Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Lukisan Kayu Jati Reject Karya Sution Dipamerkan di Tanah Lot
I Wayan Sution memegang salah satu karya lukisan kayu jati di Festival Tanah Lot, Jumat (28/8/2026). (IDN Times/Wira Sanjiwani)
  • Seniman Tabanan I Wayan Sution mengolah kayu jati reject dari pabrik mebel menjadi lukisan unik, dengan serat serta lubang alami kayu justru diminati pembeli.
  • Lukisan yang umumnya bertema tokoh wayang dikerjakan sekitar dua hari dan dijual Rp250 ribu-Rp300 ribu; Sution juga menerima pesanan gambar khusus dengan harga berbeda.
  • Karya Sution dipamerkan di Tanah Lot Art and Food Festival VII pada 28-30 Agustus 2026 sebagai upaya memperkenalkan merek, sementara produksi dilakukan untuk pameran atau pesanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    I Wayan Sution memamerkan lukisan di atas kayu jati reject, yang umumnya menampilkan tokoh wayang, dalam Tanah Lot Art and Food Festival VII.
  • Who?
    I Wayan Sution, seniman asal Banjar Puseh, Desa Kediri, Kecamatan Kediri, Tabanan, memproduksi dan memamerkan karya tersebut.
  • Where?
    Pameran berlangsung di Tanah Lot, Tabanan. Sution juga memiliki studio Art Creative di Banjar Puseh, Desa Kediri, Kecamatan Kediri.
  • When?
    Tanah Lot Art and Food Festival VII berlangsung pada 28 hingga 30 Agustus 2026. Sution menyelesaikan satu lukisan kayu jati dalam waktu sekitar dua hari.
  • Why?
    Sution memanfaatkan kayu jati reject dari pabrik mebel menjadi lukisan serta mengikuti pameran dan festival untuk membangun branding karyanya.
  • How?
    Kayu jati diserut lalu dilukis, dengan serat, bentuk tidak rata, atau lubang pada kayu menjadi ciri karya. Harga pameran dipatok Rp250 ribu hingga Rp300 ribu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tabanan, IDN Times - Ide kreatif muncul dalam pikiran seniman asal Tabanan, I Wayan Sution, ketika melihat ada kayu jati yang tidak terpakai dalam pembuatan membel. Sution kemudian berkreasi mengubah kayu reject ini menjadi lukisan.

Hasilnya adalah seni yang tidak bisa ditiru. Sebab, setiap lembar kayu jati mempertunjukkan serat khas tersendiri yang menonjolkan lukisan di atasnya. Lukisan kayu jati ini bisa ditemui di Tanah Lot Art and Food Festival VII yang berlangsung dari 28-30 Agustus 2026.

1. Pembuatan lukisan kayu jati membutuhkan waktu dua hari

Lukisan kayu jati di Festival Tanah Lot (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Sution mendapat bahan baku kayu jati dari pabrik mebel di dekat rumahnya. Sution yang berasal dari Banjar Puseh, Desa Kediri, Kecamatan Kediri ini bisa menyelesaikan lukisan kayu jati dalam dua hari, dari proses penyerutan kayu sampai melukis.

Para pembeli justru menyukai bentuk kayu dan seratnya yang tidak sama. Mereka bahkan lebih tertarik pada lukisan yang kayunya agak bocel atau berlubang di tengahnya.

"Kayu yang bolong di tengah ini dibuang dan tidak dipakai pabrik pembuatan mebel. Tetapi ketika dibuat lukisan, ini yang membuat pembeli tertarik," katanya.

2. Harga lukisan dipatok mulai dari Rp250 ribu

Lukisan kayu jati di Festival Tanah Lot (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Lukisan kayu jati yang dipamerkan di Festival Tanah Lot sebagian besar menonjolkan tokoh-tokoh wayang. Harga dipatok dari Rp250 ribu hingga Rp300 ribu.

"Sebenarnya kalau harga saya tidak memberikan harga mati segitu. Jika pembeli menghargai hasil seni lukis saya dan nyambung mengobrol soal seni, bisa saya berikan harga lebih murah," kata Sution.

Ia mengaku baru saja menekuni lukisan di atas kayu jati ini. Stok lukisan pun dibuat hanya saat mengikuti pameran ataupun festival. Kalau hari biasa, Sution baru melukis jika ada pesanan.

"Selain ide dari saya, banyak juga yang meminta custom. Jadi konsumen meminta lukisan tertentu atau memberikan contoh gambar yang harus dilukis. Kalau untuk custom ini harganya bisa beda," kata Sution.

3. Mengikuti pameran dan festival untuk bangun branding

I Wayan Sution memegang salah satu karya lukisan kayu jati di Festival Tanah Lot, Jumat (28/8/2026). (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Sution biasanya membuat lukisan kayu jati saat mengikuti pameran dan festival. Ini menjadi caranya membangun brand agar lebih dikenal secara luas. Sebab, menjual lukisan di zaman sekarang cukup sulit.

"Jadi dengan ikut ke pameran maupun festival seperti ini, saya membangun branding, sehingga karya saya lebih dikenal," katanya.

Selain lukisan di atas kayu jati, Sution juga melukis di atas kanvas yang dipatok mulai Rp3 juta. Ia juga membuat kerajinan ogoh-ogoh mini yang biasanya pemesanan membeludak menjelang Hari Raya Nyepi.

Sution juga memiliki studio bernama Art Creative yang berlokasi di Banjar Puseh, Desa Kediri, Kecamatan Kediri.

"Jika ingin melihat lukisan saya yang lain, bisa datang ke studio," ujarnya.

Editorial Team

Related Article