Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Barantin-UNUD Teken Kerja Sama Riset dan SDM Untuk Respons Isu Penting

BBKHIT Bali
Barantin dan UNUD teken MoU tahun 2026 (IDN Times/Ayu Afria)
Intinya sih...
  • Barantin dan Universitas Udayana meneken MoU dan PKS untuk sinergi karantina, tridarma, riset, teknologi, serta penguatan SDM melalui empat fakultas terkait.
  • Barantin ingin tindakan karantina berbasis justifikasi ilmiah, termasuk respons isu penyakit lintas negara dan penguatan pengawasan di Bali sebagai daerah pariwisata.
  • Unud mendukung lewat pemanfaatan laboratorium, rencana Pusat Riset Penanganan Rabies, dan fokus riset 2026 yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Denpasar, IDN Times - Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Sahat M Panggabean, dan Rektor Universitas Udayana (Unud), I Ketut Sudarsana, resmi meneken Nota Kesepahaman (NK) Sinergi dalam Pengembangan Bidang Karantina dan Tridarma Perguruan Tinggi. Dalam kesempatan tersebut, dilakukan pula penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) sebagai implementasi teknis yang dilakukan oleh Sekretaris Utama Barantin, Shahandra Hanityo, bersama empat dekan dari Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Peternakan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, serta Fakultas Pertanian.

"Saya minta pakar-pakar dari Udayana itu membantu karantina terkait isu-isu penyakit yang sedang marak saat ini, baik itu penyakit-penyakit yang lintas negara atau memang dalam negeri yang kemungkinan akan bangkit lagi," ungkap Sahat pada Kamis (22/1/2026).

1. Peran Unud akan menyempurnakan fungsi karantina

ilustrasi anjing yang sedang dikarantina (pixabay.com/neelam279)
ilustrasi anjing yang sedang dikarantina (pixabay.com/neelam279)

Menurut Sahat, Bali sebagai daerah pariwisata memiliki potensi kedatangan wisatawan yang membawa hewan kesayangannya untuk berlibur. Karena itu, demi memberikan rasa aman dan nyaman, peran serta fungsi karantina perlu diperketat. Selain itu, menjelang Idul Adha, Bali juga dipastikan menjadi wilayah perlintasan hewan kurban melalui jalur darat. Oleh karenanya, diperlukan justifikasi secara ilmiah agar setiap tindakan karantina memiliki dasar ilmiah yang kuat.

“Saya pengen karantina itu selalu berdasarkan scientific infomation, ada scientific judgement-nya. Semua kegiatan karantina itu diback-up oleh perguruan tinggi,” terangnya.

2. Akademisi mendukung Bali memiliki Pusat Riset Penanganan Rabies

Ilustrasi vaksinasi rabies di Tabanan (IDNTimes/Wira Sanjiwani)
Ilustrasi vaksinasi rabies di Tabanan (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Rektor Unud, Prof. I Ketut Sudarsana, menyampaikan kampusnya sepenuhnya mendukung setiap program yang telah dikerjasamakan oleh pihak karantina. Menurutnya, fokus pada perkembangan informasi terkini juga menguntungkan kedua belah pihak, baik akademisi maupun karantina itu sendiri. Ia menambahkan, fasilitas utama yang disiapkan adalah penggunaan laboratorium kampus untuk kerja sama, disertai ketersediaan SDM yang ada.

Jika ada riset yang secara khusus membutuhkan ruangan atau penanganan tertentu, pihak kampus menyatakan akan mempersiapkannya kemudian. Salah satu contohnya, saat ini pihak Unud tengah mengusulkan pembentukan Pusat Riset Penanganan Rabies di kampusnya.

“Hasil riset harus bermanfaat bagi masyarakat. Untuk itu kami menyambut baik kerja sama dengan Barantin,” ungkapnya.

3. Tahun 2026 akan dipenuhi riset yang berdampak luas ke masyarakat

Ilustrasi mahasiswa sedang riset
Ilustrasi mahasiswa sedang riset (pexels.com/Edward Jenner)

Sejumlah kerja sama dengan perguruan tinggi ini meliputi penguatan SDM, dan memperkuat sinergi di bidang karantina, pendidikan, riset, dan teknologi. Kerja sama ini memungkinkan menggunakan fasilitas secara bersama-sama untuk riset. Ketut Sudarsana, mengatakan banyak riset yang bisa dikembangkan namun tahun ini riset akan difokuskan terhadap riset yang berdampak luas.

"Semua riset tahun ini akan kami arahkan pada riset-riset yang memberikan dampak langsung ke masyarakat," terangnya.

Untuk diketahui Barantin juga berperan strategis dalam sistem pertahanan negara non militer (biodefence) dalam menghadapi potensi ancaman biologis, termasuk bioterorisme dan pandemi penyakit menular.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Bali

See More

Barantin-UNUD Teken Kerja Sama Riset dan SDM Untuk Respons Isu Penting

22 Jan 2026, 20:52 WIBNews