Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Meutya Hafid Proyeksikan Ekonomi Digital RI Tembus 600 Miliar USD
Kegiatan Bali Tech Week (BTW) 2026 di Sanur, pada Senin (19/10/2026) siang. (Dok.IDN Times/istimewa)
  • Menkomdigi Meutya Hafid menargetkan ekonomi digital Indonesia dapat mencapai 600 miliar dolar AS melalui kerja sama DEPA, dari proyeksi 360 miliar dolar AS pada 2030 tanpa dorongan kolaborasi.
  • Garuda Spark Innovation Hub telah menjalankan 178 program, melatih lebih dari 15.000 talenta, membina 80 startup, dan mencatat investasi langsung Rp429,5 miliar dalam dua tahun.
  • Komdigi menargetkan koneksi 100 Mbps pada 2029 melalui frekuensi 1,4 GHz, 700 MHz, dan 2,6 GHz, sekaligus memperluas akses 5G hingga pelosok desa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Komdigi menargetkan ekonomi digital Indonesia mencapai sekitar 600 miliar dolar AS melalui kerja sama Digital Economy Framework Agreement.
  • Who?
    Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Viada Hafid, Komdigi, pelaku ekosistem digital, operator telekomunikasi, serta Kementerian ESDM terlibat dalam program dan target tersebut.
  • Where?
    Pernyataan disampaikan dalam Bali Tech Week 2026 di Sanur, Denpasar. Program Garuda Spark Innovation Hub telah dikembangkan di 10 kota besar.
  • When?
    Meutya Hafid menyampaikan target itu pada Senin, 19 Oktober 2026. Target kecepatan koneksi 100 Mbps dipasang untuk 2029, sedangkan proyeksi ekonomi digital disebut untuk 2030.
  • Why?
    Komdigi mendorong kerja sama digital, penguatan talenta, insentif industri, dan peningkatan konektivitas agar pertumbuhan ekonomi digital Indonesia tidak ditentukan negara atau perusahaan teknologi lain.
  • How?
    Komdigi menjalankan Garuda Spark, menyiapkan insentif, memanfaatkan frekuensi 1,4 GHz, 700 MHz, dan 2,6 GHz, serta menjajaki berbagi infrastruktur listrik untuk memperluas 5G hingga desa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Denpasar, IDN Times - Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Menkomdigi), Meutya Viada Hafid, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi digital dua kali lipat dengan kesepakatan perjanjian ekonomi digital atau Digital Economy Framework Agreement (DEPA) sekitar 600 miliar USD.

Neski demikian, ia menegaskan angka-angka tersebut tidak boleh dijadikan satu-satunya tolok ukur pertumbuhan ekonomi kawasan. Indonesia juga telah mengembangkan Garuda Spark Innovation Hub di 10 kota besar dan diharapkan berkembang lebih pesat dalam 3 tahun ini.

"Ekonomi digital Indonesia 99 miliar USD pada 2025. Jadi ini memang terbesar di kawasan. Untuk 2030, laporan ini memproyeksikan 360 miliar USD. Itu kalau tidak kita dorong dengan kerja sama DEFA," ungkapnya dalam kegiatan Bali Tech Week (BTW) 2026 di Sanur, pada Senin (19/10/2026).

1. Indonesia harus berdaulat dalam penguatan talenta digital

Kegiatan Bali Tech Week (BTW) 2026 di Sanur, pada Senin (19/10/2026) siang (Dok.IDN Times/istimewa)

Meutya Hafid mengatakan dalam 2 tahun ini, Garuda Spark Innovation Hub telah menjalankan 178 program, melatih 15.000 lebih talenta digital, membina 80 startup, melibatkan 80 mitra dari berbagai unsur dengan investasi langsung melalui Garuda Spark mencapai Rp429,5 miliar.

"Ini angka yang kita angka dasar yang kita harapkan, ke depan akan lebih besar lagi," jelasnya.

Selain itu, industri gim juga akan meramaikan Bali Tech Week. Tercatat sebanyak 339 studio gim dari 60 publisher dari seluruh dunia yang akan hadir dalam kegiatan ini. Ia menyebutkan bahwa Indonesia perlu meyakini bahwa kecepatan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia tidak boleh ditentukan oleh negara lain atau perusahaan teknologi. Indonesia harus bisa menentukan sendiri secara berdaulat berdasarkan kapasitas SDM termasuk energi.

"Kami akan coba lagi berdiskusi untuk memberikan insentif, karena memang industri digitalisasi yang cepat ini membuat banyak disrupsi yang memang menjadi tantangan bagi teman-teman yang bergerak di perusahaan teknologi, sehingga insentif dari pemerintah akan sangat penting untuk juga mempercepat transformasi digital di tanah air," jelasnya.

2. Komdigi memasang target koneksi 100 Mbps di 2029

ilustrasi sinyal wifi (freepik.com/freepik)

Inovasi harus mampu melindungi masyarakat dan juga melindungi perusahaan-perusahaan dengan memberikan kepastian regulasi. Komdigi menyebut telah menghubungkan 235 juta penduduk Indonesia bersama teman-teman ekosistem atau telah terjadi penetrasi mencapai 81,72 persen.

Komdigi juga telah menjangkau 98,96 persen populasi dengan koneksi jaringan 4G. Saat ini, kecepatan rata-rata sekitar 84 Mbps, sementara fix broadband mencapai 67 Mbps. Komdigi sendiri memasang target 100 Mbps pada 2029. Artinya, konektivitas ini harus diikuti oleh kualitas yang lebih baik, khususnya dari sisi kecepatan dan juga inklusivitas.

"Tugas utama kita tidak lagi hanya membangun konektivitas di Indonesia, tapi juga memastikan konektivitasnya, juga terjuwantahkan dalam sebuah pertumbuhan, baik itu ekonomi, juga masyarakatnya dan juga bagaimana layanan publik bisa diperbaiki dan juga terakhir tidak ada pertumbuhan ekonomi yang layak dikejar kalau tidak ada keterjagaan," terangnya.

3. Pemerintah memaksimalkan akses 5G ke pelosok desa

Menara jaringan 5G (commons.wikimedia.org/Fabian Horst)

Untuk mencapai target tersebut, sejumlah langkah telah diambil di antaranya melepaskan pemanfaatan frekuensi 1,4 GHz yang merupakan teknologi baru, fixed wireless access. Upaya ini diungkapnya sesuai arahan Presiden RI, Parbowo Subianto, untuk membuat konektivitas yang murah.

Dengan 1,4 GHz tersebut, Komdigi berharap kecepatan mencapai 100 Mbps dengan harga yang dapat ditekan antara Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per bulan.

Selain itu juga melakukan pemanfaatan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz, dimana pemerintah telah menetapkan kewajiban pembangunan meluas dari pelepasan spektrum ini kepada para operator agar 5G dapat menjangkau hingga ke pelosok-pelosok desa.

Komdigi bersama dengan Kementerian ESDM juga melakukan penjajakan program listrik masuk desa. Di mana saat ini sedang membicarakan co-sharing sehingga pemanfaatan infrastruktur listrik juga dapat dimanfaatkan untuk infrastruktur telekomunikasi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article