Neraca Ekspor Impor di Bali 2025 Tercatat Surplus Rp6,7 Triliun

Denpasar, IDN Times - Kondisi ekspor dan impor di Bali tercatat surplus USD401,50 juta atau sekitar Rp6,7 triliun tahun 2025. Angka tersebut berdasarkan pencatatan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali. Meskipun surplus, sederet komoditas ekspor di Bali mengalami penurunan. Ada lima negara dengan angka ekspor terbesar dari Bali, tapi hanya Jerman yang menunjukkan peningkatan.
Statistisi Ahli Madya BPS Bali, I Made Agus Adnyana, menjelaskan kebijakan geopolitik memberi kemungkinan pengaruh kondisi ekspor dan impor di Bali.
“Sebenarnya mungkin kalau secara teori itu mungkin ada pengaruh, tapi kita BPS belum melakukan risetnya sampai seperti itu. Kita baru baru mendapatkan data-datanya ini,” tutur Adnyana di Kantor BPS Bali, pada Senin (2/2/2026).
Empat negara tujuan utama ekspor Bali mengalami penurunan

Selama tahun 2025, ada lima besar negara yang menjadi tujuan ekspor Bali. Empat di antaranya mengalami penurunan yakni Amerika Serikat, Australia, Jepang, dan Tiongkok. Hanya Jerman menunjukkan kenaikan 18 persen lebih dengan komoditas ekspor berupa logam mulia dan perhiasan atau permata.
Sementara itu, dari lima komoditas ekspor utama Bali, hanya kategori kertas, karton, dan barang sejenis yang mengalami peningkatan sebesar 37 persen lebih. Sementara empat komoditas ekspor andalan Bali alami penurunan, seperti ikan, krustasea, dan moluska; logam mulia dan perhiasan atau permata; pakaian dan aksesorisnya (bukan rajutan); serta perabotan, lampu, dan alat penerangan.
Impor barang ke Bali juga mengalami penurunan

Kondisi impor barang ke Bali juga mengalami penurunan, meski penurunan komoditasnya tidak sebanyak komoditas ekspor Bali. Ada tiga komoditas impor dengan kenaikan tinggi. Mulai dari komoditas mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya, meningkat 5 persen lebih. Masih dengan komoditas yang sama, bedanya dari Tiongkok naik 9 persen lebih.
Sementara, Jerman dengan barang impor berupa logam mulia dan perhiasan atau permata naik 29 persen lebih. Hanya ada dua komoditas impor yang mengalami penurunan. Misalnya mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya dari Australia menurun hingga 15 persen lebih. Penurunan cukup dalam sebesar 32 persen lebih dialami komoditas logam mulia dan perhiasan atau permata yang diimpor dari Thailand.
Hubungan diplomatik dan perjanjian antarnegara

Adnyana menyampaikan pihaknya butuh riset lebih dalam untuk menelaah pengaruh kebijakan geopolitik terhadap kondisi ekspor dan impor di Bali.
“Itu perlu riset yang mendalam sih kaitannya antara ini dengan geopolitik, hubungan negara-negara dengan negara kita,” ujarnya.
Selain itu, Adnyana mengungkapkan penting untuk menelaah perjanjian internasional maupun perdagangan yang disepakati Indonesia dengan negara-negara asing. Ia mencontohkan seperti tarif ekspor yang memungkinkan adanya pengaruh terhadap kondisi ekspor impor Indonesia, khususnya Bali.

















