 10 hari setelah perayaan hari raya Galungan. Biasanya, sesajen hari raya Kuningan identik dengan nasi berwarna kuning yang berasal dari kunyit.

Keunikan lainnya, gantungan atau sesajen yang digantung di pura maupun tempat sembahyang di rumah. Saat Kuningan, ada empat macam gantungan.

Keempat macam gantungan ini punya ciri khas bentuk dan fungsinya masing-masing, intinya berfungsi sebagai pelindung secara niskala. Serta simbol perayaan yang meriah dan penuh semangat kemenangan kebaikan. Selain itu, ada juga keunikan hari raya Kuningan lainnya, yaitu umat Hindu Bali mengejar waktu sembahyang sebelum pukul 12 siang. Kira-kira kenapa demikian ya? Yuk simak penjelasan selengkapnya.

Jauh hari sebelum Kuningan, ada waktu untuk persiapkan

Ilustrasi canang. (IDN Times/Yuko Utami)
Ilustrasi canang. (IDN Times/Yuko Utami)

Penjelasan soal sembahyang saat hari raya Kuningan harus lebih awal, sejatinya berkaitan dengan waktu persiapannya yang cukup panjang. Ada rentang waktu 10 hari untuk mempersiapkan sesajen yang akan dipersembahkan saat Kuningan.

Sementara itu, sehari sebelum Kuningan atau hari Jumat Wage Kuningan, disebut juga Penampahan Kuningan, telah dijelaskan dalam lontar. Berdasarkan Lontar Sundarigama, sebenarnya tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan pada hari ini, hanya berupa anjuran untuk melakukan kegiatan persembahyangan yang ada dalam lontar. Anjuran itu berupa bait kalimat pendek Sapuhakena malaning jnana, bermakna lenyapkanlah pikiran yang buruk atau kotor. 

Saat hari raya Kuningan para dewa dan dewi telah kembali ke surga saat siang hari

ilustrasi Dewa Siwa (pixabay.com/spoudel2345)
ilustrasi Dewa Siwa (pixabay.com/spoudel2345)

Lalu, esok hari tepatnya pada Saniscara Kliwon atau disebut Kuningan, Lontar Sundarigama menyebutkan ketentuan sederhana. Ketentuan dalam lontar menuliskan upacara mempersembahkan sesajen pada hari Kuningan hendaknya dilaksanakan pada pagi hari, serta menghindari upacara lewat tengah hari. 

Alasan ketentuan waktu mempersembahkan sesajen itu karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara (dewa-dewi penghuni surga) diceritakan kembali ke surga atau istilahnya Dewa mur mwah maring Swarga. Melalui penjelasan itu, sudah cukup jelas bahwa ketentuan sembahyang sebelum pukul 12 siang saat Kuningan tidaklah wajib, melainkan sebuah saran.

Kamu jangan terburu-buru, tetap utamakan kemampuan dan ketulusan hati

Ilustrasi sembahyang di pura. (IDN Times/Yuko Utami)
Ilustrasi sembahyang di pura. (IDN Times/Yuko Utami)

Kuningan dan segala hari raya Hindu di Bali, kunci utamanya adalah sembahyang dengan hati tulus dan pikiran jernih. Jangan sampai terburu-buru mengejar waktu sembahyang sebelum pukul 12 siang, membuat kamu jadi lupa makna sejati dari persembahyangan. Bukannya menenangkan jiwa raga dan bersyukur, nanti kamu malah jadi buru-buru dan enggak fokus.

Dalam penjelasan di Lontar Sundarigama, sembahyang sebelum pukul 12 siang hanyalah saran, bukan keharusan. Jadi, sebelum sembahyang kamu harus menenangkan isi pikiran dan hati. Sehingga, doamu tersampaikan dengan tulus ikhlas tanpa kehilangan maknanya.

Share
Topics
Editorial Team
Ita Lismawati F Malau
EditorIta Lismawati F Malau
Follow Us

Latest Life Bali

See More

3 Alasan Sembahyang Hari Raya Kuningan Sebelum Pukul 12 Siang

29 Nov 2025, 14:02 WIBLife