Potret Pasar Kumbasari, Sepi Serupa Saat COVID-19

- Pasar Kumbasari di Denpasar tampak sepi menjelang Nyepi dan Idul Fitri, dengan hanya sedikit pembeli yang datang ke lapak-lapak penjual pakaian dan perabotan estetik.
- Pedagang seperti Kadek Adasa mengaku kesulitan menutupi biaya sewa lapak karena penjualan menurun drastis sejak awal 2026, bahkan situasinya disebut mirip masa pandemi COVID-19.
- Kondisi global yang tidak stabil membuat suplai kerajinan terbatas dan harga bahan baku naik, sementara pedagang tak bisa menaikkan harga karena daya beli pengunjung rendah.
Denpasar, IDN Times - Pasar Kumbasari terlihat sepi menjelang Nyepi dan Idul Fitri, pada Minggu (15/3/2026). Sentra buah tangan khas Bali di pusat Kota Denpasar ini menjual berbagai model baju, aksesori, perabotan estetik, dan sebagainya. Hanya satu hingga dua lapak berhasil menggaet pembeli.
Jumlahnya pun tak seberapa, satu lapak yang ramai hanya ada lima orang pembeli. Sementara lapak lainnya yang sepi berebut perhatian segelintir pengunjung dengan sapaan ramah. Pedagang berlomba-lomba menawarkan pengunjung agar setidaknya melihat-lihat dahulu dagangannya.
Pengunjung tidak perlu berdesakan, lorong Pasar Kumbasari terasa kosong dan lengang. Naik satu lantai dari lapak penjual pakaian, ada lapak penjual perabotan estetik bermaterial kayu, bambu, dan serat alami lainnya. Lapak penjual perabotan jauh lebih sepi dari lapak penjual pakaian. Tidak ada percakapan tawar-menawar, para pedagang ada yang duduk sambil tersenyum menyapa.
Seorang pedagang perabotan estetik, Kadek Adasa, tersenyum ramah sambil menawarkan dagangannya. Ada wadah sambal estetik dari kayu, keranjang anyaman, sumpit kayu, dan sebagainya. Kata Adasa, sebagian besar perabot estetik berbahan kayu itu didatangkan dari Jawa. Sementara anyaman berasal dari Kabupaten Gianyar dan Karangasem.
Kepada IDN Times, Adasa bercerita kondisi Pasar Kumbasari sepi sejak awal tahun 2026.
“Gini dah, ada satu dua (pengunjung) saja. Kalau dulu dagang-dagang gitu ya, tamu-tamu yang bisnis datang,” tutur Adasa.
Selama empat tahun berjualan di Pasar Kumbasari, perempuan asal Blahbatuh, Gianyar ini membayar Rp900 ribu per bulan untuk menyewa tiga blok lapak. Kala pembeli ramai, biaya lapak itu tidak membebani kantongnya. Namun, kondisi sepi saat ini membuatnya resah.
“Bayar lapak tiga blok Rp900 ribu, sekarang keadaan sepi, kalau pas ramai enak. Kalau pas sepi gini dah berpikir jadinya,” keluhnya.
Tahun 2025 lalu, beberapa wisatawan masih datang membeli perabotan estetik. Namun, saat ini keadaan sangat sepi. Kondisi global tidak stabil, membuat lapak Adasa menyepi. Adasa mengeluhkan kondisi saat ini serupa saat pandemik COVID-19.
“Tapi sekarang ini sudah memang benar-benar kayak Corona dulu,” kata dia.
Suplai kerajinan juga semakin terbatas, produsen menjaga produksi agar tidak berlebih. Sebab, kondisi pedagang kesulitan menjual produk. Satu sisi, Adasa mendengar keluhan pengrajin yang mengurangi produksi sebab bahan baku semakin mahal, tapi produk yang laku tidak seberapa.
“Karena sepi pengrajin buatnya gak semangat, bahan naik semua, sementara kita yang jual gak bisa naikin harga,” ujar Adasa sambil memegang kerajinan anyaman ate dari Karangasem.
Penjualan semakin sulit, sebab perabotan estetik bukan termasuk kebutuhan pokok. Adasa membandingkan Pasar Badung yang menjual berbagai kebutuhan pokok selalu ramai dibandingkan Pasar Kumbasari. Meskipun kondisi Pasar Kumbasari sepi, Adasa berusaha meyakinkan diri keadaan akan lebih baik.
“Jalani saja ya semuanya kena dampaknya, mudah-mudahan kembali normal. Jalani saja sebisanya,” ucap Adasa tegar.
Berlalu dari lapak Adasa, pedagang lainnya menyapa dengan ramah. Ada yang memohon agar gelang dan pernak-perniknya dibeli untuk kebutuhan hari suci Nyepi. Koleksi patung mini itu mulai berdebu, tapi semangat pedagang Pasar Kumbasari menyambung hidup terus menggebu.


















