Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Warga Tabanan Kembangkan Pengolahan Kopi Metode Honey Process
Suasana aktivitas perkebunan kopi di Pupuan (Dok.IDNTimes/Humas Tabanan)
  • I Nyoman Mika Adiputra dari Desa Pajahan, Tabanan, meraih Anugerah Bali Swacitta Nugraha 2026 berkat inovasi pengolahan kopi robusta petik merah dengan metode honey process.
  • Inovasi ini mengatasi kebiasaan mencampur buah kopi merah dan hijau, melalui standar panen serta kemitraan koperasi yang menyerap hasil sesuai SOP dengan harga lebih stabil.
  • Mika mengolah limbah kopi menjadi kompos organik, melibatkan anak muda dalam pengolahan dan ekowisata, serta mendapat apresiasi BRIDA Tabanan atas manfaat bagi petani.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tabanan, IDNTimes-Wilayah Pupuan di Kabupaten Tabanan terkenal dengan komuditas kopi robusta. Salah satu desa di wilayah Kecamatan Pupuan yang menghasilkan kopi jenis ini adalah Desa Pajahan.

Baru-baru ini salah satu warga, I Nyoman Mika Adiputra meraih Anugerah Bali Swacitta Nugraha 2026 kategori Inovasi Teknologi Bidang IKM, UMKM, dan Koperasi.

Penghargaan ini diberikan dengan inovasinya berupa pengembangan kopi robusta petik merah dengan metode honey process yang dipadukan dengan ekowisata pertanian. Tidak hanya itu, Mika juga mengolah ampas dari pengolahan kopi ini menjadi pupuk organik.

1. Petani di Desa Pajahan mengolah biji kopi campur merah dan hijau

Tanaman kopi di Tabanan (Dok.IDNTimes/Istimewa)

Mika memaparkan inovasi yang ia ciptakan berawal dari persoalan yang selama ini dihadapi petani Kopi Robusta Pupuan. "Kopi Robusta Pupuan punya cita rasa yang khas dan bernilai tinggi selama diproses dengan benar. Kegelisahan saya berawal dari melihat hasil jerih payah petani yang dihargai kurang sepadan karena proses panen yang belum memenuhi standar," ujarnya Rabu (19/8/2026).

Ia melanjutkan, proses panen yang belum memenuhi standar karena petani masih menyampur buah kopi merah dan hijau. Hal ini membuat kualitas serta harga jual kopi belum maksimal. "Selama ini metode pascapanen masih dilakukan secara tradisional. Panen asal petik termasuk buah hijau kerap membuat nilai jual kopi petani berada di titik terendah," katanya.

2. Terapkan metode honey proces dalam pengolahan kopi

Kegiatan ekowisata di Desa Pajahan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan (Dok.IDNTimes/Humas Tabanan)

Untuk mengatasi permasalahan ini, Mika mengembangkan sistem panen petik biji kopi yang sudah berwarna merah. Sistem ini dipadukan dengan metode honey process. "Metode honey process adalah cara yang mempertahankan sebagian lapisan lendir manis (mucilage) pada buah kopi selama proses penjemuran. Hasilnya, kopi memiliki karakter rasa dan aroma yang lebih baik," katanya.

Inovasi yang diusung Mika bukan sekadar teknik olah kopi, melainkan sebuah ekosistem yang melibatkan berbagai elemen desa. Melalui kemitraan dengan Koperasi Produsen Dharma Asasta Pertiwi Desa Pajahan, hasil panen petani yang memenuhi SOP dipastikan terserap dengan harga jual yang jauh lebih tinggi dan stabil.

Tak hanya itu, Mika memanfaatkan limbah pascapanen dan produksi kopi menjadi kompos organik. Langkah ini mendorong petani beralih ke budidaya organik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

3. Melibatkan anak muda lokal

I Nyoman Mika Adiputra (tengah) saat menerima Anugrah Swacitta 2026 (Dok.IDNTimes/Humas Tabanan)

Untuk mengembangkan inovasi ini, Mika merangkul generasi muda Desa Pajahan, diajak dari proses pengolahan teknis hingga pengembangan Ekowisata Pertanian Kopi Robusta yang membuka peluang wisata edukasi dan rekreasi di desa mereka.

"Kami ingin generasi muda bangga menjadi bagian dari pertanian. Desa Pajahan bukan hanya tempat menanam kopi, tapi tempat di mana ilmu, inovasi, dan pariwisata berbasis pertanian menyatu," ungkap Mika.

Langkah nyata Mika Adiputra mendapatkan apresiasi tinggi dari Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Tabanan.

Kepala BRIDA Kabupaten Tabanan, I Gusti Made Darma Ariantha secara resmi merekomendasikan Mika sebagai calon penerima Anugerah Swacitta Nugraha 2026.

"Inovasi ini tidak hanya sekadar gagasan di atas kertas, tetapi memberi kemanfaatan konkrit. Kerjasama antara koperasi dan petani terbukti meningkatkan kualitas panen, menaikkan harga jual kopi Robusta Pupuan, serta membuka peluang ekowisata. Yang tidak kalah penting, inovasi ini merangkul generasi muda untuk menjaga potensi pertanian daerah secara berkelanjutan," ujar Ariantha.

Curated For You

Editorial Team

Related Article