Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Suhu Bali Naik, BMKG Imbau Warga Hindari Aktivitas Pemicu Api
Kebakaran TPA Suwung di Denpasar Selatan berlanjut (Dok.IDN Times/Basarnas Bali)
  • Suhu Bali sepekan terakhir mencapai 20–32 derajat Celsius, menandai puncak kemarau dengan tutupan awan minim, hujan sangat rendah, dan kelembapan udara kering.
  • Kondisi kering membuat vegetasi serta material organik cepat kehilangan kadar air dan sensitif terhadap sumber panas, termasuk di TPA Suwung yang kebakarannya berulang sejak 2018.
  • BMKG mengimbau warga menghindari aktivitas pemicu api di ruang terbuka dan memantau informasi resmi, karena angin kering dapat mempercepat rambatan api serta menyulitkan pemadaman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Suhu udara di Bali meningkat dalam sepekan terakhir menjadi sekitar 20–32 derajat Celsius, bersamaan dengan puncak musim kemarau dan peningkatan potensi kebakaran di area terbuka.
  • Who?
    BBMKG Wilayah III Denpasar melalui prakirawan Luh Eka Arisanti mengimbau warga Bali untuk mewaspadai kebakaran dan menghindari kegiatan yang dapat memicu api.
  • Where?
    Kondisi ini terjadi di Bali, termasuk Kota Denpasar. TPA Suwung di Denpasar juga mengalami kebakaran pada Sabtu, 22 Agustus 2026.
  • When?
    Pengukuran suhu dilakukan dalam sepekan terakhir, sementara penjelasan dan imbauan disampaikan Luh Eka Arisanti pada Selasa, 25 Agustus 2026, saat puncak musim kemarau.
  • Why?
    Minim tutupan awan, curah hujan sangat rendah, kelembapan udara kering, suhu tinggi, serta angin Monsun Australia membuat vegetasi dan material organik kering lebih mudah terbakar.
  • How?
    Angin kering yang lebih kencang dapat memasok oksigen, membawa bara, dan mempercepat perambatan api. Warga diminta menghindari pemicu api di ruang terbuka serta memantau informasi cuaca resmi BMKG.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Denpasar, IDN Times - Peristiwa kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung, pada Sabtu (22/8/2026), bukanlah kali pertama terjadi. 

Dalam pemberitaan yang telah dipublikasikan oleh IDN Times Bali, TPA yang telah beroperasi selama 42 tahun lebih ini pernah terbakar sejak 2018. Kejadian ini cenderung berulang saat musim kemarau menerjang Bali, termasuk Kota Denpasar.

Prakirawan Balai Besar Meteorologi Klimatologi (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Luh Eka Arisanti, menjelaskan bahwa suhu udara di Bali mengalami kenaikan, sepekan terakhir berkisar antara 20-32 derajat Celsius. Berikut informasi selengkapnya.

1. Kombinasi kemarau dengan minimnya tutupan awan sensitif terhadap sumber api

Ilustrasi kemarau di Bali. (IDN Times/Yuko Utami)

Kenaikan suhu di Bali ini berdasarkan pengukuran dari Stasiun Meteorologi Ngurah Rai, Stasiun Geofisika Sanglah, dan Stasiun Klimatologi Jembrana. Kondisi ini membuat Bali berada dalam periode puncak musim kemarau. 

“Karakteristik utama periode ini adalah minimnya tutupan awan, curah hujan yang sangat rendah, serta kelembapan udara yang relatif kering,” kata Eka Arisanti, pada Selasa (25/8/2026).

Kurangnya tutupan awan menyebabkan radiasi matahari langsung memanaskan permukaan bumi secara maksimal di siang hari. Eka Arisanti mengatakan kondisi ini dikombinasikan dengan kelembapan udara yang rendah. 

“Kondisi ini menyebabkan permukaan vegetasi maupun tumpukan material organik kering menjadi lebih rapuh dan cepat kehilangan kadar air, serta menjadi lebih sensitif terhadap sumber panas sekecil apa pun,” paparnya.

2. Embusan angin mempercepat perluasan titik api

Ilustrasi angin kencang (IDN Times/Sukma Sakti)

Selain itu, pada puncak kemarau, pergerakan angin Monsun Australia cenderung berembus lebih cepat dan bersifat kering. 

“Hembusan angin ini mempercepat penyebaran atau perluasan titik api jika timbul percikan panas di area terbuka,” kata Eka.

Berkaca dari situasi ini, pihaknya mengimbau watga untuk terus mewaspadai potensi kebakaran di tempat terbuka selama puncak musim kemarau. Ia menegaskan agar warga menghindari aktivitas memicu api di area terbuka, serta terus memantau pembaruan informasi cuaca resmi melalui kanal BMKG.

3. Pemadaman api cenderung lebih sulit saat kemarau dan berangin

Kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung pada Kamis (11/7/2024) (Dok.IDN Times/istimewa)

Ia menyebutkan, ketika kondisi musim seperti ini, biasanya suhu udara relatif tinggi, kelembapan rendah, dan kondisi vegetasi cenderung lebih kering, sehingga potensi kebakaran lebih mudah terjadi. Proses pemadaman pun menjadi lebih sulit.

“Kaitannya dengan pergerakan angin cukup signifikan, semakin kencang angin, api cenderung semakin cepat merambat karena angin memasok oksigen dan dapat membawa bara api ke area lain,” lanjutnya.

Arah angin juga menentukan arah perambatan api. Angin bertiup terus-menerus dapat menyebabkan api menjadi lebih sulit dikendalikan terutama area terbuka dengan vegetasi kering. 

“Sebaliknya jika angin lemah, penyebaran api relatif lebih lambat, meskipun kondisi kering tetap membuat potensi kebakaran tinggi pada musim kemarau,” kata dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article