Stok BBM Ambulans Puskesmas di Klungkung Tinggal Seperempat Tangki

Stok BBM ambulans puskesmas di Klungkung tersisa sekitar seperempat tangki, sehingga Dinkes meminta prioritas pengisian karena antrean SPBU berisiko menghambat respons darurat.
Layanan Kring Sehat kini memprioritaskan pasien darurat; Dinkes menyiapkan pengawalan Polres dan dukungan PMI untuk penjemputan atau rujukan pasien bila diperlukan.
Ambulans RSUD Klungkung masih beroperasi normal dengan stok dijaga penuh, meski pengisian BBM dapat memakan dua jam; rumah sakit juga mengatur kesiagaan dokter.
Klungkung, IDN Times - Krisis bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di sejumlah wilayah Bali mulai menjadi persoalan serius bagi layanan kesehatan di Kabupaten Klungkung. Stok BBM ambulans di sejumlah puskesmas dilaporkan tersisa sekitar seperempat tangki.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Klungkung mulai waswas. Sebab, ambulans menjadi kendaraan vital yang harus selalu siap bergerak kapan saja, terutama ketika ada pasien dalam kondisi gawat darurat.
Kepala Dinkes Klungkung, drg Gusti Ayu Ratna Dwijawati, mengatakan kondisi stok BBM tersebut telah dilaporkan kepada Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Klungkung, Gusti Agung Gde Putra Mahajaya.
“Per hari ini kondisi BBM pada mobil ambulans tinggal seperempat. Kondisi itu sudah saya laporkan kepada Pj Sekda agar difasilitasi saat pengisian BBM mobil ambulans bisa diprioritaskan,” kata Dwijawati, Kamis (15/10/2026).
Menurutnya, antrean panjang di sejumlah SPBU menjadi persoalan tersendiri. Ambulans yang harus mengantre berjam-jam berpotensi kehilangan waktu respons ketika sewaktu-waktu mendapat panggilan darurat.
“Melihat antrean di SPBU, kami merasa waswas juga,” ujarnya.
1. Dinkes menerapkan penyesuaian layanan KRIS

Pelayanan ambulance dikhawatirkan menganggu pelayanan ambulance di Klungkung. (Dok. IDN Times/Istimewa) Keterbatasan BBM turut memaksa Dinkes Klungkung melakukan penyesuaian terhadap layanan Kring Sehat (KRIS). Layanan pra-hospital tersebut selama ini menjadi fasilitas jemput bola bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan kesehatan, termasuk penjemputan pasien dan pengantaran ke rumah sakit.
Namun, di tengah kondisi BBM yang terbatas, tidak semua permintaan dapat ditangani dengan pola seperti biasanya. Dinkes kini memprioritaskan pasien yang membutuhkan penanganan segera.
“Untuk sementara, kami utamakan lebih dulu pasien yang kondisinya darurat,” tegas Dwijawati.
Saat ini terdapat tiga ambulans yang digunakan untuk mendukung layanan KRIS. Kendati demikian, pelayanan di puskesmas dan puskesmas pembantu disebut masih berjalan.
Dwijawati juga memastikan belum ada laporan dokter yang tidak dapat menjalankan tugas akibat persoalan BBM.
Untuk menjaga agar pasien gawat darurat tetap dapat dirujuk dengan cepat, Dinkes Klungkung telah berkoordinasi dengan Polres Klungkung. Dukungan pengawalan disiapkan apabila ambulans harus membawa pasien dalam kondisi darurat menuju rumah sakit.
Dinkes juga menggandeng PMI Klungkung untuk membantu proses penjemputan maupun pengantaran pasien apabila dibutuhkan.
Langkah tersebut dilakukan sebagai antisipasi agar keterbatasan BBM tidak sampai berujung pada terganggunya penanganan pasien.
2. Ambulans RSUD masih aman, tapi isi BBM bisa makan waktu dua jam

Kondisi antre BBM di Klungkung. (Dok. IDN Times/Istimewa) Sementara itu, kondisi operasional ambulans di Rumah sakot Umum Daerah (RSUD) Klungkung sejauh ini masih relatif aman.
Direktur RSUD Klungkung, dr I Nengah Winata, mengatakan pihak rumah sakit berupaya memastikan BBM kendaraan selalu tersedia sehingga ambulans tetap dapat digunakan kapan pun dibutuhkan.
“Kalau ambulans masih normal karena kami upayakan BBM kendaraan selalu penuh,” kata Winata.
Meski stok ambulans masih terjaga, proses mendapatkan BBM tidak selalu berjalan lancar. Seorang staf RSUD Klungkung bahkan disebut membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk mendapatkan BBM akibat antrean panjang di SPBU.
Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan BBM tidak hanya menyangkut ketersediaan bahan bakar, tetapi juga waktu yang harus dihabiskan untuk mendapatkannya.
Bagi layanan kesehatan, waktu menjadi faktor penting, terutama ketika kendaraan digunakan untuk membawa pasien yang membutuhkan penanganan segera.
3. RSUD antisipasi dokter terkendala BBM

Kondisi antre BBM di Klungkung. (Dok. IDN Times/Istimewa) Persoalan BBM juga mulai diperhitungkan RSUD Klungkung dari sisi mobilitas tenaga medis. Winata mengatakan, pihaknya mengantisipasi kemungkinan dokter jaga yang tinggal cukup jauh dari rumah sakit mengalami kendala perjalanan akibat sulitnya mendapatkan BBM.
Pengaturan jadwal pun dilakukan agar pelayanan tetap berjalan.
"Dalam kondisi tertentu, dokter diminta tetap siaga dan berkoordinasi dengan perawat melalui sambungan telepon," jelasnya.



















