Dua Dekade Ahmad Nung Asal Karangasem Nabung Buat Haji

- Ahmad Nung, pedagang kacamata keliling asal Karangasem berusia 75 tahun, akhirnya akan menunaikan ibadah haji setelah menabung selama dua dekade dari hasil jualannya.
- Nung mulai bekerja sejak usia 15 tahun dan dengan tekad kuat menyisihkan penghasilan kecilnya demi mewujudkan impian berhaji, dibantu anak serta keponakannya untuk melengkapi biaya keberangkatan.
- Sebelum berangkat bersama 29 jemaah asal Karangasem, Nung berharap diberi kesehatan selama ibadah dan mendoakan agar anak-anaknya kelak juga bisa menunaikan haji.
Karangasem, IDN Times - Ahmad Nung bisa tersenyum lega di usia 75 tahun. Pedagang kacamata keliling asal Lingkungan Telaga Mas, Kelurahan Subagan, Kabupaten Karangasem itu akan segera berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji, mimpi yang ia perjuangkan selama puluhan tahun.
Raut bahagia tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Dengan suara pelan dan mata berbinar, Nung masih sulit percaya bahwa dirinya benar-benar akan berangkat tahun ini.
“Senang sekali, bahagia karena akhirnya bisa berangkat naik haji,” ujarnya sambil tersenyum, Kamis (7/5/2026).
Namun, perjalanan menuju momen itu bukanlah kisah yang singkat. Di balik kebahagiaannya, ada cerita panjang tentang kerja keras, kesabaran, dan perjuangan hidup yang tak mudah.
1. Berjualan sejak usia 15 tahun

Nung berasal dari keluarga sederhana. Sejak remaja, tepatnya saat berusia 15 tahun, ia sudah turun ke jalan membantu ekonomi keluarga. Berbekal dagangan kacamata dan aksesori sederhana, ia berkeliling dari satu tempat wisata ke tempat lainnya di Karangasem.
Dari hasil jualannya itulah ia bertahan hidup sekaligus membesarkan tujuh anaknya. Di tengah kondisi ekonomi yang pas-pasan, Nung diam-diam menyimpan satu cita-cita untuk menunaikan ibadah haji. Keinginan itu dia perjuangkan dengan cara sederhana, yakni menyisihkan sebagian penghasilannya sedikit demi sedikit setiap hari.
“Kadang nabung Rp100 ribu, kadang Rp200 ribu. Kalau jualannya ramai ya bisa sisihkan. Kalau sepi ya tidak nabung,” katanya.
Bagi sebagian orang, nominal itu mungkin terlihat kecil. Namun bagi Nung, uang receh hasil berjualan keliling itulah yang perlahan mendekatkannya pada impian pergi ke Tanah Suci.
2. Menabung selama 20 tahun

Butuh waktu sekitar dua dekade bagi Nung untuk mengumpulkan biaya haji. Ia tidak pernah benar-benar menghitung berapa total uang yang sudah ditabung selama ini. Yang ia tahu, dirinya harus terus berusaha dan tidak menyerah. Meskipun juga harus memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai anak-anaknya, tekadnya tak pernah surut.
“Yang penting niat dan terus berusaha,” ujarnya singkat.
Perjuangan itu terwujud di usia senja. Meski begitu, Nung mengaku biaya keberangkatannya belum sepenuhnya cukup. Beruntung, anak dan keponakannya ikut membantu menutupi kekurangan biaya agar ia bisa berangkat tahun ini.
“Untung ada anak dan ponakan yang bantu sedikit,” ucapnya lirih.
3. Berharap anak-anaknya juga bisa naik haji

Kini, yang paling ia harapkan adalah kesehatan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Seluruh proses ibadahnya berjalan lancar dan bisa pulang dengan selamat. Nung juga menyimpan doa sederhana untuk keluarganya.
“Semoga nanti anak-anak saya juga bisa menyusul berangkat haji,” katanya.
Sebelum keberangkatan, Nung bersama puluhan calon jemaah haji asal Karangasem bersilaturahmi ke kediaman tokoh masyarakat Karangasem, I Gusti Made Tusan pada Selasa lalu, 5 Mei 2026.
Kepala Sub Bagian Tata Usaha (Kasubag TU) Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Karangasem, H Muhammad Syaid, menjelaskan awalnya terdapat 33 calon jemaah haji asal Karangasem. Namun dua orang bergabung dari Kota Denpasar, satu orang mutasi ke Kabupaten Jembrana, dan satu calon jemaah meninggal dunia. Dengan demikian, jumlah jemaah asal Karangasem yang diberangkatkan tahun ini sebanyak 29 orang.
“Seluruh jemaah sudah diberikan dukungan penuh hingga keberangkatan ke Mekkah. Selain itu ada enam orang pendamping yang mengantar sampai Surabaya,” jelasnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat Karangasem, I Gusti Made Tusan, mengingatkan para jemaah agar menjaga kebersamaan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
“Berangkat sehat dan pulang selamat. Tetap saling menghargai dan jangan terpisah-pisah selama menjalankan ibadah,” pesannya.


















