Sasih Kaulu Fase Penting Menjelang Pergantian Tahun Saka

Tabanan, IDN Times - Embusan angin barat yang kian kencang, hujan lebat, serta gelombang tinggi yang terjadi belakangan ini kembali dirasakan masyarakat Tabanan, khususnya di wilayah pesisir dan kawasan terbuka.
Bagi masyarakat adat di Tabanan, kondisi tersebut bukan sekadar fenomena cuaca, melainkan isyarat alam yang lazim hadir setiap memasuki Sasih Kaulu, fase penting menjelang pergantian Tahun Saka.
Dalam penanggalan adat, Sasih Kaulu dikenal memiliki karakter kuat secara sekala dan niskala. Sejak dulu, masyarakat adat di Tabanan telah mengenali sasih ini sebagai masa peralihan alam, yang ditandai dengan cuaca ekstrem akibat menguatnya angin barat.
Pepohonan tumbang, gelombang tinggi laut, hingga perubahan suhu yang drastis dipahami sebagai bahasa alam yang mengingatkan manusia agar lebih waspada dan mawas diri.
1. Sasih Kaulu sebagai fase persiapan menjelang Hari Raya Nyepi

Sasih Kaulu dalam kearifan lokal dimaknai sebagai fase persiapan menjelang Hari Raya Nyepi. Setelah Sasih Kaulu, umat Hindu di Bali akan memasuki Sasih Kasanga yang identik dengan rangkaian Bhuta Yadnya dan Tawur Kesanga.
Alam seolah mengalami proses pembersihan lebih awal, sebelum manusia diajak memasuki keheningan, perenungan, dan penyelarasan diri pada Nyepi sebagai penanda Tahun Baru Saka.
Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, mengatakan bahwa fenomena alam yang terjadi pada Sasih Kaulu harus disikapi dengan kesadaran dan kebijaksanaan bersama.
"Sasih Kaulu mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap tanda-tanda alam. Pemerintah mengimbau masyarakat Tabanan agar meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam beraktivitas di laut, sektor pertanian, dan kegiatan lain yang berisiko terdampak cuaca ekstrem,” ujarnya, Selasa (20/1/2026).
2. Pentingnya menjaga keharmonisan alam

Ia juga menekankan pentingnya menjaga keharmonisan antara manusia dan alam yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Tabanan. Sanjaya memaparkan, jika nilai-nilai Tri Hita Karana mengajarkan keseimbangan alam sebagai bagian dari kesejahteraan masyarakat.
"Fenomena ini menjadi pengingat agar kita tidak bersikap abai, melainkan terus menjaga keselarasan dengan alam,” ujarnya.
Sanjaya mengajak masyarakat menjadikan Sasih Kaulu sebagai momentum refleksi bersama menjelang pergantian Tahun Saka.
“Menjelang Nyepi, mari kita persiapkan diri secara lahir dan batin. Tidak hanya melalui pelaksanaan ritual adat, tetapi juga dengan memperkuat perilaku hidup yang bijaksana dan bertanggung jawab terhadap lingkungan,” katanya.
3. Sasih Kaulu menyimbangkan hubungan alam, manusia, dan spiritualitas

Menurut Sanjaya, di tengah tantangan perubahan iklim global, pemaknaan Sasih Kaulu menjadi semakin relevan bagi masyarakat Tabanan. Kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun telah lama mengajarkan bahwa alam selalu memberi tanda, dan manusia dituntut untuk peka membaca serta merespons isyarat tersebut dengan kesadaran kolektif.
Sasih Kaulu bukan sekadar hitungan bulan adat, melainkan momentum refleksi bersama agar hubungan antara manusia, alam, dan spiritualitas kembali berada dalam satu keseimbangan. Sebuah pengingat bagi masyarakat Tabanan untuk menata kembali harmoni kehidupan, sebelum memasuki lembaran baru Tahun Saka melalui perayaan Nyepi yang sarat makna kesunyian dan introspeksi.
















