Berdasarkan data di atas, kasus terkonfirmasi positif COVID-19 harian tertinggi terjadi pada tanggal 9 September 2020. Yaitu sebanyak 174 orang. Dari data harian di akun resmi Instagram Pemprov Bali pada 9 September 2020 lalu, Kota Denpasar penyumbang terbesar kasus terkonfirmasi positif COVID-19. Yaitu sebesar 46 orang. Seluruh kasus didominasi oleh transmisi lokal (TL). Diikuti oleh:
- Kabupaten Badung: 37 orang (TL)
- Kabupaten Buleleng: 27 orang (TL)
- Kabupaten Karangasem: 26 orang (TL)
- Kabupaten Gianyar: 16 orang (TL)
- Kabupaten Tabanan: 14 orang (TL)
- Kabupaten Jembrana: 4 orang (TL)
- Warga Negara Asing (WNA): 3 orang (TL)
- Kabupaten Klungkung: 1 orang (TL).
Seminggu sebelumnya, kasus positif di Indonesia mengalami kenaikan 18,6 persen. Yakni dari sebelumnya 18.625 kasus menjadi 22.097 kasus, dan Bali adalah Provinsi penyumbang tertinggi. Disusul urutan kedua adalah DKI Jakarta, dan ketiga Sulawesi Tenggara.
“Kenaikan kasus ini tertinggi berada di Bali naik 100 persen. Sulawesi Selatan naik 84,4 persen. Riau naik 68,5 persen. DKI Jakarta naik 31 persen dan Jawa Tengah naik 19,6 persen,” kata Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, melalui keterangan rilisnya, Rabu (9/9/2020) lalu.
Pada saat itu pula, Provinsi Bali juga telah kehabisan bed (Tempat tidur) untuk perawatan isolasi pasien COVID-19. Kabar ini disampaikan langsung oleh Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Bali, dr Gusti Ngurah Anom, saat dihubungi IDN Times pada Rabu (9/9/2020) pukul 11.15 Wita.
“Sudah beberapa hari ini. Sudah mulai semingguan ini,” terangnya.
Menurut Ngurah Anom, seluruh rumah sakit rujukan di Bali sudah penuh kala itu. Keseluruhannya terdapat 17 rumah sakit rujukan yang ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan dan Gubernur Bali Wayan Koster. Setiap rumah sakit telah membuat klaster untuk pasien yang suspek dan probable COVID-19. Beberapa kasus yang suspek, tempat tidurnya tidak boleh digabung dengan kasus probable (Positif COVID-19).
Posisi seperti itulah yang menurut Ngurah Anom, membuat rumah sakit mengalami kekurangan bed. Padahal Bed Occupancy Ratio (BOR) untuk probable masih ada. Hanya saja sudah penuh untuk kasus yang suspek. Alasan kedua, memang terkait masa perawatan pasien COVID-19 yang rata-rata 7 sampai 10 hari.