Menghadapi Standar Kecantikan Digital dengan Nilai Pancasila

- Media sosial memperkuat standar kecantikan tidak realistis yang memicu rasa tidak percaya diri dan body shaming di kalangan generasi muda.
- Nilai-nilai Pancasila, khususnya sila kedua dan kelima, menegaskan pentingnya menghargai martabat manusia tanpa membedakan penampilan fisik.
- Diperlukan kolaborasi pemerintah, pendidikan, dan masyarakat untuk menanamkan literasi digital serta body positivity agar ruang digital lebih sehat dan inklusif.
Kadek Frisca Dwi Savitri - Mahasiswi Semester 2 Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Undiksha.
Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Di balik kemudahan berkomunikasi dan memperoleh informasi, media sosial juga menghadirkan standar kecantikan yang sering kali tidak realistis.
Kulit harus putih dan mulus, tubuh harus langsing, wajah harus simetris, serta penampilan harus selalu terlihat sempurna. Standar tersebut terus diperkuat melalui filter digital, hasil edit foto, maupun konten para influencer yang kemudian membentuk persepsi masyarakat tentang arti "cantik".
Tidak sedikit yang akhirnya merasa kurang percaya diri karena tidak memenuhi standar tersebut. Fenomena body shaming, komentar negatif terhadap fisik, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain semakin sering ditemui di ruang digital. Padahal, setiap manusia lahir dengan keunikan dan kelebihannya masing-masing.
Sebagai seorang perempuan muda, saya juga pernah merasa tidak cukup cantik hanya karena tidak memiliki wajah yang dianggap sempurna oleh media sosial. Saat membuka Instagram atau TikTok, saya melihat begitu banyak perempuan dengan kulit mulus, tubuh ideal, dan fitur wajah yang tampak sempurna.
Tanpa saya sadari, saya mulai membandingkan diri sendiri dan bertanya, "Apakah saya juga harus seperti mereka agar bisa diterima?"
Perasaan itu mungkin juga dirasakan oleh banyak perempuan lain. Standar kecantikan yang dibentuk dunia digital sering kali membuat kita lupa bahwa setiap orang lahir dengan keunikan masing-masing.
Validasi dari jumlah likes, komentar, dan tren kecantikan perlahan menjadi ukuran harga diri. Padahal, nilai seorang perempuan tidak seharusnya ditentukan oleh bentuk tubuh, warna kulit, atau wajah yang sesuai standar tertentu.
Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa persoalan standar kecantikan digital bukan hanya berkaitan dengan kepercayaan diri individu, tetapi juga menyangkut cara masyarakat memandang dan menghargai sesama manusia.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, Pancasila sebagai dasar negara sesungguhnya telah memberikan pedoman mengenai bagaimana setiap individu seharusnya diperlakukan dan dihormati.
Pancasila sebagai dasar negara sekaligus pandangan hidup bangsa Indonesia memiliki nilai-nilai luhur yang patut diimplementasikan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam cara masyarakat memandang dan memperlakukan perempuan di era digital.
Di tengah derasnya arus informasi dan tren media sosial, nilai-nilai Pancasila dapat menjadi pedoman agar kemajuan teknologi tetap berjalan seiring dengan penghormatan terhadap martabat manusia.

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengajarkan bahwa setiap individu memiliki harkat dan martabat yang sama tanpa membedakan penampilan fisik, warna kulit, bentuk tubuh, maupun karakteristik lainnya. Nilai ini mengajak masyarakat untuk membangun budaya saling menghormati dan menghindari praktik body shaming maupun diskriminasi yang masih sering terjadi di ruang digital.
Selain itu, sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menegaskan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang dan merasa dihargai tanpa tekanan standar kecantikan tertentu. Perempuan seharusnya dinilai dari kemampuan, karakter, dan kontribusinya bagi masyarakat, bukan semata-mata dari penampilan fisiknya.
Nilai-nilai Pancasila mengajarkan kita untuk menghargai setiap manusia tanpa melihat penampilan fisiknya. Namun, agar nilai-nilai tersebut tidak hanya menjadi konsep yang dipahami, diperlukan upaya bersama untuk menghadirkannya dalam kehidupan nyata, termasuk di ruang digital yang kini menjadi bagian dari keseharian generasi muda.
Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama yang melibatkan pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, dan platform media sosial untuk menciptakan ekosistem digital yang lebih sehat.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dapat mengintegrasikan materi literasi digital, kesehatan mental, dan citra tubuh positif (body positivity) ke dalam pendidikan karakter di sekolah maupun perguruan tinggi. Edukasi ini penting agar generasi muda memahami bahwa apa yang mereka lihat di media sosial belum tentu menggambarkan realitas yang sebenarnya.
Selain itu, kampus dapat menjadi ruang yang mendukung penerimaan diri melalui seminar, diskusi, maupun kampanye tentang kesehatan mental dan body positivity yang melibatkan psikolog, akademisi, serta kreator konten edukatif.
Di balik berbagai upaya tersebut, saya menyadari bahwa perubahan juga harus dimulai dari diri sendiri. Menerima diri apa adanya bukan berarti berhenti berkembang, melainkan belajar menghargai diri tanpa terus membandingkan dengan orang lain. Setiap perempuan memiliki perjalanan, keunikan, dan kecantikannya masing-masing yang tidak dapat diukur oleh standar media sosial.
Media sosial memang akan terus berkembang dan tren kecantikan akan terus berubah. Namun, sebagai generasi muda, kita memiliki pilihan untuk tidak menjadikan standar tersebut sebagai ukuran nilai diri seseorang.
Dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari serta menumbuhkan kesadaran untuk saling menghargai, kita dapat membangun ruang digital yang lebih sehat, inklusif, dan beradab.
Sebab, setiap perempuan tidak harus menjadi sempurna untuk menjadi berharga. Nilai seseorang tidak terletak pada wajah yang memenuhi standar, melainkan pada karakter, empati, dan kontribusi yang ia berikan kepada sesama.







![[QUIZ] Tebak Sarana Upacara Hari Raya Kuningan di Bali](https://image.idntimes.com/post/20241215/whatsapp-image-2024-12-15-at-203727-2-0c066273f6e34f67cb372ed9ba2c1153.jpeg)
![[QUIZ] Pilih Warna Kebaya Hari Raya Kuningan, Kami Tebak Kepribadianmu](https://image.idntimes.com/post/20250318/sembahyang-e175209746a620a34b85b1d6e1693ac6.jpg)








