Bahlil Soroti Impor BBM 1 Juta Barel per Hari, Apa Solusinya?

- Indonesia mengonsumsi 1,6 juta barel energi per hari, sementara lifting 600 ribu barel, sehingga masih mengimpor 1 juta barel per hari di tengah risiko krisis energi global.
- Pemerintah menyoroti hilirisasi sebagai pencipta nilai tambah: ekspor nikel naik dari 3,3 miliar dolar AS pada 2017-2018 menjadi 34 miliar dolar AS pada 2023.
- Sebanyak 28 komoditas hilirisasi ditargetkan menarik investasi 618 miliar dolar AS hingga 2040, mencakup mineral, migas, pertanian, perikanan, dan kelautan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Denpasar, IDN Times - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinasi Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi saat ini fokus pada kedaulatan energi dan hilirisasi. Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia, mengatakan persoalan energi saat ini menjadi hal yang penting ketika negara Indonesia berfokus pada hilirisasi. Instrumen hilirisasi sendiri adalah industrialisasi yang membutuhkan komponen energi.
Indonesia saat ini diungkap mencatat konsumsi energi sebesar 1,6 juta barel per hari, serta lifting sebesar 600 ribu barel per hari. Untuk menutupi kebutuhan tersebut, Indonesia masih harus impor sebesar 1 juta barel per hari. Terutama produk dengan RON 90 atau Pertalite saat ini masih berada di Singapura, stok ini diungkapnya masih dalam jumlah yang banyak namun perlu penataan.
"Kita tahu bahwa kondisi global tidak dalam kondisi baik-baik saja. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah itu terjadi terus-menerus. Perang antara Ukraina dan Rusia juga kita tidak pernah tahu kapan berakhir. Terakhir ketegangan politik antara beberapa kelompok bersenjata di Timur Tengah dengan Arab Saudi. Apa dampaknya? Ini dampaknya kepada ekonomi global. Termasuk persoalan krisis energi dunia," ungkapnya.
1. Indonesia memiliki banyak komoditas ekspor

Ilustrasi Tambang Nikel. (IDN Times/Anjani Asra) Menurut Bahlil, Indonesia tidak bisa mengesampingkan sejarah di mana banyak negara luar yang kecanduan dengan komoditas atau bahan baku dari Indonesia. Contoh sederhana menurutnya adalah eksor nikel yang telah dilakukan pada tahun 2017-2018 senilai 3,3 miliar USD, sementara sebanyak 43 persen cadangan Nikel dunia berada di Indonesia. Ketika Indonesia menyetop ekspor Nikel, ekspor pada 2023 mencapai 34 miliar USD.
"Saya targetkan di tahun 2026 itu harus melebihi 40 miliar USD. Mungkin sekitar kurang lebih 45 sampai 50 miliar USD. Ini adalah sebuah langkah maju untuk bagaimana menciptakan nilai tambah terhadap komoditas kita," terangnya.
2. Trader luar negeri menjadi tantangan Indonesia menentukan harga

Ilustrasi Tambang Timah. (IDN Times/Anjani Asra) Selain Nikel, Indonesia juga memiliki Bauksit, Timah, dan Batubara. Ia menyayangkan harga Batubara justru tidak dikendalikan oleh Indonesia. Total kebutuhan batubara dunia tercatat sekitar 8,9 miliar ton. Sebanyak 1,3 miliar diperdagangkan pada tahun 2025. Dari jumlah tersebut, Indonesia menyuplai kurang lebih sekitar 540 juta ton atau setara dengan 43 persennya.
"Masalahnya adalah harganya ditentukan bukan oleh Indonesia. Harganya ditentukan oleh para trader yang bermain di luar negeri. Saya katakan kalau seperti ini terus, ini yang pintar dan yang bodoh siapa?" ungkapnya.
3. Indonesia mengambil kebijakan untuk produk SDA

Ilustrasi Tambang Batu Bara. (IDN Times/Anjani Asra) Indonesia telah mengubah kebijakan sejak 2026. Bahlil menyebutkan satu-satunya instrumen negara untuk mengontrol harga komoditas dunia yang bersumber mayoritas dari Indonesia adalah RKAB.
Pemerintah fokus memperhatikan supply and demand, tidak mau lagi diperbodoh lagi. Sikap Indonesia ini diyakini Bahlil mengusik ketenangan para trader di luar negeri yang selama ini telah nyaman dan dimanjakan dengan sistem lama.
"Berapa kebutuhan dunia yang kita lakukan sesuai dengan produksi kita. Dan hari ini tercatat harga Batubara mencapai 154 dolar per metrik ton. Terbesar pasca 2023," ungkapnya.
4. Hilirisasi menyentuh angka 618 miliar USD

ilustrasi tambang tembaga (pexels.com/Tom Fisk) Pemerintah Indonesia telah meletakkan 28 komoditas hilirisasi dengan total investasi kurang lebih sekitar 618 miliar USD sampai dengan 2040. Menurutnya, hal tersebut menjadi trigger pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk didorong mencapai sekitar di atas 6 persen sampai dengan 8 persen.
" Kita harus melakukan transformasi pertumbuhan dari konsumsi kepada sesuatu yang produktif. Nilai tambah adalah sesuatu kata kunci untuk bagaimana meningkatkan competitiveness kita. Dan di sektor hilirisasi ini tidak hanya kita berbicara pada sektor mineral Batubara, tapi juga di sektor migas, di sektor pertanian, perikanan dan kelautan," paparnya.



















