Tidak sebatas gagasan, Wirata langsung mencoba merealisasikan rencananya. Awalnya ia mengumpulkan seluruh kotoran sapi dalam sebuah wadah. Selanjutnya didiamkan selama sebulan untuk proses fermentasi. Setelah itu kotoran sapi diayak supaya tidak menggumpak.
"Dengan diayak kotoran sapi menjadi tidak mengumpal seperti pasir. Sehingga mudah diaplikasikan ke tanaman," jelas Wirata.
Ia lalu menjual pupuk kandang hasil olahannya tersebut kepada warga sekitar. Ternyata di luar dugaan, peminat pupuk kandang buatannya lumayan tinggi. Ia bisa mendapatkan uang Rp25 ribu per sak berukuran 25 kilogram.
"Ternyata permintaan pupuk kandang ini cukup tinggi. Apalagi saat ini trend bercocok tanam cukup tinggi. Biasanya pupuk ini diberikan kepada tanaman di rumah seperti bunga-bungaan dan tanaman hias."
Wirata kini bergabung dalam Kelompok Swadaya Masyarakat Tri Eka Lestari di Desa Kamasan, Kabupaten Klungkung. Kelompok ini memang terbentuk sejak ada pandemik untuk pemberdayaan masyarakat. Kebanyakan anggotanya berasal dari warga yang kehilangan pekerjaan hingga petani.
"Kelompok ini mengolah sampah organik menjadi pupuk cair," terangnya.
Ia merasa terbantu dengan adanya kelompok ini. Karena ada wadah untuk memudahkan pemasaran. Hanya saja kesulitannya adalah mencari kotoran sapi sebagai bahan baku produksi pupuk kandang. Ia juga menyadari usahanya itu tidak bisa membantu kehidupannya secara penuh. Namun setidaknya bisa sedikit membantu saat situasi seperti sekarang.
"Perlu kerja sama dengan peternak sapi agar bisa meningkatkan produksi. Semoga dengan usaha ini, setidaknya sedikit bisa membantu kami yang kehilangan pekerjaan."