Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bahlil Ingatkan Data Center Boros Energi, Investor Diminta Berbagi

Kota Denpasar
4 min read
Bahlil Ingatkan Data Center Boros Energi, Investor Diminta Berbagi
Menteri Koordinasi Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia, bersama dengan Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Menkomdigi), Meutya Viada Hafid, membuka langsung kegiatan Bali Tech Week (BTW) 2026 di Sanur pada Senin (19/10/2026) siang (Dok.IDN Times/istimewa)
  • Bahlil menyebut data center sangat boros listrik dan air, sehingga Indonesia menyiapkan hub di Batang, Karimun, dan Bintan dengan dukungan energi terbarukan.
  • Pemerintah membidik peluang investasi data center berbasis energi baru terbarukan, dengan target tambahan kapasitas listrik 69,5 GW pada 2025–2034 dan PLTS sekitar 100 GW peak.
  • Bahlil meminta investor data center berbagi peran dengan pengusaha lokal karena kebutuhan listrik diperkirakan mencapai 20 GW, di tengah biaya energi terbarukan yang masih lebih mahal daripada fosil.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Denpasar, IDN Times - Menteri Koordinasi Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia, bersama Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Menkomdigi), Meutya Viada Hafid, membuka langsung kegiatan Bali Tech Week (BTW) 2026 di Sanur, Kota Denpasar, pada Senin (19/10/2026) siang.

Dalam kesempatan tersebut, Bahlil mengatakan bahwa digitalisasi memberikan dampak baik dan buruk terhadap persoalan perekonomian dunia maupun krisis energi dunia. Ada kaitan antara energi dan digital, di mana hampir semua dunia akan membutuhkan sebuah produk yang green energy dan green industry.

"Di beberapa kawasan industri sekarang yang kita dorong, beberapa PSN yang mempergunakan teknologi tinggi, itu selalu juga kita membutuhkan tentang data-data yang lebih akurat. Nah, mungkin Ibu Menteri, saran saya, kita penting untuk melakukan kolaborasi yang baik dengan pelaku-pelaku industri digital yang bisa kita konekkan dengan industri-industri besar. Ini yang bisa kita lakukan untuk ke depan," terangnya.

  1. 1. Data center membutuhkan banyak sekali energi

    ilustrasi energi (IDN Times/Aditya Pratama)
    ilustrasi energi (IDN Times/Aditya Pratama)

    Data center disebutnya membutuhkan banyak sekali energi, dan di beberapa negara sudah mulai melakukan moratorium. Pertama karena harga listrik yang luar biasa, dan kedua membutuhkan air yang tidak sedikit. Menghadapi hal tersebut, Indonesia mulai merencanakan pembangunan hub baru yaitu antara Batang, Karimun, dan Bintan. Dipilihnya daerah tersebut dikarena beberapa pertimbangan yang dinilai mendukung kebutuhan tersebut.

    "Di Indonesia sendiri, kita akan menata ini dengan baik. Kita coba dorong ke sana. Kenapa harus kita dorong di sana? Karena pertama adalah kebutuhan airnya masih sangat besar. Yang kedua, penduduknya tidak sepadat seperti di Jawa Barat atau di Jakarta ataupun di Bali. Dan yang ketiga, adalah kita dorong untuk energi baru terbarukan. Kita akan membangun sekarang PLTS kurang lebih sekitar 100 GW peak," jelasnya.

  2. 2. Indonesia bidik peluang data center yang memakai energi baru terbarukan

    ilustrasi data center (pexels.com/Christina Morillo)
    ilustrasi data center (pexels.com/Christina Morillo)

    Ia yakin, para investor juga akan senang memakai data center yang memakai energi baru terbarukan, sehingga Indonesia ingin memanfaatkan peluang bisnis tersebut. Dalam rangka mendorong bauran energi, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Indonesia di 2025 sampai 2034 ditarget terjadi penambahan kurang lebih sekitar 69,5 GW. Dari 69,5 GW tersebut, sebanyak 70 persennya memakai energi bauran, yakni energi baru terbarukan.

    "Di luar 100 GW peak. Nah, ini yang harus kita lakukan dengan baik. Hilirisasi energi ini akan bisa kita lakukan secara maksimal kalau disertai dengan teknologi yang baik. Industrialisasi yang handal sekarang, yang kompetitif, yang efisien itu memakai teknologi. Dan teknologi merupakan bagian daripada industri digital yang bisa kita konekkan langsung," jelasnya.

  3. 3. Investasi data center harus melibatkan pengusaha lokal

    potret ilustrasi energi terbarukan (Pexels.com/Singkham)
    potret ilustrasi energi terbarukan (Pexels.com/Singkham)

    Permintaan terhadap data center di Indonesia saat ini membutuhkan penambahan 20 GW, atau sekitar 20 persen dari total listrik yang existing saat ini. Jumlah ini, menurut Bahlil cukup besar, sehingga memerlukan koordinasi lintas kementerian untuk wilayah pembangunan data center agar suplai energi bisa dilakukan langsung.

    Alasannya, data center merupakan investasi berteknologi tinggi yang berdampak luar biasa kepada masyarakat, namun penerimaan tenaga kerjanya sedikit. Atas situasi tersebut, Bahlil mempertegas akan membuat regulasi yang saling menguntungkan.

    "Saya meminta nantinya, silakan teman-teman investor mendatangkan teknologi untuk membangun data center, tapi harus sharing dengan pengusaha lokal. Jangan juga semuanya dikerjain oleh mereka sendiri. Mau jadi apa negara ini? Kita butuh sinergi yang positif. Jangan semuanya diborong," tegasnya.

  4. 4. Tantangan penerapan energi baru terbarukan

    ilustrasi alokasi uang  (vecteezy.com/Srinrat Wuttichaikitcharoen)
    ilustrasi alokasi uang (vecteezy.com/Srinrat Wuttichaikitcharoen)

    Bahlil mengatakan bahwa cost untuk mendapatkan energi baru terbarukan jauh lebih mahal ketimbang memakai fosil. Negara-negara maju saat ini mendorong negara berkembang untuk meninggalkan energi fosil menuju energi baru terbarukan. Net zero emission, merupakan konsensus yang dilakukan secara global melalui Paris Agreement akan tetapi beberapa negara disebutnya telah keluar dari komitmen tersebut.

    "Beberapa negara yang maju, negara-negara G7, memaksa negara-negara berkembang untuk harus meninggalkan energi fosil, meninggalkan batubara, meninggalkan energi-energi yang bersumber dari fosil itu untuk menuju kepada energi baru terbarukan," jelasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More