Potret Terkini Situasi Puncak TPA Suwung 17 April 2026

- Pemerintah Bali melonggarkan aturan pembuangan sampah organik, kini diizinkan dua kali seminggu pukul 08.00–20.00 Wita mulai Jumat, 17 April 2026.
- Situasi di TPA Suwung dipenuhi antrean truk dan kondisi lingkungan yang kotor serta berdebu, dengan warga sekitar masih mengais sampah untuk dijual kembali.
- Sopir truk seperti Yadi mengeluhkan kebijakan pemilahan sampah karena sulitnya membuang sampah organik dan meningkatnya beban kerja dalam proses pemilahan.
Denpasar, IDN Times - Aksi damai ratusan truk pengangkut sampah yang tergabung dalam Forum Komunikasi Swakelola Sampah Bali pada Kamis (16/4/2026) sejak pukul 11.05 Wita hingga 12.41 Wita memberikan kelonggaran aturan.
Sekretaris Forum Komunikasi Swakelola Sampah Bali, I Wayan Teddy Brahmancha, mengatakan pemerintah akhirnya melonggarkan kebijakan membuang sampah organik terpilah 2 kali seminggu mulai pukul 08.00–20.00 Wita mulai Jumat (17/4/2026). Lalu bagaimana situasi TPA Suwung hari ini?
Pantauan di lokasi pada Jumat siang, antrean truk yang mengangkut sampah ke TPA Suwung cukup panjang. Setiap pergerakan truk membuat debu-debu jalanan berterbangan dan mengganggu penglihatan dan pernapasan. Upaya pemeriksaan menuju lokasi pembuangan juga berjalan seperti biasanya.
Sementara itu, menyusuri puncak TPA Suwung pada Jumat siang terasa sangat tidak nyaman. Jalanan tanah yang bergelombang di tengah-tengah gunungan sampah yang sangat bau. Banyak sampah tak terpilah, dan kresek beterbangan.
Tepat di puncak TPA Suwung, berdiri beberapa gubug ala kadarnya tempat berteduh warga yang mengais sampah. Salah satu gubuk dimanfaatkan untuk berjualan minuman dan camilan.

Beberapa laki-laki sibuk menggotong sampah dalam karung yang masih bernilai ekonomis. Sementara para perempuan mengais barang-barang yang masih bisa didaur ulang. Mereka bekerja di tengah bau sampah yang menyengat dan suara bego yang mengeruk sampah dari truk.
Bisa dibayangkan bagaimana kesehatan mereka? Pemandangan teluk, lautan, jalan tol, hutan mangrove, dan suasana kota Denpasar terlihat jelas dari puncak TPA Suwung, titik yang paling bau di Bali.
Salah satu sopir truk pengangkut sampah, Yadi, mengaku sudah 3 tahun menjalani pekerjaan ini. Ia mengangkut sampah di Jalan Ahmad Yani Utara. Kebijakan soal pemilahan sampah diakuinya menyulitkan mereka karena jumlah sampah organik yang banyak dan tidak ada solusi pembuangan.
Pengambilan sampah sebelumnya ia lakukan setiap hari, namun sejak kebijakan pemilahan tersebut hanya ia lakukan 3 hari sekali. Sampah anorganik dan residu terpilah yang ia bawa sekitar 2 ton per harinya. Jika tidak dipilah, satu truk bisa mencapai 7 ton. Alasan ia tidak mengambil sampah organik adalah karena tidak ada tempat yang menerima sampah tersebut.
"Empat orang memilah di atas truk. Tiap buang dipilah, tiap naikin dipilah. Tiga hari milah, susahnya itu. Kasihan sama rakyat," ungkapnya.

















