Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Makna Catur Asrama, Tahapan Kehidupan dalam Ajaran Hindu

Ilustrasi keluarga. (unsplash.com/Natalya Zaritskaya)
Ilustrasi keluarga. (unsplash.com/Natalya Zaritskaya)

Dalam setiap kehidupan manusia terdapat tahapan atau jenjang kehidupan. Dimulai dari manusia lahir, bertumbuh, hingga meninggal dunia. Dalam ajaran Hindu, tahapan kehidupan ini disebut dengan Catur Asrama.

Setiap umat Hindu wajib memahami Catur Asrama agar mencapai kehidupan yang lebih baik. Apa itu Catur Asrama? Berikut penjelasan dan bagian-bagiannya yang dikutip dari jurnal berjudul Ajaran Catur Asrama Perspektif Konsepsi Hidup untuk Mencapai Tujuan Hidup yang ditulis oleh I Nyoman Subrata.

1. Makna dari Catur Asrama

ilustrasi saat bayi lahir
ilustrasi saat bayi lahir (pixabay.com/makingup)

Catur Asrama terdiri dari dua kata, catur dan asrama, yang berasal dari Bahasa Sanskerta. Catur artinya empat, sedangkan asrama artinya tahapan atau jenjang. Catur Asrama memiliki makna empat tahapan kehidupan yang harus dilalui oleh umat manusia untuk mencapai kesempurnaan atau moksha.

Tiap tingkatan atau asrama ini memiliki tugas atau kewajiban yang berbeda-beda. Namun, masing-masing tahapan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Catur Asrama terdiri dari empat tahapan yaitu Brahmacari Asrama, Grahasta Asrama, Wanaprastha Asrama, dan Bhisuka.

2. Brahmacari Asrama

Ilustrasi belajar daring. (pixabay.com/sasint)
Ilustrasi belajar daring. (pixabay.com/sasint)

Brahmacari Asrama adalah masa menuntut ilmu pengetahuan yang dimulai sejak manusia lahir. Pada masa ini, setiap umat memiliki tugas untuk mencari ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya sebagai bekal untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya. Brahmacari dapat dibagi menjadi tiga yaitu:

  • Sukla Brahmacari yaitu seseorang yang memutuskan untuk tidak menikah seumur hidupnya
  • Sewala Brahmacari yaitu seseorang yang menikah hanya sekali seumur hidupnya
  • Kresna Brahmacari yaitu seseorang yang menikah lebih dari sekali karena beberapa sebab seperti istri tidak dapat memberikan keturunan, sakit-sakitan, cerai, atau meninggal dunia.

3. Grahasta Asrama

Ilustrasi menikah. (Pixabay.com/Pexels)
Ilustrasi menikah. (Pixabay.com/Pexels)

Tahap selanjutnya adalah Grahasta Asrama, masa atau tahapan seseorang berumah tangga. Pada masa ini, setiap umat memiliki beberapa kewajiban seperti mendapatkan keturunan, membina rumah tangga, serta mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Penghasilan atau sering disebut Artha ini, harus didapatkan sesuai dengan ajaran Hindu atau Dharma.

Selain itu, setiap umat juga memiliki kewajiban untuk melaksanakan Panca Yadnya (lima persembahan suci) yaitu Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya, Manusia Yadnya, Pitra Yadnya, dan Rsi Yadnya. Dengan Artha yang dimilikinya, setiap orang bisa menggunakan sebagian dari Artha tersebut untuk melaksanakan yadnya sebagai keseimbangan dalam masa ini.

4. Wanaprastha Asrama

Ilustrasi pendeta Hindu. (unsplash.com/Nova Kusady)
Ilustrasi pendeta Hindu. (unsplash.com/Nova Kusady)

Wanaprastha terdiri dari dua kata,, yaitu wana dan prastha yang berasal dari Bahasa Sanskerta. Wana memiliki makna pohon atau hutan, sedangkan prastha bermakna doa dengan baik atau berjalan. Wanaprastha merupakan tahap seseorang yang sudah mulai meninggalkan atau melepaskan diri dari ikatan keduniawian. Bisa dikatakan masa ini adalah masa peralihan dari kehidupan yang masih bersifat keduniawian dengan tanggung jawab kepada keluarga menuju masa pengasingan diri.

Pada masa ini, seseorang berusaha untuk mencari ketenangan dan kedamaian dengan melepaskan hubungan dengan keluarga dan mulai mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Namun, bukan berarti seseorang pada masa ini pergi mengasingkan diri ke hutan untuk menyendiri. Melainkan lebih kepada berusaha menjalani hidup ke arah spiritual dengan lebih memperdalam ajaran Hindu. Biasanya masa ini dimulai saat seseorang berusia 60 tahun ke atas.

5. Bhiksuka Asrama

Ilustrasi seorang bhiksu.
Ilustrasi seorang bhiksu. (Pixabay.com/MahamevnawaMahaviharaya)

Bhiksuka berasal dari kata bhiksu yang merupakan sebutan pendeta bagi umat Buddha. Bhiksuka Asrama juga sering disebut dengan Sanyasin Asrama. Dalam masa ini, seseorang benar-benar terlepas dari keterikatan duniawi.

Ia hanya mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk mencapai tujuan hidup yaitu moksha. Seseorang yang telah mampu mencapai tahap Bhiksuka telah mengalahkan beberapa hal-hal buruk yang ada dalam diri manusia seperti Sad Ripu (enam musuh yang ada dalam diri manusia), Sapta Timira (tujuh kegelapan dalam diri manusia), serta Sad Atatayi atau enam macam pembunuhan kejam.

Itulah pengertian dan bagian dari Catur Asrama yang wajib diketahui oleh umat Hindu. Pada masa sekarang, tahapan Wanaprastha dan Bhiksuka terasa sangat sulit diterapkan karena banyaknya godaan dalam kehidupan. Kedua tahap ini memang memerlukan keinginan yang kuat, tulus, dan ikhlas dalam menjalankan kewajiban pada tahap tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest News Bali

See More

Hujan Lebat Picu Longsor di Desa Duda, Akses Jalan Sempat Lumpuh

02 Feb 2026, 14:50 WIBNews