Makna Tirta Penembak dalam Upacara Ngaben

- Tirta Penembak merupakan air suci wajib dan pertama dipercikkan dalam Ngaben untuk menyucikan atma, mengembalikan Panca Maha Bhuta, serta melepaskan ikatan Panca Maya Kosa.
- Pengambilan Tirta Penembak dilakukan oleh anak atau sentana di lokasi sakral yang ditetapkan desa adat, dengan tata cara khusus sebagai wujud bhakti kepada orang tua dan leluhur.
- Di setra, Tirta Penembak dipercikkan dari kepala dan kaki hingga bertemu di tengah jenazah sebelum tirta lain digunakan; tanpa prosesi ini, tirta berikutnya belum bermakna.
Ngaben mungkin jadi upacara yang paling dikenal orang luar Bali. Upacara ini merupakan bagian dari Pitra Yadnya, yaitu persembahan suci untuk leluhur dengan tujuan mengembalikan unsur-unsur yang membentuk tubuh manusia atau Panca Maha Bhuta (tanah, air, api, angin, dan angkasa) kembali ke alam asalnya.
Nah, dalam rangkaian ngaben, ada banyak sarana penting yang wajib disiapkan. Satu di antara yang paling utama, bahkan jadi syarat mutlak, adalah Tirta Penembak.
Apa itu Tirta Penembak? Yuk, simak penjelasan berikut yang dikutip dari sebuah jurnal berjudul Eksistensi Tirta Penembak dalam Upacara Ngaben di Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat yang ditulis oleh I Made Kukuh Redana.
1. Makna dan fungsi Tirta Penembak

Proses mencari Tirta Penembak. (YouTube.com/wahyu kencana boy) Tirta Penembak bukan sekadar air suci biasa yang tinggal diciduk dari mana saja. Air ini dianggap sakral karena dipercaya menjadi tirta pertama yang wajib dipercikkan ke jenazah atau layon, sebelum tirta-tirta lain seperti tirta pembersihan, pelukatan, sampai pengentas bisa dituangkan atau diperciki oleh sulinggih. Jadi bisa dibilang, Tirta Penembak ini semacam kunci pembuka jalan spiritual buat roh yang sedang diupacarai.
Ada beberapa fungsi dari air suci ini. Pertama, Tirta Penembak jadi sarana penyucian atma atau roh, biar unsur-unsur Panca Maha Bhuta yang membentuk tubuh manusia benar-benar bisa kembali ke asalnya dengan sempurna.
Kedua, air ini juga punya makna sebagai pembelajaran bhakti, khususnya penerapan Catur Bhakti kepada Catur Guru, satu di antaranya Guru Rupaka atau orang tua sendiri. Ketiga, Tirta Penembak dipercaya melepaskan unsur pembungkus yang disebut Panca Maya Kosa, semacam lapisan yang mengikat roh yang membuat sulit lepas dari badan kasarnya menuju kesucian sejati.
Makanya, mencari Tirta Penembak bukan cuma soal ritual formalitas saja. Ini adalah bentuk bhakti paling nyata dari anak kepada orang tua yang sudah meninggal, sebagai ungkapan terima kasih karena sudah dibesarkan dan dididik sampai dewasa.
2. Lokasi dan tata cara mengambil Tirta Penembak

Wadah untuk menaruh Tirta Penembak. (YouTube.com/Ida Widnyana) Tidak sembarang orang bisa mengambil Tirta Penembak. Tugas ini wajib dilakukan oleh sentana atau anak dari orang yang meninggal, sebagai simbol bhakti langsung dari keturunan kepada leluhurnya. Biasanya, lokasi tempat mengambil Tirta Penembak ini sudah ditentukan oleh desa adat setempat. Biasanya dari sungai-sungai yang dianggap keramat atau di campuhan yang merupakan pertemuan dua aliran sungai atau lebih.
Proses pengambilannya juga tidak sembarang. Air diambil dengan tata cara khusus, mengikuti arah dari hulu ke hilir dan sebaliknya, sebagai simbol bahwa penyucian harus dilakukan terus-menerus, seperti aliran air yang tidak pernah putus. Bisa dikatakan filosofinya adalah keturunan yang ditinggalkan terus berbuat kebajikan sepanjang hidupnya, agar bisa memberi ketenangan buat roh leluhur di alam sana.
Beberapa desa juga memiliki tata cara khusus saat mengambil Tirta Penembak. Ada yang tidak boleh menoleh ke belakang, tidak berbicara, hingga ada yang tanpa penerangan atau hanya menggunakan lampu tradisional.
Tata cara ini juga disesuaikan dengan perkembangan saat ini, serta situasi dan kondisi di lokasi tempat mengambil tirta tersebut. Tirta Penembak ini biasanya diambil saat tengah malam sebelum upacara ngaben. Setelah diambil, wadah tirta tersebut diletakkan di tempat upacara yang telah ditentukan.
3. Kapan Tirta Penembak digunakan?

Proses mearuh Tirta Penembak yang telah diambil di sungan. (YouTube.com/SHACHO BALI) Tirta Penembak digunakan saat prosesi di setra (kuburan) atau area pembakaran jenazah. Jenazah akan diarak mengelilingi tempat pembakaran sebanyak tiga kali kemudian, jenazah diletakkan di tempat pembakaran. Setelah ikatan pembungkus jenazah dibuka barulah prosesi untuk menuangkan atau memerciki tirta dilakukan. Tirta Penembak menjadi tirta yang pertama kali dipercikkan.
Anak atau perwakilan anggota keluarga bersama sulinggih melalukan prosesi memercikkan Tirta Penembak. Diawali dari kepala menuju kaki dan dari kaki menuju kepala secara bersamaan, sampai bertemu di bagian tengah tubuh jenazah. Barulah setelah itu, sulinggih melanjutkan dengan tirta-tirta lain seperti tirta pembersihan, pelukatan, dan pengentas.
Menariknya, kalau Tirta Penembak belum dipercikkan, tirta-tirta lainnya tidak boleh dipercikkan. Hal ini karena tirta yang lain dianggap belum punya makna apa pun. Karena, roh dipercaya masih terikat oleh ikatan duniawi dan belum sepenuhnya terbebas dari badan kasarnya.
Dari penjelasan ini terlihat bahwa Tirta Penembak bukan sekadar pelengkap upacara ngaben, tapi jadi elemen paling utama yang wajib ada. Kamu pernah mengikuti prosesi ini? Yuk, cerita di kolom komentar!

















![[QUIZ] Pilih Tipe Mebraya di Banjar, Ini Pokemon Master Mirip Kamu](https://image.idntimes.com/post/20230722/untitled-3abfff326b6682096eec0c8e18b4987a.png)




