Denpasar, IDN Times - Gubernur Bali Wayan Koster mengakui bahwa Bali tengah menghadapi sejumlah masalah serius, khususnya berkaitan dengan lingkungan hingga ketahanan sosial. Melalui Gelar Agung Pecalang se-Bali tahun 2026 di Lapangan Niti Mandala Renon Denpasar, Koster menyampaikan masalah itu adalah efek dari pembangunan di Bali.
“Saat ini Bali menghadapi masalah serius, tingginya alih fungsi lahan, sampah tidak terkelola dengan baik, kerusakan ekosistem lingkungan, ancaman ketersediaan air bersih, kemacetan, menurunnya ketahanan sosial kehidupan masyarakat Bali,“ kata Koster pada Sabtu (7/3/2026).
Masalah sampah, misalnya, rencana penutupan operasional Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung belum terlaksana. Pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup RI sudah memerintahkan penutupan TPA Suwung karena beroperasi dengan sistem pembuangan terbuka atau open dumping. Sistem tersebut melanggar ketentuan regulasi pengelolaan sampah. Sementara, saat TPA Suwung akan tutup pengelola sampah swakelola mengeluhkan ketiadaan solusi pengganti TPA Suwung.
Koster menilai, penanganan sejumlah persoalan itu krusian dilakukan sejak di skala desa adat. Antisipasi dampak sosial yang terjadi, imbuhnya, membutuhkan sistem pengamanan lingkungan berbasis desa adat.
“Oleh karena itu, mengantisipasi terjadinya dampak sosial tersebut diperlukan suatu sistem untuk pengamanan lingkungan yang memadai berbasis desa adat,“ ujar Koster.
Ia menegaskan bahwa pengamanan lingkungan berbasis desa adat melibatkan pecalang. Koster mengatakan bahwa pecalang adalah satu dari berbagai unsur desa adat yang dapat terlibat menjaga kondisi lingkungan.
“Pecalang harus mempunyai kapasitas yang memadai untuk mengantisipasi berbagai bentuk gangguan keamanan dan ketertiban yang terjadi di desa adat,“ imbuhnya.
