Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bali United Kebanyakan Blunder, Gagal Menang di Kandang PSIM
Thijmen Goppel (putih) diapit pemain PSIM Yogyakarta. (Instagram.com/baliunitedfc)
  • Laga PSIM Yogyakarta vs Bali United berakhir imbang 3-3 setelah Bali United sempat unggul tiga gol lewat Thijmen Goppel, Tim Receveur, dan Irfan Jaya.
  • Kebobolan tiga gol di babak kedua terjadi akibat blunder lini belakang, kartu merah Joao Ferrari, serta gol bunuh diri Ricky Fajrin yang menggagalkan kemenangan.
  • Keputusan taktis Johnny Jansen usai kartu merah dinilai keliru karena melemahkan lini tengah dan depan, membuat Bali United gagal mempertahankan keunggulan dan keluar dari sepuluh besar klasemen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Pertandingan Super League 2025/2026 antara PSIM Yogyakarta dan Bali United berakhir imbang 3-3 setelah Bali United gagal mempertahankan keunggulan tiga gol di Stadion Sultan Agung, Bantul.
  • Who?
    Pemain PSIM seperti Shavio Sheva dan Franco Ramos Mingo mencetak gol, sementara dari Bali United ada Thijmen Goppel, Tim Receveur, dan Irfan Jaya. Ricky Fajrin mencetak gol bunuh diri bagi timnya.
  • Where?
    Laga berlangsung di Stadion Sultan Agung, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
  • When?
    Pertandingan digelar pada Senin malam, 23 Februari 2026, dalam rangkaian pekan ke-22 Super League musim 2025/2026.
  • Why?
    Bali United kehilangan kendali permainan akibat blunder pertahanan, kartu merah Joao Ferrari, serta perubahan taktik yang membuat lini belakang dan tengah melemah hingga kebobolan tiga gol di babak kedua.
  • How?
    Bermula dari keunggulan tiga gol Bali United, PSIM memanfaatkan kesalahan lawan untuk membalas melalui tembakan jarak jauh, sundulan Franco Ramos Mingo, serta gol bunuh diri Ricky Fajrin menjelang akhir laga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Drama hujan gol kembali terjadi pada pekan ke-22 Super League 2025/2026 antara tuan rumah PSIM Yogyakarta menghadapi Bali United. Laga yang dihelat di Stadion Sultan Agung Bantul, Senin (23/2/2026) malam, berakhir imbang dengan skor 3-3.

Bali United terlebih dahulu unggul 3 gol yang dicetak oleh Thijmen Goppel (34’), Tim Receveur (45’+3’), dan Irfan Jaya pada menit ke-55. Tapi tim berjuluk Serdadu Tridatu ini gagal mempertahankan kemenangan yang sudah di depan mata. Tiga gol balasan PSIM yang dicetak oleh Shavio Sheva (65’), Franco Ramos Mingo (90’+1’), serta gol bunuh diri dari Ricky Fajrin pada menit ke-88 membuat pertandingan berakhir sama kuat 3-3. Ada apa sebenarnya dengan Bali United?

1. Masuknya Irfan Jaya membuat permainan Bali United lebih hidup

Irfan Jaya (putih) dihadang pemain PSIM Yogyakarta. (Instagram.com/baliunitedfc)

Ada yang berbeda dari permainan Bali United saat menghadapi PSIM Yogyakarta pada pekan ke-22 ini. Pemain sayap yang sempat menepi karena cedera, Irfan Jaya, kembali mendapatkan kepercayaan coach Johnny Jansen sebagai starter. Kehadiran pemain asal Sulawesi Selatan ini membawa warna baru dalam skema permainan Bali United.

Kelincahan dan mobilitasnya di sektor sayap mampu membuat serangan Bali United lebih hidup. Saat pemain lawan fokus kepada Irfan Jaya, Rahmat Arjuna dan Thijmen Goppel dengan leluasa memberikan tusukan ke daerah bertahan lawan. Beberapa kali skema ini membuka banyak peluang ancaman bagi gawang PSIM yang dijaga Cahya Supriadi.

Pada menit ke-34, serangan cepat yang dilakukan Irfan Jaya mampu mengarahkan bola kepada Thijmen Goppel yang berdiri bebas. Goppel kemudian melakukan tendangan untuk merobek jala PSIM Yogyakarta. Tak hanya sebagai pengumpan, Irfan Jaya juga membuktikan kalau dirinya mampu mencetak gol.

Sepuluh menit setelah turun minum, Irfan Jaya menambah kemenangan Bali United. Kali ini giliran Goppel yang memberikan assist bagi Irfan Jaya. Gol ini memperlihatkan bawah selain mobilitas dan kecepatannya, Irfan Jaya juga dikenal sebagai pemain yang pintar mencari posisi sebagai second line striker.

2. Bali United kembali mempertontonkan rapuhnya lini belakang

Kadek Arel (putih) saat menghalau serangan pemain PSIM Yogyakarta. (Instagram.com/baliunitedfc)

Johnny Jansen seolah tidak pernah melakukan evaluasi lini pertahanan timnya. Blunder pemain bertahan Bali United kembali terjadi saat menghadapi PSIM Yogyakarta. Hal ini membuat Bali United kebobolan tiga gol di babak kedua.

Pada babak pertama, lini belakang Bali United terlihat mampu menutup setiap celah dari pemain PSIM Yogyakarta. Ketatnya lini belakang yang digalang Joao Ferrari membuat pemain PSIM kesulitan masuk ke daerah pertahanan Bali United.

Johnny Jansen memasang tiga bek, Joao Ferrari, Kadek Arel, dan Ricky Fajrin dengan garis pertahanan yang tidak terlalu tinggi. Ketiganya terlihat tidak sering maju membantu serangan seperti laga-laga sebelumnya.

Sayangnya, hal ini tidak terlihat di babak kedua. Penjagaan pemain lawan mulai renggang dan beberapa di antaranya sering berdiri bebas yang luput dari pengawalan pemain Bali United.

Ini terbukti saat Shavio Sheva mencetak gol melalui tendangan kerasnya. Pemain PSIM ini sama sekali tidak mendapatkan pengawalan pemain Bali United, sehingga dengan leluasa melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti.

Kesalahan fatal kembali dilakukan oleh Kadek Arel. Pemain Timnas Garuda Muda ini salah mengantisipasi bola sehingga membuat bola dikuasai pemain lawan. Hal ini memaksa Joao Ferrari melakukan pelanggaran yang berbuah kartu merah. Kartu merah ini menjadi petaka bagi Bali United yang membuat mereka bermain dengan 10 pemain.

Hal ini dimanfaatkan oleh para pemain PSIM Yogyakarta untuk menggempur pertahanan Bali United. Akibat blunder fatal ini, akun Instagram Kadek Arel diserang komentar negatif dari penggemar Bali United yang kecewa atas kejadian tersebut.

Selain blunder Kadek Arel, gol bunuh diri Ricky Fajrin di menit-menit akhir babak kedua juga turut membuyarkan kemenangan Bali United. Ricky Fajrin yang bermaksud menghalau bola dengan tandukannya justru masuk ke gawang Mike Hauptmeijer. Hilangnya Ferrari membuat PSIM selalu memenangkan duel-duel bola atas. Gol penyama kedudukan tim berjuluk Laskar Mataram ini diciptakan melalui tandukan Franco Ramos di babak injury time.

3. Salah taktik setelah kartu merah Ferrari

Pemain Bali United (putih) mendapatkan pengawalan dari pemain PSIM Yogyakarta (biru). (Instagram.com/baliunitedfc)

Taktik yang diterapkan Johnny Jansen cukup membingungkan setelah Ferrari terkena kartu merah. Pelatih asal Belanda ini menarik Boris Kopitovic dan memasukkan Bagas Adi untuk memperkuat lini pertahanan. Kemudian dua pemain muda, Made Tito dan Maouri Simon, masing-masing menggantikan Kadek Agung dan Tappei Yachida. Penggantian ini blunder karena keduanya tidak mampu mengisi kekosongan di lini tengah dan lini depan.

Pengalaman Maouri di kasta sepak bola tertinggi Indonesia juga masih perlu diasah. Ia selalu kalah dalam perebutan bola dan mobilitasnya sangat jauh di bawah Yachida. Made Tito yang baru pulih juga masih terlihat bingung dan tidak mampu berbuat banyak di lini tengah. Renggangnya lini tengah dan lini depan ini membuat Diego Campos yang masuk menggantikan Irfan Jaya praktis hanya sendiri di depan tanpa dukungan berarti dari Maouri dan Made Tito.

Praktis, Bali United tidak memiliki kesempatan untuk menambah gol. Kehilangan Ferrari membuat Bali United bermain bertahan. Skema bertahan total ini juga blundernya Johnny Jansen, karena membuat Serdadu Tridatu mendapatkan serangan bertubi-tubi tanpa bisa melakukan serangan balik. Situasi ini berhasil dimanfaatkan oleh pemain PSIM untuk mencetak gol.

Bali United memperpanjang rekor belum pernah menang sejak putaran kedua berlangsung. Hasil negatif ini membuat Serdadu Tridatu harus terlempar dari sepuluh besar klasemen sementara Super League 2025/2026. Ini menjadi sinyal bahaya bagi Johnny Jansen. Ia harus mencari solusi untuk memperkuat lini belakang timnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team