Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ciri-Ciri Pasangan Memanipulasi Kamu

Ilustrasi pasangan (Pexels.com/Ron Lach)
Ilustrasi pasangan (Pexels.com/Ron Lach)

Penulis: Ufiya Amirah

Teknik manipulasi atau tipu daya dilakukan untuk mendapatkan keuntungan sepihak, baik dari segi materi dan/atau nonmateri. Teknik ini tentunya tidak menggunakan perasaan cinta dan kasih, melainkan sebaliknya: jahat dan merugikan.

Dalam kondisi seperti itu, tidak jarang korban justru keliru mempersepsikan taktik muslihat pelaku. Dikira sayang, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Berikut ini ciri-ciri pasangan manipulasi kamu. Jangan sampai lengah.

1. Posesif berlebihan untuk mengontrol pasangannya

Ilustrasi pasangan (Pexels.com/Budgeron Bach)
Ilustrasi pasangan (Pexels.com/Budgeron Bach)

Profesor Psikologi John Jay College of Criminal Justice, Chitra Raghavan, dalam New York Times edisi 10 Januari 2022, menyebutkan bahwa seorang pelaku akan memberikan Love Bombing atau kasih sayang berlebih untuk mengontrol pasangannya.

Pelaku memberikan perhatian lebih untuk mendapatkan kesan korban bahwa ia memang benar-benar peduli. Padahal, pelaku tidak melakukannya atas dasar cinta, melainkan untuk memuaskan ego pribadi dengan mengontrol kehidupan pasangannya dengan begitu ketat.

Hubungan yang sehat adalah memberikan kebebasan secara demokratis pada pasangannya tanpa posesif berlebih. Jadi jangan terlalu senang ya kalau pasanganmu sering meneror 24/7. Bukan karena perhatian, tapi itu posesif toxic!

2. Pasangan selalu membuatmu merasa salah dan ketergantungan

Foto hanya ilustrasi. (pexels.com/pixabay)
Foto hanya ilustrasi. (pexels.com/pixabay)

Ada yang pernah ketergantungan dengan pasangan lantaran sering kali selalu merasa bersalah? Ini adalah gejala kamu sedang dimanipulasi. Gaslighting digunakan untuk memperdaya korban bahwa kesalahan pelaku disebabkan oleh kesalahan korban. Oleh karena itu, korban selalu merasa ragu atas segala keputusannya.

Paige L.Sweet dalam tulisannya The Sociology of Gaslighting yang diterbitkan pada 2019, menjelaskan bahwa gaslighting berlangsung atas adanya ketimpangan relasi kuasa dan diskriminasi gender.

Dalam hal relasi kuasa, siapa yang bergantung terhadap siapa yang memiliki power, masuk dalam kategori relasi toxic. Pelaku akan memanfaatkan kuasanya dengan sifat ketergantungan korban agar korban tetap bertahan dalam kuasanya.

"Aku selingkuh karena kamu cuek ke aku."

Walaupun sakit hati, korban akan menganggap bahwa perselingkuhan tersebut disebabkan oleh dirinya sendiri. Padahal, setiap individu memiliki tanggung jawab sendiri atas tindakan yang diperbuatnya.

3. Memoroti keuangan dengan iming-iming cinta dan sayang

ilustrasi pasangan kekasih (pexels.com/Polina Zimmerman)
ilustrasi pasangan kekasih (pexels.com/Polina Zimmerman)

Mengacu pada Laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (2019), semenjak pandemik, segala aktivitas mulai masif dilakukan secara digital. Bahkan, interaksi kontak yang berpasangan juga turut dilakukan menggunakan metode online. Sudah bukan hal yang tabu lagi, apabila relasi romantis diawali perkenalan, lalu jadian via media maya.

Dunia digital semakin memudahkan pelaku untuk melakukan Love Scam kepada korban guna mendapatkan keuntungan materi. Sesudah dekat dengan korban secara emosional, pelaku akan menuntut korban untuk memenuhi hasrat seksualnya via daring.

Biasanya foto dan/atau video telanjang korban akan dijadikan alat untuk mengeksploitasi korban. Pelaku akan meminta uang dengan nominal tertentu kepada korban. Apabila tidak diberikan, dokumentasi tersebut akan disebarluaskan.

Ibarat benalu, pelaku akan memoroti keuangan korban dengan iming-iming cinta dan sayang. Bestie, kalo pasangan memang cinta, sharing cost atau berbagi keuangan dilakukan secara demokratis, bukan eksploitatif. Hak dan kewajiban seseorang haruslah setara.

4. Terbangun kedekatan dengan cara yang tidak wajar

Ilustrasi pasangan memegang kartu kredit (freepik.com/freepik)
Ilustrasi pasangan memegang kartu kredit (freepik.com/freepik)

Tiba-tiba ada seseorang yang datang ke hidup kamu. Lalu beberapa waktu setelah kenal, kemudian meminta komitmen bersama, memberikan banyak hadiah, suka mencuri perhatian orangtua, dan akhirnya berstatus pasangan. Well, bukankah hal demikian sudah menjadi siklus yang lumrah?

Korban usia anak menjadi korban terbanyak dari manipulasi Grooming. Anak kecil yang polos diperdaya pelaku untuk memenuhi hasrat seksualnya. Kekerasan seksual seringkali terjadi karena grooming tanpa disadari korban. Namun demikian, bukan mustahil, bahwa orang-orang dewasa juga mungkin menjadi korban manipulasi groomer.

Dilansir dari womenagaintscrime.com, ada beberapa modus groomer yang dapat diketahui, di antaranya:

  • Pelaku mendekati korban dengan menanyakan masalah keluarga, trauma psikis, sirkel pertemanan untuk mengukur kerentanan korban
  • Selanjutnya, pelaku akan berupaya mendapatkan kepercayaan korban dengan berbagi rahasia satu sama lain
  • Setelah korban ketergantungan secara psikis maupun fisik terhadap pelaku, groomer akan memanfaatkan korban untuk pemenuhan kebutuhan materi (uang) dan/atau non materi (hasrat seks)
  • Siklus ini akan terus berulang, kecuali korban berani memutus rantai relasi toxic tersebut.

Nah itu ciri-ciri pasangan telah memanipulasi kamu. Pada intinya jangan mudah percaya dengan orang baru. Berbagi rahasia diri bukan berarti ia peduli. Hati-hati dimanipulasi ya!

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
Ni Ketut Sudiani
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest News Bali

See More

2 Kasus Kekerasan Seksual di Buleleng Masuk Tahap Penyidikan

01 Feb 2026, 14:37 WIBNews