Suspek LSD di Jembrana Bertambah, Petugas Ambil Sampel Darah Sapi

- Kasus LSD pada sapi di Jembrana makin mengkhawatirkan: tercatat 28 kasus (3 terkonfirmasi lab, 25 berdasar gejala) ditambah 22 kasus suspek di empat kecamatan.
- Dinas PPP Jembrana menurunkan petugas medikvet mengambil sampel darah dan kerokan kulit, lalu mengirimnya ke BBVet Denpasar untuk uji laboratorium.
- Peternak diminta segera melapor jika menemukan benjolan pada kulit sapi agar penanganan cepat dan penularan tidak meluas.
Jembrana, IDN Times - Penyebaran virus Lumpy Skin Disease (LSD) pada ternak sapi di Kabupaten Jembrana, Bali, semakin mengkhawatirkan. Setelah sebelumnya ditemukan 28 kasus dengan tiga sampel positif, kini muncul laporan tambahan 22 kasus dicurigai atau suspek yang tersebar di empat kecamatan berbeda.
Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (PPP) Kabupaten Jembrana bergerak cepat untuk memastikan kondisi kesehatan ternak tersebut melalui uji laboratorium. Petugas medikvet kecamatan juga diterjunkan ke lapangan untuk ambil sampel darah sapi di sejumlah wilayah Kabupaten Jembrana pada Jumat (23/1/2026).
1. Tambahan 22 kasus suspek ditemukan di empat kecamatan

Hingga saat ini, data resmi menunjukkan 28 ekor sapi dinyatakan positif LSD, di mana 3 ekor terkonfirmasi lewat uji laboratorium dan 25 ekor lainnya berdasarkan gejala klinis yang identik. Namun, laporan terbaru mencatatkan adanya 22 kasus suspek baru yang perlu diwaspadai.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan-Kesmavet) Dinas PPP Jembrana, I Gusti Putu Ngurah Sugiarta, merinci bahwa temuan ini tersebar di Kecamatan Melaya, Negara, Jembrana, dan Mendoyo. Sementara untuk wilayah Kecamatan Pekutatan saat ini dilaporkan masih nihil atau aman dari indikasi LSD.
"Perkembangan kasus memang terus kami pantau. Setelah ada laporan tambahan yang baru bersifat suspek, kita terjun ke lapangan dan ambil sampel di beberapa ternak sapi," ujar Sugiarta, Jumat (23/1/2026).
2. Sampel darah dan kerokan kulit sapi dikirim ke BBVet Denpasar

Menyikapi laporan puluhan kasus suspek tersebut, tim Medik Veteriner (Medikvet) masing-masing kecamatan dikerahkan ke lapangan untuk melakukan tindakan klinis. Fokus utama petugas saat ini adalah mengambil sampel biologis dari sapi-sapi yang menunjukkan gejala penyakit tersebut.
Sampel yang diambil meliputi sampel darah dan kerokan sampel kulit pada bagian benjolan (nodul) ternak. Sampel-sampel ini kemudian segera dikirim ke Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar untuk menjalani uji laboratorium intensif.
"Diagnosa harus akurat karena gejala LSD memiliki kemiripan dengan penyakit kulit lain pada sapi, seperti demodekosis atau balisikite. Jadi, selama hasil lab belum ada, kami hanya menyebutnya suspek," tegas Sugiarta.
3. Peternak diminta melapor jika temukan benjolan pada kulit sapi

Meskipun vaksinasi sudah mulai dilakukan di zona merah, Pemerintah Kabupaten Jembrana mengimbau para peternak untuk tetap waspada dan tidak meremehkan gejala sekecil apa pun. Kecepatan laporan dari pemilik ternak sangat menentukan keberhasilan penanganan wabah agar tidak meluas secara masif.
Jika ditemukan sapi dengan gejala benjolan pada kulit, peternak diminta segera menghubungi petugas Medikvet terdekat. Langkah antisipasi dini sangat krusial agar kasus suspek tidak merembet ke ternak sehat lainnya yang dapat memicu kerugian ekonomi lebih besar bagi warga.


















