Pemkab Tabanan Targetkan Investasi Tahun 2026 Sebesar Rp1,2 Triliun

- Pemkab Tabanan menargetkan investasi tahun 2026 sebesar Rp1,2 triliun dengan fokus membenahi sistem pendataan dan memperkuat sektor prioritas.
- Keterbatasan SDM dan perbedaan metode pengumpulan data antara kabupaten dan provinsi menjadi tantangan utama dalam pemantauan realisasi investasi.
- Arah pengembangan investasi disesuaikan dengan tata ruang wilayah, menonjolkan sektor pariwisata pesisir, industri menengah, serta menjaga kawasan utara sebagai area lindung.
Tabanan, IDNTimes-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan menargetkan investasi di tahun 2026 ini sebesar Rp1,2 Triliun. Untuk mencapai target ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan mulai membenahi sistem pendataan investasi sekaligus mengarahkan pengembangan pada sejumlah sektor prioritas.
"Salah satu kendala yang dihadapi saat ini adalah proses pengumpulan data realisasi investasi di lapangan yang belum optimal," kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Tabanan, I Made Dedy Darmasaputra, Sabtu (14/3/2026).
1. Keterbatasan SDM jadi tantangan pendataan investasi

Dedy mengatakan selama ini pendataan investasi banyak mengacu pada Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) yang dilaporkan masing-masing investor. Namun, metode pengumpulan data antara pemerintah kabupaten dan provinsi berbeda sehingga memunculkan perbedaan angka realisasi. Hal ini bisa dilihat dari data realisasi tahun 2025.
Berdasarkan data Provinsi Bali, investasi Tabanan pada 2025 tercatat mencapai Rp1,7 triliun, bahkan realisasi yang dihimpun disebut menyentuh Rp2 triliun. Sementara dari data DPMPTSP Tabanan capaian investasi tahun 2025 hingga saat ini masih dalam proses identifikasi, di mana tercatat nilai investasi sekitar Rp900 miliar dari target awal Rp 1,1 triliun. "Perbedaan data ini terjadi karena metode pengumpulan data yang tidak sama," katanya.
Ke depan, DPMPTSP Tabanan berupaya meningkatkan pemantauan terhadap kegiatan penanaman modal yang sudah berjalan. Namun keterbatasan sumber daya manusia masih menjadi tantangan dalam menjangkau seluruh aktivitas investasi yang ada. “Kami akan mengintensifkan kembali pemantauan investasi yang sudah berjalan, termasuk yang masuk tahun 2026. Tetapi memang keterbatasan SDM membuat pengawasan belum sepenuhnya efektif,” ujar Dedy.
2. Trend Investasi Tabanan didominasi fasilitas penunjang pariwisata

Menurut Dedy untuk minat investor berinvestasi di Tabanan, saat ini cukup beragam. Namun, tren investasi masih didominasi pembangunan fasilitas penunjang pariwisata, sektor produksi, serta penguatan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
“Target investasi untuk Tabanan di tahun 2026 sebesar Rp1,2 triliun. Sektor yang cukup menonjol saat ini adalah pembangunan penunjang pariwisata, usaha produksi, serta UMKM yang mulai naik kelas,” ujarnya.
Untuk memperkuat arah investasi, Pemkab Tabanan telah menyusun Rencana Umum Penanaman Modal (RUPM) sebagai panduan bagi investor terkait sektor-sektor yang diprioritaskan, seperti sektor pengolahan dan industri. Di sisi lain, Pemkab Tabanan juga memperkuat layanan perizinan melalui Mall Pelayanan Publik yang menyediakan berbagai layanan dalam satu atap, termasuk ruang konsultasi bagi calon investor.
3. Pengembangan investasi diarahkan sesuai rencana tata ruang wilayah

Dedy melanjutkan pengembangan investasi di Tabanan juga diarahkan sesuai rencana tata ruang wilayah. Industri menengah diproyeksikan berkembang di kawasan peruntukan industri seperti di Sembung Kecamatan Kerambitan atau wilayah lain yang memiliki daya dukung lingkungan memadai.
Sementara itu, pengembangan pariwisata difokuskan pada kawasan pesisir yang memiliki kapasitas besar. Sedangkan wilayah Tabanan bagian Utara tetap dipertahankan sebagai kawasan hulu dan kawasan lindung agar tidak berkembang resort skala besar. “Untuk investasi pariwisata skala besar lebih diarahkan ke wilayah pesisir. Sementara kawasan utara harus dijaga sebagai kawasan lindung,” kata Dedy.

















