Denpasar, IDN Times - Selama ini Provinsi Bali dikenal mengandalkan pariwisata sebagai tumpuan ekonomi. Wisatawan mancanegara datang ke Bali untuk berlibur, bahkan tidak sedikit dari mereka yang memulai usaha pariwisata di kawasan Bali Selatan.
Praktik ini menjadi bom waktu yang berdampak terhadap lingkungan dan kehidupan sosial budaya warga Bali. Carut-marut efek pariwisata Bali adalah imbas dari peristiwa berdarah 1965. Pascagenosida terbesar di Bali itu, negara menggunakan berbagai cara untuk meninabobokan suara kritis warga. Menjual keindahan dan ketenangan alam.
Akademisi Antropologi, I Ngurah Suryawan, juga menyebutkan istilah kelas komprador yakni elit lokal yang berperan merusak warga sipil di Bali. Jejaring kapital ditambah dengan peran kelas komprador, membuat cara berpikir warga di Bali berfokus pada tantangan modal. Kita dibuat sibuk dengan urusan perut dan ritual, sementara kebijakan merugikan rakyat dan lingkungan terjadi di depan mata.
Pascaperistiwa 65, pembangunan bercorak pariwisata budaya semakin masif. Ini juga yang turut andil membentuk pemikiran orang di Bali setelahnya. Rasisme mengakar, tak heran banyak yang menuliskan di media sosial orang Bali hanya ramah kepada turis. Namun, ingat kembali ini adalah efek panjang atas peran negara dengan cokol kelas elit lokal hingga kapital.
![[OPINI] Bali Tidak Boleh Melupakan Peristiwa 65 dan Dampaknya](https://image.idntimes.com/post/20260810/81e11935-35b6-41e2-b910-dc624991a8bd_2b0a20c0-42b2-40ca-96fd-8db472014bf4_watermarked_idntimes-2.jpeg)