Comscore Tracker

Kisah 5 Warga Bali yang Kreatif Cari Peluang Usaha di Tengah COVID-19

Mulai tukang pijat hingga pegawai hotel

Wabah COVID-19 atau virus corona membuat pekerja di Bali banyak yang dirumahkan, bahkan Putus Hubungan Kerja (PHK). Selain mereka, beberapa pelaku usaha di Bali juga menjadi sepi karena tidak ada order dalam situasi ini. Namun kondisi itu tidak membuat warga Bali menyerah. Mereka mencari peluang usaha dan mengambil langkah kreatif untuk tetap mendapatkan rejeki. Inilah lima contoh warga Bali yang tetap kerja keras dan kreatif di tengah COVID-19:

1. Pelaku usaha kuliner Food De'so buat produk sambal

Kisah 5 Warga Bali yang Kreatif Cari Peluang Usaha di Tengah COVID-19Dok.IDN Times/Istimewa

Jatuh bangun dalam usaha kuliner sudah biasa dialami oleh Gustu (27). Warga asal Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Tabanan ini membuka usaha kuliner bernama Food De'so sejak usia 23 tahun. Ciri khas usahanya adalah menu ayam asap. Semenjak ada wabah COVID-19, Gustu mengaku usaha kulinernya sepi.

"Karena ada imbauan pemerintah untuk membatasi keluar rumah terus terang usaha menjadi sepi. Saya sudah galakkan di pemesanan online namun tetap tidak menutupi," ujarnya saat diwawancara IDN Times, Senin (6/4).

Namun Gustu tidak berputus asa. Ia tetap menjalankan usaha kulinernya sambil membuat produk baru. Ia berhasil membuat produk sambal khas Food De'so, yang dijual secara online dan juga menjaring reseller. Ia berharap, reseller ini bisa membantu masyarakat lain untuk tetap mendapatkan rejeki di tengah lesunya ekonomi karena wabah COVID-19.

"Saya ingin yang lain juga bisa mendapatkan rejeki. Jadi saya besarkan keuntungan dari reseller-nya," ujar Gustu.

Saat ini, Gustu berhasil memproduksi 300 botol sambal per hari yang dijual Rp20 ribu per botol. Semuanya laku terjual. Bagi yang berminat ingin membeli atau menjadi reseller, bisa menghubungi di Instagram resmi fooddeso.

Baca Juga: Lihatlah Manggis Berserakan di Tabanan Ini, Tak Laku Akibat COVID-19

2. Pegawai hotel yang membuka usaha kuliner secara online

Kisah 5 Warga Bali yang Kreatif Cari Peluang Usaha di Tengah COVID-19Dok.IDN Times/Istimewa

Putu Dora Sri Kritiani (30) adalah orang yang paling merasakan dampak wabah COVID-19. Pegawai hotel di Desa Pemuteran, Gerokgak, Buleleng ini harus bekerja selama 15 hari dalam satu bulan. Sebab hotel tempat kerjanya mengalami penurunan kunjungan wisatawan. Meski tidak sampai di-PHK, Dora, panggilan akrabnya, mengaku mendapatkan gaji yang jauh dari pemasukan normalnya.

Untuk menutupi kekurangan ini, ia bersama sang ibu membuka usaha kuliner secara online. Usaha ini dibuka karena ia dan ibunya memiliki bakat memasak. Meski hanya sebatas dimakan oleh keluarganya, mereka kerap mendapatkan pujian karena rasa masakannya enak.

Dari bakat ini, ia membuat usaha ayam betutu, ayam bakar serai bawang khas Singaraja, kripik usus ayam. Ternyata usaha ini mulai membuahkan hasil meski penjualannya masih sebatas online.

"Maunya buka warung tetapi karena belum ada modal, jadi buka usaha online dulu. Biasanya buka preorder dulu," ujarnya.

Ayam betutunya ia jual Rp110 ribu per paket, ayam bakar serai bawang Rp50 ribu per paket, dan kripik usus ayam dijual Rp1000 per pieces (pcs). Penjualan kuliner milik Dora ini tidak hanya melayani pemesanan sekitar Singaraja. Bahkan pengirimannya sudah sampai Jogjakarta.

"Kalau pesanan ke Denpasar juga dilayani. Kita kirim melalui paket," katanya.

Tertarik untuk memesannya? Kamu bisa langsung kirim pesan melalui WhatsApp di 085333601476.

3. Tukang pijat dan lulur yang banting setir jualan tahu serta urutan ayam

Kisah 5 Warga Bali yang Kreatif Cari Peluang Usaha di Tengah COVID-19Dok.IDN Times/Istimewa

Meski tidak bekerja di bidang pariwisata, wabah COVID-19 juga melanda seorang tukang pijat dan lulur dari rumah ke rumah seperti Putu  Parisani (40). Warga Sanggulan, Tabanan ini memproduksi lulur dan minyak pijatnya sendiri. Ia bahkan memiliki banyak klien. Dalam sehari, minimal bisa mendapatkan lima orang klien. Tak jarang kliennya seorang wisatawan asing. Namun semenjak wabah COVID-19, ia tidak ada pemesanan pijat dan lulur lagi. Parisani harus memutar otak untuk bisa mengais rejeki dan membuat dapurnya tetap mengepul.

"Sekarang ini jarang ada panggilan untuk pijat dan lulur. Kalau ada pun, itu satu orang saja. Ini mungkin karena orang membatasi kunjungan rumah. Permintaan dari wisatawan juga tidak ada," ungkap Parisani.

Parisani lalu banting setir dengan membuka usaha dagang tahu dan urutan ayam secara online. Kebetulan ada pihak produsen dan keluarga yang menawarkan diri untuk menjual dagangannya. Ibu tiga anak ini pun mengambil kesempatan ini, dan mulai menjualnya secara online maupun WhatsApp.

"Kalau ada yang pesan masih seputaran Tabanan, saya langsung mengantarkan sampai rumah," jelasnya.

Selain itu, Parisani juga membuka usaha pembuatan serudeng ayam bersama sang suami. Harga serundeng ayamnya dijual Rp20 ribu per bungkus, tahu Rp5000 per bungkus, dan urutan ayam Rp60 ribu per 500 gram. Bagi yang mau memesannya bisa menghubungi Parisani ke nomor WA 081558711552.

Baca Juga: 8 Cara Mencegah Virus Corona yang Salah Kaprah Menurut Medis

4. Dari penjual baju beralih jadi pembuat roti. Sang suami kini bahkan bersatus unpaid leave

Kisah 5 Warga Bali yang Kreatif Cari Peluang Usaha di Tengah COVID-19Dok.IDN Times/Istimewa

Awalnya warga asal Petang Kabupaten Badung, Ayu Artati (40), membuka usaha jualan baju anak dengan merek AySea Baby. Sang suami pun bekerja sebagai tenaga Information Technology (IT) di sebuah hotel. Lalu wabah COVID-19 mulai merebak, membuat bisnis Ayu mengalami penurunan. Sang suami mulai bulan depan sudah bersatus unpaid leave.

Meski begitu, mereka tidak menyerah dengan keadaan. Ayu dan suami melirik potensi lain. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengembangkan penjualan roti yang diproduksi oleh pamannya di Karangasem, bernama Gusti Bakery. Selain membantu untuk membuat roti, Ayu mulai mengembangkan Gusti Bakery ke Denpasar dan Badung secara online.

"Pasarnya ternyata bagus dan banyak yang memesan," katanya.

Jika sudah mahir membuat roti, rencananya Ayu dan suami akan membuka cabang di Petang untuk meng-handle pemesanan di wilayah Denpasar dan Badung. Adapun produk roti yang dihasilkan Gusti Bakery adalah roti kecil seperti croissant, danish dan roti untuk burger mulai harga Rp3000. Ada roti besar long baguette seharga Rp9000, dan roti tawar serta roti gandum dengan harga mulai Rp25 ribuan.

"Roti ini bebas bahan pengawet jadi aman untuk anak-anak.  Lama penyimpanan maksimal dua hari untuk suhu ruangan dan seminggu jika dikulkas, serta sebulan jika di  freezer," ujar Ayu.

Untuk pemesanannya bisa langsung menghubungi Ayu di nomor WA 082237496496.

5. Dari bisnis percetakan beralih ke coffee shop

Kisah 5 Warga Bali yang Kreatif Cari Peluang Usaha di Tengah COVID-19Dok.IDN Times/Istimewa

I Made Tiar Dwi Saputra (35), warga Denpasar awalnya membuka usaha di bidang percetakan. Namun pemesanan cetak seperti undangan atau kartu nama mulai  mengalami penurunan.

Tetapi karena ia memiliki keterampilan di bidang meracik kopi, Dwi memutuskan untuk membuka usaha berupa coffee shop dengan nama Kopi Kita di Jalan Tukad Batang Hari  Nomor 51C Denpasar. Kelebihan Kopi Kita ini terletak pada bahan kopinya yang berasal dari Kalimantan. Rencananya, Kopi Kita akan mulai buka di akhir bulan April atau awal bulan Mei. Harga per gelas mulai Rp12 ribu. Semoga usahanya sukses.

Inilah lima warga Bali yang tetap berpikiran positif dan mencari peluang usaha di tengah kelesuan ekonomi karena wabah COVID-19. Apakah warga Bali lainnya juga melakukan hal yang sama? Jangan menyerah ya. Karena pintu rejeki pasti terbuka bagi semua yang mau berusaha tanpa henti. Semangat!

Baca Juga: 7 Cara Mencegah Penyebaran Virus Corona di Tempat Kerja Menurut WHO

Topic:

  • Ni Ketut Wira Sanjiwani
  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya