Hindari Sungai Ketika Musim Hujan Ya, Banyak Ular Bertelur dan Menetas

Denpasar, IDN Times – Akhir-akhir ini hewan melata seperti ular di berbagai wilayah Indonesia. Tak terkecuali di Kota Denpasar. Hewan ini munculnya bahkan di dalam rumah warga. Dari pantauan IDN Times di akun resmi Instagram Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar saja, total ada lima ekor ular yang berhasil ditangkap oleh petugas BPBD selama dua hari. Masing-masing adalah ular sawah dan ular kobra yang sama-sama sepanjang sekitar satu meter, ditemukan di dua lokasi berbeda tanggal 15 Desember 2019. Berikutnya adalah ular kobra sepanjang 30 centimeter, ular sawah sekitar 40 centimeter, dan ular sanca batik sepanjang sekitar 2,5 meter di lokasi berbeda tanggal 14 Desember 2019.
Kenapa akhir-akhir semakin banyak ular yang memasuki rumah warga? Berikut ini penjelasan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bali:
1.Ular memilih bertelur dan menetas di musim hujan karena banyak kodok dan reptil

Menurut Kepala Bali Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Dr R Agus Budi Santosa, masyarakat harus memahami bila saat ini merupakan musimnya ular untuk bertelur dan menetas. Terutama di musim hujan.
“Tandanya apa? Tandanya awal musim penghujan. Setiap awal musim penghujan, ini kan kita sudah awal musim penghujan ini. Biasanya telur-telur (Ular) itu menetasnya di awal musim penghujan,” ungkap Agus, Selasa (17/12).
Ular-ular tersebut memilih musim hujan untuk bertelur dan menetas karena pakannya berlimpah. Apa itu? Pakan-pakan tersebut adalah kodok, reptil kecil hingga serangga.
2.Hati-hati, tidak semua ular kobra memiliki serum antibisa

Kemunculan ular, khususnya kobra, akhir-akhir ini memang jadi perbincangan karena lokasi penemuannya berada di pemukiman warga. Namun sejauh ini, fenomena kemunculan ular tidak ada perubahan setiap tahunnya. Mereka tetap ada dan banyak muncul di awal musim penghujan karena alasan yang sudah disebutkan sebelumnya.
“Tidak semua ular jenis kobra itu ada serum antibisa. Ada serum antibisa untuk kobra, tapi itu kan tidak semua jenis kobra. Kobra di Jawa yang Naja itu ada serumnya. Kalau yang king cobra itu sampai sekarang, sampai hari ini serumnya kan belum tersedia di rumah sakit. Nah, yang mungkin harus jadi perhatian lebih adalah jenis-jenis ular yang tidak ada antiserumnya,” jelasnya.
3.Kamu harus waspada ketika main ke sungai. Karena anak-anak ular menetas dan pergi ke sungai untuk mencari makan

Pihaknya menjelaskan, di wilayah Bali sendiri kebanyakan ular berada di sekitar sungai. Begitu juga ketika musim bertelur. Hal ini karena pada saat telur menetas, anak-anak ular akan pergi ke sungai untuk mencari makan.
4.Kalau berpapasan dengan ular sebaiknya tidak panik dan tidak bergerak. Karena mata ular pada dasarnya rabun, dan hanya merasakan lewat pergerakan

Tidak dibenarkan jika membunuh satwa yang sedang berkembang biak. Masyarakat harus memastikan ekosistem, dan pakan ularnya tetap ada agar tidak memasuki rumah.
“Salah, tidak begitu caranya. Ya yang ada adalah memastikan bagaimana kemudian satwa itu tidak dibunuh. Yang bisa kita lakukan harus begitu,” tegasnya.
Agus mengimbau apabila bertemu ular, masyarakat tidak panik dan tidak bergerak. Mengingat mata ular rabun dan mereka mendeteksi melalui gerakan.
5.Satwa yang dilaporkan masyarakat akan dilepasliarkan lagi

Kepala BPBD Provinsi Bali, Made Rentin, mengaku banyak menerima laporan ular dan biawak yang masuk ke rumah warga. Meski itu bukan bidangnya, namun petugas BPBD tetap responsif terhadap laporan ini, untuk kemudian berkoordinasi dengan tim BKSDA.
Lalu dibawa ke mana hasil tangkapan ular dan satwa lainnya tersebut? Kata Kepala BKSDA Bali, kalau satwa tersebut termasuk hewan yang dilindungi dan berdasarkan penilaian masih liar, maka akan dilepasliarkan lagi ke habitat aslinya. Apabila satwa tersebut jinak, maka akan diliarkan kembali sebelum dilepas ke habitatnya.
6.BPBD Kota Denpasar memiliki regu khusus yang menangani hewan melata

Sementara itu, BPBD Kota Denpasar memiliki regu khusus untuk menangani hewan melata yang dilaporkan oleh masyarakat. Tercatat, sebanyak 158 laporan yang diterima pada tahun 2018 terkait pengaduan hewan melata (Ular) masuk ke rumah warga. Sedangkan pada tahun 2019, masih terekap 15 laporan warga. Laporan tentang masalah tawon juga pernah dilaporkan oleh warga, dan para petugas berhasil menanganinya dengan baik.
“Kami memang tidak menangani itu. Karena memang bukan ranahan di kebencanaan sebenarnya. Biar tidak salah. Cuma terlanjur masyarakat apa-apa memang menghubungi ke kami. Dianggap semuanya bisa ini,” terang Made Rentin.



















