Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Shortcut Singaraja–Mengwitani Dilanjutkan, Ruas Jalan Berisiko Tinggi

ilustrasi jalan raya di pagi hari (freepik.com/freepik)
ilustrasi jalan raya di pagi hari (freepik.com/freepik)

Buleleng, IDN Times - Pembangunan lanjutan Jalan Shortcut Singaraja–Mengwitani, shortcut Titik 9 dan 10 Paket 1 dan Paket 2 telah dimulai. Gubernur Bali, I Wayan Koster, meminta pelaksanaan proyek infrastruktur Jalan Shortcut Singaraja–Mengwitani termasuk kontraktor pelaksana, agar bekerja secara profesional, menjaga kualitas, dan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.

“Kualitas harus nomor satu dan waktunya harus tepat. Jangan kualitas bagus tapi molor. Saya pantau langsung, dan kalau tidak sesuai, saya yang akan menegur,” katanya, pada Rabu (7/1/2026) kemarin.

1. Proyek Shortcut Singaraja–Mengwitani meliputi jalan dan jembatan

ilustrasi jalan raya dan truk (unsplash.com/ Tiry Nelson Gono)
ilustrasi jalan raya dan truk (unsplash.com/Tiry Nelson Gono)

Direktur Pembangunan Jalan Direktorat Jenderal Bina Marga, Asep Syarif Hidayat, menyampaikan Kementerian Pekerjaan Umum berkomitmen penuh mendukung pembangunan shortcut Singaraja–Mengwitani. Untuk penanganan Titik 9 dan 10, total panjang pekerjaan mencapai 3,90km (kilometer). Terdiri dari jalan sepanjang 2,95km dan jembatan sepanjang 942m (meter).

Pada Paket 1, proyek ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp290,84 miliar dengan masa pelaksanaan 750 hari kalender. Pekerjaannya meliputi pembangunan jalan sepanjang 0,93km dan tiga jembatan dengan total panjang 593m, yang dikerjakan oleh Waskita–Sinarbali KSO dengan pendanaan dari SBSN Tahun Anggaran 2025–2027.

Sedangkan untuk pembangunan Shortcut Singaraja-Mengwitani titik 9-10 paket 2 dari pembangunan jalan sepanjang 0,88km dan pembangunan jembatan sepanjang 220m (dua jembatan) dengan total anggaran senilai Rp187 miliar.  Sementara untuk lingkup pekerjaan paket 3, terdiri dari pembangunan jalan sepanjang 1,146,5m dan jembatan sepanjang 128,5m dengan kebutuhan anggaran senilai 189,7 miliar.

2. Eksisting ruas Jalan Singaraja–Mengwitani memiliki tingkat risiko tinggi

Pemprov Bali
Pembangunan shortcut Singaraja-Mengwitani (Dok.IDN Times/istimewa)

Kondisi eksisting ruas Jalan Singaraja–Mengwitani memiliki tingkat risiko tinggi. Kelandaiannya mencapai 27 persen, dan tercatat sekitar 140 kecelakaan per tahun dengan 16 korban meninggal dunia. Melalui perbaikan geometrik jalan ini, waktu tempuh dipangkas dari 21,22 menit menjadi 8,61 menit, jumlah tikungan berkurang drastis, serta tingkat kelandaian diturunkan hingga maksimal 10 persen.

“Manfaatnya sangat signifikan, mulai dari peningkatan keselamatan, efisiensi perjalanan, hingga pengurangan emisi karbon kendaraan sekitar 10 persen,” ungkapnya.

3. Infrastruktur diharapkan jadi solusi permanen konektivitas Bali Utara–Selatan

Taman Kota Singaraja (googgle.com/maps/ivan arya)
Taman Kota Singaraja (googgle.com/maps/ivan arya)

Hingga saat ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali telah membebaskan 316 bidang tanah senilai Rp193 miliar untuk mendukung pembangunan sejumlah titik shortcut. Namun demikian, untuk menuntaskan seluruh ruas Jalan Singaraja–Mengwitani masih diperlukan pembangunan lanjutan pada Titik 1–2, Paket 3 Titik 9–10, serta Titik 11–12 dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp512 miliar.

Dengan kolaborasi erat antara Pemerintah Pusat dan Pemprov Bali, pembangunan Jalan Shortcut Singaraja–Mengwitani diharapkan menjadi solusi permanen konektivitas Bali Utara–Selatan, sekaligus mendorong pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Pulau Dewata.

Share
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest News Bali

See More

Bagian 2: Menyelami Orang-Orang Lama di Balik Wira

09 Jan 2026, 22:23 WIBNews