Denpasar, IDN Times - Imbas kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan antrean yang panjang hingga lebih dari 2 kilometer di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) wilayah Denpasar, Badung dan Tabanan, juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbisnis Pertalite eceran.
Mereka menjual 6 sampai 7 kali lipat dari harga standar di SPBU, Rp 10 ribu. Masyarakat berinisial FH mengaku menjual pertalite dengan kisaran harga antara Rp70 ribu sampai Rp100 ribu per 1,5 liter.
Variasi harga tersebut bergantung pada permintaan. Tidak sampai setengah jam, sekitar 7 botol Pertalite kemasan 1,5 liter ludes terjual.
"Kami jualnya Rp70 tibu sampai Rp100 ribu, satu setengah liter," ungkapnga.
Bagaimana cara dia bisa memperoleh stok Pertalite di tengah kelangkaan dan antrean yang berjam-jam? Ternyata FH menggunakan mobil untuk mengantre di SPBU.
Dari kesabaran mengantre berjam-jam itu, ia memperoleh pasokan Pertalite meski dibatasi hanya 30 liter per mobil. Setelah itu FH menguras tangki mobil dan mengisinya ke dalam botol air mineral kemasan 1,5 liter untuk dijual.
Meski harganya berkali lipat, namun bagi sebagian orang, di situasi ini amat sangat membantu. Mereka tidak lagi mempertimbangkan harga jika dibandingkan dengan lamanya mengantre hingga 3-5 jam untuk bisa mengisi tangki kendaraannya. Apalagi antrean juga dhadapkan oleh cuaca di Bali panas dengan suhu mencapai 33 derajat hari ini, Rabu (14/10/2026).
"Malas saja mengantre. Jadi gak apa-apalah Rp100 ribu. Lagian udah gak kerja dua hari," ungkap Anis yang memilih beli Pertalite FH.
Hingga berita ini diturunkan, antrean kendaraan masih terlihat di SPBU Kreneng, Jalan Kamboja, Kota Denpasar.
