ilustrasi permainan judi (Dok.IDN Times/ Istimewa)
Seorang pejudi online berinisial RY mengaku pernah menang Rp15 juta hanya dengan modal Rp300 ribu. Ketertarikannya kepada judi online ini karena diajak temannya pada awal tahun 2019. Biaya membernya sebesar Rp50 ribu. Kalau ia mengajak orang lain, nantinya akan mendapatkan bonus awal 10 persen dari uang yang disetor. Kemudian pada setoran kedua dan seterusnya mendapatkan 1 persen.
Setiap hari ia merogoh kocek Rp300 ribu hingga Rp500 ribu untuk judi online togel. Ia pernah menang mulai dari Rp2 juta hingga Rp15 juta. Uang tersebut terkadang digunakan untuk membayar uang sekolah anaknya.
RY justru tidak setuju dengan adanya kebijakan pemberantasan judi online saat ini. Ia berpendapat, lebih baik kegiatan ini dilegalkan namun dibebani pajak, seperti beberapa negara di Eropa.
“Main setiap hari. Kadang bisa Rp500 ribu. Kadang Rp300 ribu. Kan gak selalu kalah. Ketagihan, seru nunggunya itu lho. Beli angka sekian, keluar angka berapa, ada sensasi harapanlah,” katanya.
Ia menekankan agar judi ini tidak dilihat dari segi mata pencaharian, karena tentu saja dampaknya menghancurkan ekonomi. Melainkan harus dilihat sebagai hiburan. Sejauh ini juga tidak terjadi konflik dalam rumah tangganya karena dia hobi judi online.
“Kalau menang, istri malah senang. Asal jangan ketahuan kalah,” ungkapnya.
Sidak judi online di Kuta, amankan 9 orang. (Dok.IDN Times/Polresta Denpasar)
Cerita RY cukup menarik. Permainan mengundi nasib ini juga diketahui sang istri. Maka, RY hanyalah fokus kepada kemenangan. Tubuhnya secara otomatis memicu hormon adrenalin untuk tetap fight atau flight, jika dia kalah.
Sekarang kembali ke cerita awal, apakah Polresta Denpasar hanya fokus pada perjudian online? Bagaimana dengan judi tajen atau sabung ayam yang diduga juga banyak dilakukan di wilayah hukumnya? Kombespol Bambang Yugo Pamungkas mengatakan akan menindak tegas jika hal tersebut ditemukan.
“Kalau kami temukan, kami hajarlah!” katanya.
Lalu apa respon masyarakat melihat hal ini? Seorang narasumber berinisial DA menceritakan saudaranya adalah pemain judi tajen yang berlangsung sejak puluhan tahun. Selain hiburan, judi tajen yang dilakoni oleh saudaranya tersebut juga dianggap dapat membantu perekonomiannya.
Misalnya, ia menang judi tajen. Uang judi tersebut digunakan untuk membayar angsuran berbagai perlengkapan rumah tangganya. Jadi pemberantasan judi yang digembar-gemborkan saat ini tentu saja memengaruhi aktivitas saudaranya.
“gak pernah nyusahin. Duit-duit dia sendiri. Hidup dan hiburannya dia dari sana. Tidak memberatkan keluarga. Kadang-kadang kalau menang, buat bayar kreditan,” jelasnya.