Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jenis-Jenis Cetik di Bali, Racun Tradisional dan Penangkalnya
foto hanya ilustrasi (freepik.com/prostooleh)
  • Cetik dipaparkan sebagai racun tradisional Bali berbahan tumbuhan, hewan, atau logam, dengan unsur olah batin niskala, dan berbeda dari ilmu pengeleakan.
  • Lontar Usada Cetik yang tersimpan di Dinas Kebudayaan Bali mencatat jenis serta penangkalnya; bahan racun dan obat disebut berasal dari alam.
  • Jenis yang dijelaskan meliputi Cetik Gringsing, kerikan gangsa, dan ceroncong polo, dengan sasaran gejala berbeda pada hati, jantung, atau otak serta ramuan penanganan masing-masing.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Cetik digambarkan sebagai racun tradisional Bali yang dibuat dari bahan alami, hewani, atau logam tertentu, dan dibedakan dari ilmu pengeleakan.
  • Who?
    I Gede Suprapta, penekun spiritual dari Klungkung, menerangkan jenis cetik dan penangkalnya berdasarkan lontar Usada Cetik.
  • Where?
    Informasi ini berkaitan dengan Bali; lontar Usada Cetik disebut berasal dari Karangasem dan tersimpan di Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.
  • When?
    Cetik disebut telah dikenal masyarakat Bali sejak ratusan tahun lalu. Lontar Usada Cetik juga disebut berusia ratusan tahun.
  • Why?
    Penjelasan disampaikan karena cetik dinilai masih kerap ditafsirkan sebagai ilmu mistis, padahal disebut menggunakan bahan dasar dari alam.
  • How?
    Menurut Suprapta, cetik diracik melalui bahan seperti kepiting, logam, dan tumbuhan dengan olah niskala; penangkalnya menggunakan ramuan alami sesuai jenisnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di Bali ada cetik, yaitu racun lama dari bahan alam seperti tumbuhan, hewan, dan logam. Pak I Gede Suprapta bilang cetik beda dengan ilmu leak. Ada cetik dari kepiting, gamelan, dan bahan lain. Racun ini bisa bikin orang sakit. Orang dulu memakai air kelapa, jamu, dan bahan alam untuk menolong.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Masyarakat di Bali tentu tidak asing dengan cetik. Cetik merupakan racun tradisional Bali yang sudah melegenda sejak ratusan tahun lalu. Namun masyarakat masih banyak yang salah menafsirkan. Seperti yang diungkapkan seorang penekun spiritual dari Klungkung, I Gede Suprapta.

Menurutnya, cetik tidak sepenuhnya ilmu mistis seperti halnya pengeleakan. Namun lebih kepada racun tradisional Bali yang bisa dibuat khusus dari pati tumbuhan, hewani, atau logam tertentu yang memiliki sifat racun kuat dan mematikan, serta diracik dengan olah batin niskala. Berikut ini jenis-jenis cetik dan cara menangkal racunnya.

1. Ilmu cetik termasuk jenis racun tradisional yang diambil dari bahan-bahan alami

Ilustrasi (IDN Times/Sunariyah)

Gede Suprapta mengungkapkan, jenis-jenis cetik dan obatnya tertuang dalam lontar Usada cetik, yang saat ini masih tersimpan di Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Lontar yang sudah berusia ratusan tahun tersebut diketahui berasal dari Kabupaten Karangasem.

"Bagi penekun spiritual, Karangasem dikenal sebagai wilayah yang istimewa. Karena daerah ini menyimpan banyak referensi tentang ilmu pengobatan, pengeleakan, dan sejenisnya," kata Suprapta.

Cetik sebenarnya sejenis racun tradisional yang diracik menggunakan bahan-bahan alami di alam. Karena diambil dari alam, maka penangkalnya pun ada di alam.

"Memang racun ini juga dibuat dengan olahan niskala, namun tetap bahan dasarnya merupakan bahan alam. Jadi cetik bukanlah hal yang selalu niskala, dapat dijelaskan secara ilmiah," jelasnya.

2. Cetik Gringsing merupakan racun tradisional yang terbuat dari yuyu gringsing atau jenis kepiting dari klasifikasi xanthiade

foto hanya ilustrasi (pexels.com/Pixabay)

Biasanya kepiting beracun yang dimanfaatkan untuk ini sejenis atergatis floridus. Kepiting ini nantinya dimasukkan ke dalam botol, dan disimpan dalam tanah selama berbulan-bulan untuk mendapatkan ektraknya secara alami sampai menghasilkan minyak. Minyak inilah yang digunakan sebagai cetik.

"Cetik ini biasanya menyerang organ hati dan jantung orang. Pertolongan pertama untuk cetik jenis ini biasanya dengan meminum bungkak atau air kelapa yang masih muda. Itu diminum setiap hari, sampai gejala mereda," jelas Suprapta.

3. Cetik kerikan gangsa, racun populer di Bali yang menggunakan gamelan

foto hanya ilustrasi (IDN Times/Daruwaskita)

Cetik ini dipercaya terbuat dari karikan gansa (Gamelan) berbahan perunggu, serta dicampur medang (Bulu halus pada bambu). Konon, cetik ini bekerja langsung menyerang organ hati, dengan ciri-ciri penderitanya sakit lever, yaitu mata dan kulit menguning.

"Perbedaannya jika terkena cetik ini, bisa diikuti dengan muntah darah. Jika dilogikakan, perunggu ini merupakan timbal atau logam, yang tentu sangat berbahaya jika masuk ke tubuh," terang Suprapta.

Untuk menangkalnya bisa menggunakan putih telur yang direbus, temutis (curcuma purpurancens Bl. zingiberaceae), rumput lepas, dan jeruk kemudian dijadikan sebagai loloh atau jamu. Ramuan itu dapat diminum langsung oleh penderitanya.

4. Cetik ceroncong polo

ilustrasi keong (unsplash.com/Zdeněk Macháček)

Menurut lontar, cetik croncong polo termasuk jenis racun yang paling berbahaya dan mematikan karena langsung menyerang otak. Gejalanya seperti sakit kepala berat sebelah atau seluruhnya, mata merah melotot, benda-benda yang dilihatnya terasa berputar, dan telinga seperti tertusuk hingga terasa berdengung.

Cara menangkalnya adalah memakai keong kraca (Keong sawah), madu klupa (Madu kental seperti menyan), belerang merah, dan air jeruk.

Air belerang merah dimasak bersama keong kraca, madu, air jeruk, minyak kelapa lalu diteteskan pada hidung penderita. Sementara di bagian pelipisnya tempelkan daun kelor yang dicampur dengan minyak ular.

Selain itu juga dapat membuat obat untuk diminum (Loloh atau jamu) dari air tumbuhan cendana cenggi, yang diisi dengan air jeruk.

Itulah jenis-jenis cetik di Bali dan cara menangkalnya. Ini bagian ilmu yang harus kamu ketahui saja ya. Semoga manusia di Bumi benar-benar menjalani kehidupannya secara normal, dan memercayai Tuhan YME sebagai penolongnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article