Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Biaya Produksi Naik, Peternak Ayam Tabanan Merugi Meski MBG Berjalan
Ilustrasi telur (pexels.com/Klaus Nielsen)
  • Program Makanan Bergizi Gratis kembali berjalan setelah libur sekolah, mendorong pesanan telur peternak Tabanan naik dari sekitar 300 menjadi 600 butir per minggu.
  • Harga telur di tingkat peternak naik menjadi Rp42.000-Rp48.000 per krat, tetapi baru menutup biaya pakan sekitar Rp43.000 per krat dan belum menghasilkan keuntungan.
  • Harga ayam broiler hidup mencapai Rp21.000 per kilogram, masih di bawah HPP Rp23.500; peternak berharap kebijakan pemerintah menekan biaya DOC dan pakan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Permintaan telur di Kabupaten Tabanan meningkat setelah Program Makanan Bergizi Gratis kembali berjalan usai libur sekolah. Harga telur peternak berada pada kisaran Rp42.000-Rp48.000 per krat, sementara harga ayam broiler juga naik.
  • Who?
    Peternak ayam petelur dan ayam broiler di Tabanan mengalami peningkatan pesanan. Koordinator Pinsar Kabupaten Tabanan I Wayan Sukasana menyampaikan kondisi harga, biaya produksi, dan kerugian peternak.
  • Where?
    Peningkatan permintaan dan perubahan harga terjadi di tingkat peternak ayam di Kabupaten Tabanan, Bali.
  • When?
    Kondisi ini terjadi setelah Program Makanan Bergizi Gratis kembali berjalan setelah libur sekolah berakhir. I Wayan Sukasana menyampaikan keterangan pada Kamis, 30 Juli 2026.
  • Why?
    Pesanan telur meningkat karena distributor dan konsumen kembali membutuhkan pasokan untuk Program Makanan Bergizi Gratis. Namun biaya pakan, DOC, dan produksi yang tinggi membuat peternak belum memperoleh keuntungan.
  • How?
    Pesanan telur naik dari sekitar 300 menjadi 600 butir per minggu. Harga telur naik dari titik sekitar Rp40.000 per krat, tetapi biaya pakan sekitar Rp43.000 per krat masih membatasi keuntungan peternak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tabanan, IDN Times - Peternak ayam petelur di Kabupaten Tabanan kembali kebanjiran order karena Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali berjalan setelah masa libur sekolah berakhir. Peningkatan permintaan ini menyebabkan harga telur di sejumlah peternak di Kabupaten Tabanan menunjukkan potensi penguatan.

Koordinator Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Kabupaten Tabanan, I Wayan Sukasana, mengatakan permintaan telur dari sejumlah distributor maupun konsumen meningkat signifikan setelah MBG kembali berjalan. Pesanan yang sebelumnya sekitar 300 butir per minggu, kini naik menjadi sekitar 600 butir per minggu atau meningkat 50 persen.

1. Harga telur naik ke kisaran Rp42 ribu-48 ribu per krat

Peternakan ayam petelur (Dok.IDN Times/Istimewa)

Kata Sukasana, harga telur bergerak di kisaran Rp 42.000-Rp48.000 per krat di tingkat peternak sesuai ukuran, dengan semakin mengingkatnya permintaan. Harga ini naik setelah pasar sempat lesu. Harga telur pernah anjlok hingga sekitar Rp 40.000 per krat. Saat permintaan lesu, banyak peternak harus menjual murah untuk mengurangi stok. Meski terjadi kenaikan harga, Sukasana mengaku harga saat ini baru sebatas menutup biaya pakan.

”Kalau peternak yang menggunakan pakan jadi, biaya pakannya sekarang sekitar Rp43.000 per krat. Jadi harga sekarang baru impas, belum memberikan keuntungan,” katanya, Kamis (30/7/2026).

2. Kenaikan harga juga terjadi pada ayam boiler

Ilustrasi daging ayam. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Selain telur, lanjut Sukasana, kenaikan harga juga terjadi pada harga ayam broiler. Setelah MBG kembali berjalan, harga ayam hidup berada di kisaran Rp21.000 per kilogram. Namun meski mulai terjadi kenaikan harga, saat ini harga pokok produksi (HPP) telah mencapai sekitar Rp23.500 per kilogram.

“Meski harga jual mulai naik, sekarang peternak masih rugi. MBG memang membantu meningkatkan permintaan, tetapi belum mampu menutup tingginya biaya produksi,” katanya.

Sebagai peternak ayam, Sukasana mengaku sudah tiga minggu ia tidak memasukkan bibit ayam (DOC) karena tingginya biaya produksi. Harga DOC kini mencapai sekitar Rp8.000 per ekor. Sedangkan harga pakan pabrikan telah menembus lebih dari Rp5.000 per kilogram, naik dibanding sebelumnya yang masih berkisar Rp4.500 per kilogram.

3. Pemerintah diharapkan memperhatikan biaya produksi peternakan ayam

Ilustrasi MBG. (IDNTimes/Tunggul Damarjat)

Di tengah kenaikan harga jual, Sukasana berharap pemerintah tidak hanya mendorong peningkatan penyerapan hasil peternakan melalui MBG, tetapi juga memperhatikan keberlangsungan peternak masyarakat, terutama melalui kebijakan yang mampu menekan biaya produksi.

“Kalau hanya permintaan yang naik, sementara biaya produksi tetap tinggi, peternak masyarakat tetap sulit bertahan. Yang dibutuhkan sekarang bukan hanya pasar, tetapi juga kebijakan agar peternak tidak terus merugi,” ujarnya.

Editorial Team

Related Article