Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Penyebab Munculnya Depresi ala Buku Coping with Depression

5 Penyebab Munculnya Depresi ala Buku Coping with Depression
Default Image IDN
Share Article

Siapa yang tidak mengenal depresi? Benar, sebuah gangguan emosional bagi siapa saja yang dapat dirasakan dalam kehidupan. Seperti lelah karena banyaknya kerjaan menyebabkan depresi, kegagalan mencapai tujuan menyebabkan depresi, dan putus dari kekasih juga membuat depresi.

Untuk itu, depresi ini sangat lekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Terutama ketika mengalami kegagalan dan kesedihan hidup. Kita dengan mudahnya mengalami gangguan emosional ini atas gagalnya pencapaian tujuan yang diinginkan dan membuat diri menjadi putus asa.

Sebuah buku yang bertajuk Coping with Depression karya J Maurus--seorang penulis buku tekenal--membagikan bagaimana depresi dapat muncul pada diri seseorang. Terdapat lima penyebab depresi menurut J Maurus yang ia bagikan lewat bukunya, yaitu Coping with Depression. Yuk, kita bahas bersama-sama!

1. Dunia yang keras menyebabkan depresi

ilustrasi pasien lupus (pexels.com/MART  PRODUCTION)
ilustrasi pasien lupus (pexels.com/MART PRODUCTION)

Ada yang berkata bahwa hidup di dunia itu keras, oleh sebab itu kita harus kuat dan tangguh untuk menghadapinya. Lontaran perkataan yang sering sekali kita dengar, bukan? Banyak yang mengatakan bahwa dunia ini keras, sulit, kejam, rumit, dan cenderung kompleks. Sehingga membuat kita menjadi depresi akibatnya kerasnya kehidupan.

Biasanya pernyataaan ini dilontarkan oleh orang-orang yang sedang mengalami depresi akut. Dirinya sedang mengalami kepahitan, kesedihan, dan kegagalan di dunia. Sehingga dirinya mengatakan bahwa dunia itu keras, kejam, dan sulit. Pada dasarnya kehidupan itu sulit untuk diprediksi dengan benar, dan terkadang tidak sejalan pula dengan rencana yang telah dibuat.

Namun, Maurus menjelaskan lewat bukunya Coping with Depression, bahwa depresi merupakan reaksi lazim terhadap kehilangan, kekalahan, kesedihan, dan kegagalan dalam hidup akibat banyaknya cobaan yang dihadapi di dunia. Tetapi ini menciptakan diri untuk dapat tangguh menghadapi segala kerasnya tantangan di dunia yang sedang dialami saat ini.

2. Kurangnya support dari keluarga

ilustrasi foto bersama keluarga (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi foto bersama keluarga (pexels.com/Pixabay)

Apakah hubungan dengan keluargamu saat ini baik-baik saja? Atau apakah situasi saat ini sedang berselisih paham? Jika baik-baik saja, maka hubungan dengan keluarga kamu sedang harmonis. Sebaliknya, jika hubungan tidak baik maka ada permasalahan yang menciptakan hubungan tidak harmonis dalam keluargamu.

Hubungan keluarga yang kurang harmonis ini dapat memicu depresi bagi siapa saja. Entah itu retaknya hubungan harmonis antara orangtua dan anak, sesama saudara, maupun suami dan istri. Maurus juga mengatakan kurangnya support atau dukungan keluarga dapat menyebabkan seseorang tidak termotivasi dalam menjalani hidupnya dan memicu depresi.

Maurus juga berpesan yang ia tuliskan lewat bukunya Coping with Depression, bahwa hubungan kurang harmonis dalam keluarga dapat diatasi dengan cara meluangkan waktu untuk berkomunikasi antarsatu sama lain, berpikir jernih, dan saling introspeksi diri. Dengan begitu dapat mudah untuk mencari solusi yang tepat dalam mengatasi retaknya hubungan keluarga ini.

3. Krisis di kalangan pekerja

ilustrasi depresi di kantor (pexels.com/Yan Krukau)
ilustrasi depresi di kantor (pexels.com/Yan Krukau)

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) di Indonesia, tingkat pengangguran terbuka pada Agustus 2023 sebesar 5,32 persen turun sebesar 0, 54 pin dibandingkan tahun 2022. Meskipun mengalami penurunan, namun faktanya masih banyak fresh graduate yang sulit memiliki pekerjaan hingga saat ini. Sehingga menyebabkan orang yang belum memiliki pekerjaan mengalami depresi.

Begitu pula dengan orang yang telah memiliki pekerjaan. Mereka juga tidak terlepas dari depresi. Entah itu pekerjaan yang banyak, lingkungan kerja yang toxic, gagalnya mencapai target perusahaan, dan tidak ada waktu luang dengan keluarga akibat padatnya jadwal meeting. Menciptakan krisis secara emosional di kalangan para pekerja.

Bahkan Henry David Thoreau, penulis buku Walden, pernah menyatakan sebagian besar manusia mengalami depresi. Thoreau juga mengatakan, tak ada tempat lain yang bisa mempertontonkan ketidakpuasan (depresi) secara drastis ketimbang dunia kerja. Inilah yang menjadi penyebab depresi bagi kalangan pekerja kerah biru maupun pekerja kerah putih pada lingkup kerja.

4. Kesedihan cinta

ilustrasi patah hati (pexels.com/Monstera Production)
ilustrasi patah hati (pexels.com/Monstera Production)

Putus dengan kekasih pasti sakit rasa. Bahkan ada yang berkata, lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Karena jauh lebih perih rasanya ketika sedang sakit hati. Rasa perih di hati inilah yang menjadi penyebab depresi pada seseorang. Terlalu berlarut-larut dalam kesedihan hanya karena orang yang sayangi dan dicintai tidak lagi di samping kita.

Tidak hanya dengan putus kekasih saja yang menyebabkan kesedihan cinta. Melainkan juga kehilangan kerabat dekat dan hubungan tidak harmonis antarkeluarga, pun dapat memicu depresi. Untuk itu, lewat bukunya Coping with Depression, Maurus mengajak untuk siapa saja yang sedang mengalami kesedihan cinta untuk bisa bangkit dari kesedihan cinta itu sendiri, dan tidak berlarut-larut tenggelam dalam kesedihan akibat cinta yang hilang.

5. Manusia tanpa tujuan hidup

ilustrasi manusia tanpa tujuan (pexels.com/rebcenter moscow)
ilustrasi manusia tanpa tujuan (pexels.com/rebcenter moscow)

Hidup itu harus memiliki tujuan. Sebab jika tidak adanya tujuan hidup, maka hidup akan sia-sia saja. Tidak adanya tujuan hidup inilah yang menjadi penyebab seseorang mengalami depresi. Dirinya masih bingung untuk menentukan mana yang lebih dahulu untuk ia lakukan dalam hidupnya. Entah itu memilih karier, pasangan, dan kehidupan di masa depan mau menjadi seperti apa nantinya.

Untuk itu, lewat buku Coping with Depression, Maurus mengajak kepada manusia tanpa tujuan hidup ini dengan mulailah untuk membuat rencana kehidupan. Buatlah rencana yang akan dilakukan untuk hari ini, kemudian rencana tahun depan, dan rencana di masa tua nanti. Menyusun rencana secara sistematis ini akan memudahkan untuk menjalani hidup, dan menghindari penyebab depresi akibat tidak adanya tujuan hidup.

Itulah kelima penyebab depresi yang J Maurus bagikan lewat tulisannya di buku Coping with Depression. Maurus berpesan, bahwa depresi merupakan reaksi yang hampir tak dapat dihindari oleh siapa pun. Penyebab depresi seperti penjelasan di atas, dapat membuat kehidupan seseorang menjadi rusak akibat tenggelam dalam depresi itu sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Chand Pangestu
EditorChand Pangestu

Latest News Bali

See More

Harga Cabai dan Pangan Lainnya di Bali 4 Juli 2026

04 Jul 2026, 12:05 WIBNews