Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Wisman ke Bali Diproyeksi Lampaui Capaian Tahun Lalu, Capai 7,2 Juta Orang

Kab. Badung
3 min read
Wisman ke Bali Diproyeksi Lampaui Capaian Tahun Lalu, Capai 7,2 Juta Orang
Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali (Dok.IDN Times/istimewa)
  • Kunjungan wisman Bali hingga 30 September 2026 mencapai 5,2 juta, dengan proyeksi akhir tahun 7,1-7,2 juta, melampaui 7,05 juta kunjungan pada 2025.
  • Gubernur Wayan Koster menegaskan adat, tradisi, seni, dan budaya menjadi daya tarik utama Bali yang harus dijaga pelaku pariwisata, bukan sekadar dieksploitasi demi keuntungan ekonomi.
  • Pariwisata menyumbang sekitar 66 persen ekonomi Bali dan devisa Rp176 triliun; pemerintah juga menyoroti layanan ilegal di OTA yang mengganggu persaingan usaha adil.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Badung, IDN Times - Gubernur Bali, Wayan Koster memproyeksikan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali sepanjang 2026 mencapai 7,1 juta hingga 7,2 juta kunjungan. Jumlah ini disebutnya melampaui capaian tahun sebelumnya dengan situasi Bali di tengah dinamika geopolitik global. Pariwisata Bali dinilai tetap menunjukkan kinerja positif dan menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah.

Menurutnya dari Januari sampai 30 September 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sudah mencapai 5,2 juta. Angka ini meningkat secara year-on-year dibanding periode sama pada 2025.

"Kalau saya perkirakan berdasarkan data yang ada, sampai akhir tahun ini jumlah kunjungan wisman akan melampaui capaian 2025 yang mencapai 7.050.000 kunjungan. Perkiraannya sekitar 7,1 juta hingga 7,2 juta kunjungan," ungkapnya dalam Musyawarah Daerah (Musda) XV Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Bali Tahun 2026 pada Jumat (16/10/2026).

  1. 1. Pariwisata Bali masih mengandalkan adat, tradisi dan budaya

    Bandara Bali
    Peringatan Hari Anak di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali (Dok.IDN Times/istimewa)

    Menurut Koster, capaian tersebut tidak terlepas dari keunggulan Bali yang memiliki kekayaan adat, tradisi, seni, dan budaya sebagai daya tarik utama pariwisata. Oleh karenanya, ia mengingatkan seluruh pelaku industri pariwisata agar tidak semata-mata mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan merawat keunggulan Bali.

    “Kita harus bersyukur bahwa Bali yang kecil ini diberkati dengan keunggulan adat, tradisi, dan budaya. Inilah yang membuat Bali memiliki daya tarik yang kuat sehingga dicintai dan dikagumi oleh masyarakat dunia. Karena itu, kita harus tahu bagaimana cara membangun, menjaga, dan merawat pariwisata Bali,” jelasnya.

  2. 2. Kontribusi pariwisata Bali pada perekonomian nasional capai 45 persen

    Bandara Bali
    Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali (IDN Times/Ayu Afria)

    Lebih lanjut, Koster juga menyoroti besarnya kontribusi pariwisata Bali terhadap perekonomian daerah maupun nasional. Ia menyebutkan sektor pariwisata berkontribusi sekitar 66 persen terhadap perekonomian Bali. Sementara itu, hampir 45 persen dari total kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia tercatat menuju Bali. Dengan rata-rata pengeluaran wisatawan sekitar 122 dolar AS per hari, kontribusi devisa pariwisata Bali diperkirakan mencapai Rp176 triliun atau sekitar 55 persen dari total devisa pariwisata nasional.

    “Pulau kecil ini berkontribusi besar terhadap devisa pariwisata Indonesia. Hal ini terus saya angkat dan sampaikan agar ada skema kebijakan nasional yang turut memperhitungkan dan mempertimbangkan besarnya kontribusi Bali terhadap sektor kepariwisataan,” ungkapnya.

  3. 3. Pemerintah mulai membangun ekosistem usaha yang sehat

    Sanur
    Pelepasan tukik di Pantai Sanur (IDN Times/Ayu Afria)

    Selain menyoroti capaian kunjungan wisatawan, Koster menegaskan pentingnya membangun ekosistem usaha pariwisata yang sehat, tertib, dan berkeadilan. Ia mengingatkan pertumbuhan industri pariwisata harus diikuti dengan kepatuhan terhadap regulasi agar seluruh pelaku usaha memiliki kesempatan bersaing secara adil.

    Koster menyoroti masih adanya akomodasi dan fasilitas pariwisata yang dipasarkan tanpa memenuhi ketentuan perizinan, termasuk melalui platform perjalanan daring atau online travel agent (OTA). Praktik tersebut dinilai berpotensi menciptakan persaingan usaha yang tidak sehat dan merugikan pelaku usaha yang telah memenuhi kewajiban perizinan serta ketentuan lainnya.

Share Article
Topics
Editorial Team

Related Articles

See More