Sepekan Pertama 2026, Ada 6 Upaya Akhiri Hidup di Wilayah Bali

- Pekan pertama 2026, tercatat enam upaya mengakhiri hidup di Bali: empat kasus di wilayah Polres Badung dan dua di Polresta Denpasar.
- Polisi meningkatkan langkah pencegahan, termasuk patroli dan pemantauan CCTV di titik rawan seperti Jembatan Tukad Bangkung.
- Psikiater menyebut depresi sebagai faktor utama, dengan gejala yang kerap tak disadari dan berisiko memicu percobaan bunuh diri.
Badung, IDN Times - Kasus bunuh diri pada pekan pertama 2026 di Provinsi Bali menjadi perhatian serius. Di wilayah hukum Polres Badung tercatat empat kejadian, terdiri dari dua kasus bunuh diri dan dua percobaan bunuh diri yang berhasil digagalkan. Sementara itu, di wilayah hukum Polresta Denpasar, dua upaya mengakhiri hidup juga berhasil dicegah aparat kepolisian.
Pejabat Sementara Kepala Subseksi Penerangan Masyarakat (PS Kasubsi Penmas) Seksi Humas Polres Badung, Aiptu Ni Nyoman Ayu Inastuti, menyampaikan bahwa pihak kepolisian telah melakukan langkah preventif terpadu terhadap para korban. Upaya tersebut meliputi pembinaan, pendampingan keluarga, hingga rujukan konseling psikologis.
"Kami telah menetapkan jembatan Tukad Bangkung sebagai titik rawan prioritas dengan peningkatan patroli malam, respons cepat, dan pemantauan aktif CCTV," terangnya, Rabu (7/1/2026).
1. Deretan kasus upaya bunuh diri yang terjadi

Di wilayah hukum Polres Badung, seorang warga negara Rusia berinisial VG (50) ditemukan meninggal dunia pada Kamis (1/1/2026) pukul 10.00 Wita di sebuah rumah di Jalan Muding Indah, Kelurahan Kerobokan Kaja, diduga akibat depresi. Selain itu, WNI laki-laki berinisial MK (21) asal Kecamatan Denpasar Selatan ditemukan meninggal pada Jumat (2/1/2026) pukul 06.32 Wita di Jembatan Tukad Bangkung, dengan dugaan permasalahan keluarga.
Sementara itu, dua percobaan bunuh diri di lokasi yang sama berhasil digagalkan. WNI laki-laki berinisial IKM (20) asal Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, berhasil diselamatkan pada Senin (5/1/2026) pukul 21.30 Wita dengan dugaan masalah percintaan. Kasus serupa juga dialami WNI laki-laki berinisial IGJS (33) asal Kecamatan Denpasar Barat yang berhasil digagalkan pada Selasa (6/1/2026) pukul 09.30 Wita, diduga karena permasalahan keluarga.
Adapun di wilayah hukum Polresta Denpasar, WNI laki-laki berinisial GIG (27) asal Kecamatan Denpasar Utara berhasil diselamatkan dan dibawa ke rumah sakit pada Senin (5/1/2026) pukul 17.30 Wita. Selanjutnya, WNI laki-laki berinisial IGNRS juga berhasil digagalkan saat melakukan percobaan bunuh diri pada Selasa (6/1/2026) dini hari di sebuah kos di Kecamatan Denpasar Selatan, dengan dugaan permasalahan keluarga.
2. Penderita depresi memiliki kecenderungan untuk mengakhiri hidup

Psikiatri RSUP Prof. I.G.N.G. Ngoerah, dr. Sukma, menjelaskan perasaan sedih merupakan ekspresi yang normal sebagai manusia. Sementara itu, depresi merupakan kondisi yang berkaitan dengan perasaan sedih yang disertai sejumlah gejala penyerta, seperti gangguan pola tidur, nafsu makan, kelelahan, rasa putus asa, hingga berujung pada bunuh diri. Ia juga menyebutkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan depresi sebagai penyakit keempat terbanyak di dunia. Secara umum, sekitar 20 persen perempuan dan 12 persen laki-laki pernah mengalami depresi. Dari jumlah tersebut, 15 persen penderita depresi meninggal karena bunuh diri, 20–40 persen pernah melakukan percobaan bunuh diri, dan 80 persen memiliki ide bunuh diri. Kasus bunuh diri, kata dia, paling banyak terjadi pada laki-laki, dengan sekitar 50 persen terjadi pada rentang usia 20–50 tahun.
"Ternyata kita tidak pernah mengetahui depresi itu merupakan penyakit yang cukup banyak. Cukup mengejutkan," terangnya.
Lebih lanjut, dr. Sukma menyampaikan terdapat tiga faktor utama penyebab depresi. Pertama, faktor biologis, di mana otak manusia memiliki neurotransmiter seperti dopamin, serotonin, dan noradrenalin. Pada penderita depresi, terjadi penurunan neurotransmiter tersebut sehingga memicu ketidakseimbangan.
"Kemudian juga ada faktor genetik. Jadi apabila seseorang memiliki keluarga yang menderita suatu depresi maka mungkin mereka akan mengalami risiko lebih besar untuk mengalami depresi yang sama," jelasnya.
Faktor lain yang paling umum adalah psiko-sosial, yakni depresi yang dipicu oleh peristiwa dalam kehidupan seseorang, seperti trauma masa kanak-kanak maupun tekanan lingkungan. Selain itu, depresi juga dapat dipengaruhi faktor kepribadian, ketika dinamika psikologis kehidupan membentuk karakter tertentu pada penderitanya.
Adapun faktor pemicu lainnya adalah teori kognitif, di mana seseorang memiliki pandangan negatif terhadap masa depan, diri sendiri, serta pengalaman hidupnya.
3. Gejala depresi bisa disadari dan tidak disadari penderita

Tiga gejala utama terjadinya suatu depresi di antaranya seseorang akan tampak sedih, selalu murung, hilang minat dan rasa gembira sehingga mudah lelah dan hilang tenaga. Gejala lain yang menyertai adanya konsentrasi dan perhatian yang menurun, harga diri dan kepercayaan diri yang menurun, perasaan bersalah dan tidak berguna, merasa dirinya dicampakkan, pesimis untuk masa depan, gagasan untuk membahayakan berupa usaha untuk bunuh diri, gangguan tidur, nafsu makan yang menurun hingga menurunnya libido.
"Apabila sudah ada tiga gejala utama tersebut maka orang tersebut sudah bisa kami kategorikan apakah dia seorang yang depresi," terangnya.
Disampaikannya bahwa, Kementerian Kesehatan RI juga menyebutkan adanya 8 gejala yang tanpa disadari oleh penderita depresi, di antaranya lebih peka terhadap rasa sakit atau sensitif, berat badan yang terus naik atau semakin turun karena gangguan pola makan, mudah marah, hanya terpaku pada media sosial dan tidak mau melakukan aktivitas apapun, sering melamun, tidak memiliki motivasi, sulit berpikir, dan jarang menyisir rambut.
--
Depresi bukanlah persoalan sepele. Jika kamu merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.
Kementerian Kesehatan Indonesia menyarankan masyarakat yang membutuhkan bantuan terkait masalah kejiwaan untuk langsung menghubungi profesional kesehatan jiwa di puskesmas atau rumah sakit terdekat.
Dalam keadaan darurat, berikut ini nomor kontak yang dapat dihubungi.
Bali Mental Health & Suicide Prevention Helpline
Love Inside Suicide Awareness (LISA)
Bahasa Indonesia +62 811 3855 472
Berbahasa Inggris +62 811 3815 472
Jangan Bunuh Diri || telp: (021) 9696 9293 || email: janganbunuhdiri@yahoo.com
Organisasi INTO THE LIGHT || message via page FB: Into The Light Indonesia (@IntoTheLightID) || direct message via Twitter: @IntoTheLightID
Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Telp. 021-8514389 Website: http://www.skizofrenia.org/
LSM Jangan Bunuh Diri || Telp 021-0696 9293.


















