- Target tinggi
- Pelanggan sering toxic
- Lingkungan serba cepat
- Bos banyak minta tanpa jeda
Kerja Keras, Gaji Tipis: Realitas Gen Z yang Jarang Dibahas

Beberapa waktu lalu, aku ngobrol sama seorang teman. Dia baru lulus, semangat banget masuk dunia kerja, dan berharap bisa belajar banyak di kantor barunya. Tapi baru dua bulan, dia sudah kelihatan lelah—bukan lelah fisik saja, tapi mentalnya juga habis.
Dia bilang, “Aku kok kerja kayak dua orang, tapi gajinya tetap satu orang ya?”
Dan anehnya, cerita itu bukan hal yang mengejutkan lagi. Banyak anak muda merasakan hal yang sama. Kita sering dicap manja, gampang capek, tidak tahan banting, tapi jarang ada yang mau melihat realita di baliknya. Padahal masalahnya bukan cuma tentang generasi, tapi tentang sistem kerja yang tidak ikut tumbuh mengikuti zaman.
Gaji Tidak Seimbang dengan Beban Kerja
Kenyataan pahitnya: banyak perusahaan masih memaksakan beban kerja yang tidak masuk akal. Teman tadi misalnya, baru masuk sebagai admin, tapi sudah disuruh merangkap marketing, customer service, bahkan kadang disuruh urus hal-hal yang tidak ada hubungan dengan pekerjaannya.
Dan ketika dia protes, jawabannya cuma “Namanya juga anak baru. Ya bantu-bantu dulu.” Bukan masalah bantu atau tidak, tapi apakah adil kalau kontribusi yang besar tidak diimbangi dengan penghargaan yang layak?
Budaya Senioritas yang Bikin Tidak Nyaman
Aku juga pernah lihat situasi ini secara langsung waktu magang: Anak-anak muda harus diam ketika senior marah, meskipun yang salah jelas bukan mereka. Pendapat mereka sering diabaikan, hanya karena masih “hijau”.
Gen Z tumbuh dengan budaya digital yang setara, kolaboratif, dan terbuka. Tapi begitu masuk kantor, kita disambut pola pikir lama yang menganggap suara anak muda tidak penting. Jadi wajar kalau banyak yang merasa tidak betah.
Burnout yang Selalu Dianggap Remeh
Yang paling sering terjadi: capek mental. Banyak teman cerita kalau mereka pulang kerja rasanya cuma ingin tidur, bukan istirahat—tapi kabur dari stres. Sayangnya, ada kantor yang masih menganggap burnout itu alasan yang lebay.
Padahal realitas hari ini jauh lebih berat:
Gen Z bukan fragile, mereka cuma hidup di era pekerjaan yang bergerak terlalu cepat.
Minim Kesempatan Berkembang
Banyak anak muda ingin berkembang, belajar, dan naik level. Tapi kesempatan itu sering tidak ada. Aku pernah dengar cerita dari teman lain yang sudah dua tahun tidak pernah diberi pelatihan apa pun. Dia cuma kerja, kerja, kerja—tanpa tahu harus menuju arah mana.
Dia bilang, “Aku masih muda. Tapi kok rasanya masa depan karierku sudah mentok dari sekarang?” Dan itu bukan hanya perasaan—itu kenyataan banyak orang.

















